News / Metropolitan
Senin, 09 Maret 2026 | 08:10 WIB
Dari Sekolah untuk Dunia, Menguatkan Sikap Menghargai ke Generasi Alpha demi Perdamaian Global. (Ist)
Baca 10 detik
  • Geopolitik 2026 menunjukkan perdamaian memerlukan empati dan penghormatan terhadap perbedaan budaya dan keyakinan.
  • Rendahnya literasi budaya memperburuk risiko konflik global yang dipicu oleh kesenjangan teknologi dan ujaran kebencian digital.
  • Redea Institute menyelenggarakan program rutin tahunan PTR sejak 2004 untuk menanamkan toleransi bagi siswa SD hingga SMA.

Suara.com - Di tengah dinamika geopolitik global tahun 2026 yang semakin rumit, tantangan dalam menjaga perdamaian antarbangsa kini melampaui sekadar diplomasi politik di meja perundingan.

Polarisasi ideologi, sengketa wilayah, dan kesenjangan akses teknologi antarnegara seringkali memicu sentimen eksklusivitas yang merambat hingga ke akar rumput melalui ruang digital tanpa batas.

Sebagai bagian dari komunitas global, Indonesia dihadapkan pada kenyataan bahwa perdamaian yang berkelanjutan hanya dapat terwujud jika setiap individu memiliki pondasi empati dan penghormatan terhadap perbedaan bangsa, budaya, maupun keyakinan.

Tanpa pondasi rasa hormat dan sikap menghargai perbedaan sejak dini, rendahnya literasi lintas budaya dapat dengan mudah mengubah konflik global yang tampak jauh menjadi ketegangan sosial yang nyata di lingkungan kita sendiri.

Hal ini sejalan dengan Laporan Risiko Global 2026 yang menempatkan konfrontasi geoekonomi sebagai salah satu risiko utama global, serta data UNESCO yang menunjukkan bahwa dua dari tiga orang di dunia kini terpapar ujaran kebencian di ruang digital—sebuah ancaman nyata bagi kerukunan lintas bangsa.

Kondisi ini diperparah oleh laju perkembangan teknologi yang tidak selalu diiringi oleh kematangan karakter. Tanpa fondasi etika yang kuat, perbedaan pandangan di dunia maya dapat dengan mudah bereskalasi menjadi konflik nyata di masyarakat.

Hal inilah yang mendasari urgensi untuk menanamkan nilai-nilai toleransi sebagai “imunitas sosial” bagi Generasi Alpha—generasi yang lahir dan tumbuh di era dominasi teknologi.

Dengan pesatnya perkembangan teknologi dan globalisasi, kurangnya pemahaman terhadap keberagaman bukan hanya memicu konflik antarkelompok, tetapi juga mengancam keberlangsungan perdamaian di masa depan.

Melalui pendidikan yang inklusif, siswa diajak untuk melihat perbedaan bukan sebagai pemisah, melainkan sebagai kekayaan yang memperkuat tatanan sosial.

Baca Juga: Goldman Sachs Ramal Harga Minyak Tembus USD100 Pekan Depan

Dengan menumbuhkan sikap saling menghargai sejak usia dini, kita sesungguhnya sedang berinvestasi pada masa depan Indonesia dan dunia yang lebih damai, harmonis, dan demokratis.

Sejak didirikan pada tahun 1996, HighScope Indonesia Institute, yang berevolusi menjadi Research & Development for Advancement (Redea) Institute berkomitmen untuk menanamkan dan menerapkan nilai-nilai toleransi serta menghargai perbedaan dari sejak dini kepada seluruh siswa-siswi di Sekolah HighScope Indonesia (yang akan berganti nama menjadi Sekolah Eco Socio Tech di bulan Juli 2026).

Berpijak pada keyakinan bahwa pendidikan terbaik adalah yang mensimulasikan kehidupan nyata (real-life), Redea Institute menyelenggarakan sebuah kegiatan lintas agama yang bertajuk PTR (Peace, Tolerance, Respect) di Sekolah HighScope Indonesia.

Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan sekolah, yang bertujuan membangun sikap menghormati sesama manusia dan makhluk hidup untuk menciptakan kehidupan yang damai dan berkelanjutan.

Tahun ini, PTR mengusung tema “Membangun Sikap Menghormati Sesama Manusia dan Makhluk Hidup untuk Menciptakan Kehidupan yang Damai dan Berkelanjutan.”

Tema itu dipilih untuk menginspirasi siswa agar menerapkan sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari, serta berkontribusi dalam menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.

Load More