Suara.com - Menjelang bulan Ramadan, salah satu pertanyaan yang paling sering muncul di tengah masyarakat Muslim Indonesia adalah tentang tanggal pasti Hari Raya Idul Fitri.
Momen Idul Fitri selalu dinantikan karena menjadi simbol kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, sekaligus waktu yang sarat dengan tradisi silaturahmi, mudik, dan kebersamaan keluarga. Tidak heran jika kepastian tanggal Idul Fitri menjadi hal penting, bukan hanya dari sisi ibadah, tetapi juga untuk keperluan perencanaan libur, perjalanan, dan kegiatan keluarga.
Di Indonesia, penetapan tanggal Idul Fitri kerap menjadi perhatian karena adanya perbedaan metode penentuan awal bulan Syawal. Pemerintah melalui Kementerian Agama dan organisasi Islam seperti Muhammadiyah memiliki pendekatan masing-masing dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Perbedaan metode ini terkadang menghasilkan perbedaan tanggal Idul Fitri, meskipun tujuannya sama, yaitu memastikan pelaksanaan ibadah sesuai tuntunan syariat Islam.
Untuk Idul Fitri tahun 2026, perbedaan prediksi kembali muncul antara versi pemerintah dan Muhammadiyah. Lalu, kapan sebenarnya Idul Fitri 2026 diperkirakan akan jatuh menurut masing-masing pihak? Simak inilah selengkapnya.
Prediksi Idul Fitri 2026 Versi Pemerintah
Pemerintah Indonesia sendiri belum menetapkan secara resmi tanggal Idul Fitri 2026 karena keputusan final baru akan diumumkan melalui sidang isbat menjelang akhir Ramadan.
Namun, berdasarkan kalender nasional dan perencanaan hari libur, Idul Fitri 1447 H diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, dengan kemungkinan berlanjut hingga Minggu, 22 Maret 2026.
Pemerintah menggunakan metode rukyat hilal yang dikombinasikan dengan hisab. Artinya, perhitungan astronomi tetap menjadi acuan awal, tetapi hasilnya harus dikonfirmasi melalui pengamatan langsung hilal di berbagai wilayah Indonesia. Jika hilal terlihat sesuai kriteria yang ditetapkan, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal Syawal.
Baca Juga: Pasal Penghinaan Pemerintah di KUHP Digugat ke MK, Mahasiswa Nilai Berpotensi Kriminalisasi Kritik
Karena bergantung pada hasil pengamatan di lapangan, keputusan pemerintah baru bisa dipastikan setelah sidang isbat dilaksanakan. Inilah sebabnya tanggal Idul Fitri versi pemerintah bersifat prediksi hingga pengumuman resmi dikeluarkan.
Prediksi Idul Fitri 2026 Versi Muhammadiyah
Berbeda dengan pemerintah, Muhammadiyah sendiri telah menetapkan tanggal 1 Ramadhan 2026 yang akan jatuh pada tanggal 18 Februari 2026.
Selain itu, Muhammadiyah juga sudah lebih awal menetapkan tanggal Idul Fitri 1447 Hijriah melalui maklumat resmi. Berdasarkan perhitungan kalender Hijriah yang mereka gunakan, Idul Fitri 2026 versi Muhammadiyah diprediksi jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Penetapan ini didasarkan pada metode hisab, yaitu perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan. Dalam hal ini, Muhammadiyah menggunakan sistem kalender Hijriah global yang menetapkan awal bulan berdasarkan kriteria tertentu secara konsisten, tanpa menunggu hasil pengamatan langsung hilal di lapangan.
Dengan metode ini, awal Ramadan 1447 H diperkirakan dimulai pada pertengahan Februari 2026 dan berlangsung selama 30 hari, sehingga 1 Syawal jatuh pada 20 Maret 2026.
Metode hisab yang digunakan Muhammadiyah memungkinkan kepastian tanggal jauh hari sebelumnya.
Perbedaan tanggal Idul Fitri antara pemerintah dan Muhammadiyah bukanlah hal baru di Indonesia. Hal ini terutama disebabkan oleh perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah. Muhammadiyah menggunakan hisab murni dengan kriteria kalender global, sementara pemerintah menggabungkan hisab dan rukyat sebagai dasar penetapan.
Faktor geografis dan kondisi cuaca juga dapat memengaruhi hasil rukyat. Dalam kondisi tertentu, posisi hilal sulit terlihat, sehingga awal bulan Syawal bisa diundur satu hari dibandingkan hasil perhitungan hisab.
Meski demikian, perbedaan ini umumnya disikapi dengan sikap saling menghormati. Umat Islam di Indonesia terbiasa menjalankan Idul Fitri sesuai dengan keyakinan dan keputusan otoritas yang diikuti, tanpa mengurangi makna persatuan dan kebersamaan.
Kontributor : Dea Nabila
Berita Terkait
-
Purbaya Izinkan 41 Proyek Molor 2025 Dilanjutkan Tahun Ini, Dari MBG hingga Sekolah Rakyat
-
Banjir yang Berulang: Peringatan Sistemik yang Tak Kunjung Didengar
-
Demokrasi Bukan soal Kubu: Kenapa Kita Tak Bisa Kritik Tanpa Dicap?
-
Jadwal Lebaran dan Idul Adha 2026 Versi Muhammadiyah Berdasarkan Maklumat Terbaru
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
Pilihan
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
Terkini
-
Rahasia Puasa Nyaman: Pentingnya Sirkulasi Udara di Rumah
-
5 Kepribadian Unik Orang yang Suka Bangun Pagi Menurut Penelitian
-
9 Hal yang Membatalkan Puasa Menurut Buya Yahya, Lengkap dan Jelas!
-
Apa Niat Salat Tarawih dan Witir Sendiri? Ini Bacaan Arab, Latin, dan Artinya
-
Kena Sanksi Gegara Istri, Berapa Lama Pengabdian 2n+1 Aryo Iwantoro yang Belum Diselesaikan?
-
Belajar dari Dwi Sasetyaningtyas, Bolehkah Alumni LPDP Pindah Kewarganegaraan?
-
Kronologi Lengkap Kasus Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Viral Karena 'Cukup Aku Aja WNI'
-
Cara Membuat Roti Canai yang Lembut dan Berserat, Mudah Dibuat di Rumah!
-
20 Link Gambar Ramadan Gratis yang Bisa Di-Download untuk Konten dan Desain
-
Iftar di Hotel, Tradisi Berbuka yang Kini Jadi Gaya Hidup Ramadan