Suara.com - Henti jantung yang menjadi 'pembunuh senyap' masyarakat Indonesia ternyata menjadi biang kerok kematian Lula Lahfah.
Penyakit mematikan tersebut tak hanya menyerang mereka yang sudah berumur, tetapi juga muda mudi seperti Lula di usianya yang ke-26 tahun.
Kabar penyebab kematian Lula Lahfah turut disampaikan oleh tim medis pribadi melalui dokter jantung, Haryanto.
Haryanto dalam keterangannya, dikutip Sabtu (24/1/2026) menyebutkan sang penyanyi kelahiran 1999 tersebut mengalami henti jantung dan bukan tewas karena overdosis, sebagaimana yang dirumorkan oleh pihak yang tak bertanggung jawab.
Mengenali penyebab henti jantung adalah cara nomor satu yang paling efektif untuk menghindari si 'silent killer' tersebut yang dapat menyerang siapapun.
Mari simak penyebab henti jantung dan pencegahannya berikut.
Serang siapapun, bisa karena genetik
Henti jantung mendadak (Sudden Cardiac Arrest) bukanlah serangan jantung biasa.
Jika serangan jantung adalah masalah "penyumbatan aliran darah", maka henti jantung dapat dianalogikan sebagai masalah "kelistrikan" pada jantung sebagai sistem penyuplai darah ke seluruh tubuh.
Sederhananya, bayangkan tubuh manusia sebagai rumah. Serangan jantung dapat dianalogikan sebagai pipa air yang mampet, sedangkan henti jantung bagaikan korsleting listrik yang membuat seluruh lampu padam seketika.
Baca Juga: Lula Lahfah Ungkap Derita ISK Sebelum Meninggal: Kenali Gejala dan Penyebab Infeksi Saluran Kemih
Mengutip iteratur dalam Journal of the American College of Cardiology, penyebab utama henti jantung sering kali berkaitan dengan kondisi medis sebagai berikut
- Penyakit Arteri Koroner
Penumpukan plak di arteri dapat mengganggu aliran darah dan merusak jaringan otot jantung yang memicu gangguan listrik.
- Kardiomiopati
Otot jantung menebal atau melebar, sehingga jantung kesulitan memompa dan rentan terhadap aritmia (gangguan irama jantung).
- Sindrom Genetik
Beberapa orang lahir dengan kelainan pada jantungnya seperti Long QT Syndrome yang sering kali tidak terdeteksi hingga terjadi insiden fatal.
- Aktivitas Fisik Berlebihan
Atlet atau individu dengan kondisi jantung tertentu harus menghindari aktivitas fisik yang sangat intens dapat memicu lonjakan adrenalin yang mengganggu irama jantung.
Mencegah lebih baik dari mengobati
Meskipun henti jantung bisa datang tanpa peringatan, sebagian besar risiko sebenarnya dapat diminimalisir melalui gaya hidup dan pemeriksaan medis yang rutin.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Promo THR Alfamart Maret 2026: Sirup Marjan dan Biskuit Lebaran Diskon Gila-gilaan, Mulai 6 Ribuan
- 5 Mobil Bekas untuk Jangka Panjang: Awet, Irit, Pajak Ringan, dan Ramah Kantong
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
Pilihan
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
Terkini
-
Perbedaan Taqabbalallahu Minna Wa Minkum dan Taqabbal Ya Karim, Ketahui Artinya
-
Kenapa Badan Lemas Setelah Buka Puasa dengan yang Manis? Ini Penjelasannya
-
Malam Lailatul Qadar Kapan Saja? Ini Perkiraan Tanggalnya di 2026
-
Pajak THR 2026 Berapa Persen? Ini Ketentuan dan Cara Menghitungnya
-
15 Ide Pantun Mudik Lebaran yang Lucu dan Hangat
-
5 Rekomendasi Parfum Wanita Aroma Mewah di Alfamart Mulai Rp33.500
-
Doa Menerima Zakat Fitrah Lengkap, Ini Bacaan yang Dianjurkan
-
Jadwal Lengkap One Way, Contraflow, dan Ganjil Genap Arus Mudik Lebaran 2026
-
7 Contoh Khutbah Idulfitri 2026 yang Singkat tapi Menyentuh
-
10 Ciri Datangnya Malam Lailatul Qadar Menurut Hadis, Apa Saja?