Suara.com - Tak hanya dikenal sebagai bos skincare, Mira Hayati juga mendapat julukan "wanita emas" lantaran kerap terlihat memamerkan koleksi perhiasannya yang mentereng.
Salah satu koleksi emas yang paling mencolok tentu saja tas emas Mira. Tak tanggung-tanggung, pebisnis kelahiran tahun 1995 itu dibanderol sampai lebih dari Rp500 juta.
Namun kini masa depannya terancam dengan hukuman 12 tahun penjara karena sudah dijadikan tersangka skincare berbahaya karena positif mengandung merkuri.
Kabar yang turut digaungkan oleh Nikita Mirzani ini seketika menjadi perbincangan. Tidak hanya menyorot Mira, belakangan sosok suaminya pun ikut membuat publik penasaran.
Lantas seperti apa sosok suami Mira Hayati dan apa pekerjaannya?
Dilansir dari berbagai sumber, suami Mira Hayati bernama Farhan tetapi juga kerap disapa Pak Bos. Konon Farhan merupakan suami kedua Mira yang kini tidak ditahan pihak kepolisian meski sudah menjadi tersangka.
Farhan dan Mira disebut melangsungkan pernikahan pada tahun 2020. Mereka lalu hidup bahagia bersama 4 anak mereka, yakni dua perempuan dan dua laki-laki.
Sempat beredar kabar bahwa suami Mira adalah seorang pejabat, tetapi ternyata Farhan berprofesi sebagai pengusaha. Sayangnya tidak terungkap usaha apa yang dikelola oleh Farhan.
Pertemuan Farhan dan Mira sendiri terjadi melalui salah satu aplikasi transportasi. "Tahun 2020, dulu kan suka jalan-jalan, abis itu ketemu, tiga bulan langsung menikah," tutur Mira.
Baca Juga: Mira Hayati Jadi Tersangka Skincare Merkuri, Padahal Omzetnya Mencapai Rp 10 Miliar Per Bulan
"Namanya jodoh enggak ada yang tahu, akhirnya dari situ, ambil nomor WhatsApp habis itu akhirnya memutuskan untuk saya dilamar," lanjutnya.
Pernikahan ini pula yang menjadi cikal-bakal perkembangan bisnis skincare MH Miracle Whitening Skin yang berdiri tahun 2020. Produk ini pula yang kini dipermasalahkan akibat mengandung merkuri.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik
-
Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik
-
BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tak Saling Salahkan soal Asap Karhutla