Suara.com - Kanker kolorektal merupakan penyakit yang menyerang usus besar (kolon) dan bagian akhir dari usus besar (rektum). Penyakit ini umumnya diderita individu berusia di atas 40 tahun.
Penyakit ini sering kali ditandai dengan perubahan pola BAB, nyeri BAB, mual muntah, berat badan turun, nafsu makan hilang, anemia, nyeri perut kanan atas, hingga kelelahan.
Dikutip dari data Globocan 2012, kanker kolorektal merupakan keganasan ketiga terbanyak di dunia dan penyebab kematian kedua terbanyak di Amerika.
Sementara itu, kasus kanker kolorektal di Indonesia terjadi pada 12,8 per 100.000 penduduk usia dewasa dengan mortalitas 9,5% dari seluruh kasus kanker.
Kini, situasi yang cukup mengkhawatirkan muncul di Singapura. Terjadi peningkatan kasus kanker kolorektal pada kelompok usia yang lebih muda, termasuk generasi Z alias Gen Z.
Menurut Dawn Chong, seorang konsultan senior di divisi onkologi medis sebuah klinik di Singapura, keterlambatan diagnosis sering terjadi pada pasien muda yang menderita kanker kolorektal.
Dikutip dari The Straits Times pada Rabu (16/4/2025), salah satu contohnya adalah Tan. Ia merupakan seorang warga Singapura berusia 45 tahun yang didiagnosis dengan kanker kolorektal.
Awalnya, ia mengira mengalami gejala wasir karena tinjanya berdarah. Usai dua hingga tiga bulan, Tan baru berkonsultasi dengan dokter umum yang juga memberikan resep obat wasir.
Setelah beberapa kali mengunjungi dokter umum tanpa ada kemajuan, Tan akhirnya menemui dokter spesialis. Hasil kolonoskopi menunjukkan adanya tumor di rektumnya.
Baca Juga: Kisah Pilu Wanda Hamidah, Baru Tahu Ayahnya Idap Kanker Usus Besar Setelah Dirawat
Tan lantas harus menjalani operasi pengangkatan tumor. Kini, pria yang telah menikah dan memiliki seorang putra ini mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala-gejala yang muncul.
Konsultan di departemen bedah kolorektal Singapore General Hospital, Lionel Chen menyatakan lonjakan kasus pada usia muda mengindikasikan perlunya pemeriksaan dini.
"Jumlah kasus kanker kolorektal di Singapura pada orang dewasa muda memang tidak sebanyak kelompok usia di atas 50 tahun," terang Chen.
"Efektivitas biaya untuk menurunkan batas usia pemeriksaan kolorektal perlu dipertimbangkan karena berpotensi menambah beban biaya yang signifikan pada sistem kesehatan," sambungnya.
Para ahli kesehatan menyarankan penerapan gaya hidup sehat untuk mengurangi risiko penyakit ini, meliputi konsumsi buah-buahan, sayuran, dan melakukan aktivitas fisik secara teratur.
Selain itu, asupan daging merah dan produk olahan perlu dibatasi. Lalu menghindari konsumsi alkohol berlebihan, tidak merokok, dan menjaga berat badan yang sehat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 5 HP Murah RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan di Akhir Maret 2026
- Harga Mobil BYD per Maret 2026: Mulai Rp199 Jutaan, Ini Daftar Lengkapnya
Pilihan
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
Terkini
-
Cara Membuat Passphrase Coretax Terbaru 2026, Ini Panduan Lengkapnya
-
Apa Beda Harta PPS dan Harta Investasi PPS di Coretax? Jangan Salah Isi!
-
Harga Lipstik Dior Terbaru 2026, Ini Daftar Lengkap dan Variannya
-
5 Rekomendasi Lip Tint yang Bagus dan Tahan Lama untuk Bibir Hitam
-
Cara Cek Bansos PKH Lewat HP dengan Mudah dan Terbaru 2026
-
Tutorial Aktivasi Coretax Terbaru 2026: Panduan Lengkap dan Mudah
-
Hari Libur dan Tanggal Merah April 2026, Simak Strategi Cuti Long Weekend
-
5 Hair Cream untuk Menata Rambut Ikal dan Kering akibat Polusi Udara
-
Langkah Mudah Login Coretax DJP Gunakan NPWP 16 Digit dan NIK
-
4 Tempat Wisata Ramah Anak di Solo untuk Mengisi Waktu Libur Panjang