Lifestyle / Komunitas
Kamis, 05 Maret 2026 | 14:55 WIB
Festival Literasi Denpasar #6. (Dok: Nyalanesia)

Kategori cerpen jenjang SMP/sederajat Juara1 diraih Zahra Alya Nabila dari SMP Muhammadiyah 1 Denpasar. Selanjutnya untuk kategori Puisi jenjang SMA/sederajat Juara 1 diraih Aurelia Casimira Parliyawan dari SMAS Katolik Santo Yoseph Denpasar. Lalu kategori cerpen jenjang SMA/sederajat Juara 1 diraih Arifta Azkazia Rahma dari SMA Albanna Denpasar. Dan Juara 1 kategori Esai jenjang SMA/sederajat diraih Ida Ayu Putu Ika dari SMK Negeri 1 Denpasar.

Penganugerahan juara selanjutnya ialah kategori Tim Literasi Tingkat Daerah. Juara 1 diraih olehi SD Negeri 5 Pedungan, Juara 2 diraih SMP Negeri 12 Denpasar, dan Juara 3 diraih SD Negeri 1 Peguyangan.

Suasana apresiatif semakin terasa saat Bunda Literasi Kota Denpasar, Ny. Sagung Antari Jaya Negara, membawakan pembacaan puisi, yang menjadi salah satu momen emosional dalam puncak acara ini. Setelah itu, panggung budaya kembali hidup melalui Pentas Seni dan Budaya dari SMP PGRI 2 Denpasar dengan penampilan tari Siwa Abhipraya, yang memperkuat karakter festival sebagai ruang pertemuan antara literasi, seni, dan identitas budaya Bali.

Salah satu sesi yang paling menyita perhatian adalah NyalaTalks bersama Ni Luh Djelantik, Senator DPD RI Perwakilan Bali. Dalam penyampaiannya, Ni Luh Djelantik menegaskan bahwa literasi adalah fondasi utama untuk membuka jendela dunia, bahkan di tengah kemajuan teknologi.

“Setinggi apa pun ilmu yang kita raih, secanggih apa pun gawai ataupun teknologi yang kita miliki, tetapi jika kita tidak memahami literasi itu dalam arti yang sebenarnya, tentu saja pintu sebagai jendela dunia itu tidak akan bisa kita buka,” ujarnya.

Dalam sesi itu, Ni Luh Djelantik juga membagikan kisah personalnya tentang bagaimana kebiasaan membaca sejak kecil, di tengah kehidupan sederhana keluarganya di Pasar Badung, menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidupnya hingga menjadi senator perempuan perwakilan Bali. Ia bahkan menyatakan dukungan terbuka untuk gerakan literasi yang dibangun Nyalanesia dan Pemerintah Kota Denpasar.

Puncak acara kemudian dilanjutkan dengan seremonial dan peluncuran buku terbaik hasil Program Festival Literasi Denpasar #6. Peluncuran ini menjadi simbol nyata bahwa gerakan literasi yang dijalankan tidak berhenti pada lomba atau seremoni, melainkan menghasilkan karya tertulis yang dapat diwariskan dan dibaca lintas generasi.

Dengan keseluruhan rangkaian mulai dari pentas budaya, laporan capaian, penghargaan, pembacaan puisi, diskusi publik, hingga peluncuran buku, Festival Literasi Denpasar #6 kembali menegaskan dirinya sebagai salah satu gerakan literasi daerah yang paling konsisten dan berkembang di Indonesia.  ***

Baca Juga: Bagi Generasi Sandwich Seperti Saya, Menjajal LPDP Artinya Mempertaruhkan Hidup Keluarga

Load More