Suara.com - Laut Indonesia memiliki potensi sumber daya yang sangat besar, salah satunya rumput laut. Dilansir dari Badan Riset Perikanan Laut (BRPL)(17/4/2026),mengutip Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya , Tb Haeru Rahayu, mengatakan produksi rumput laut meningkat.
“Produksi rumput laut Indonesia pada tahun 2024 tercatat mencapai 10,80 juta ton, meningkat 10,82 persen dibanding tahun sebelumnya,” ujar Tb.
Hal ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar di dunia, dengan sekitar 900 spesies atau hampir 11 persen dari total spesies global, sebagaimana dilaporkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (17/4/2026).
Namun, sebagian besar rumput laut masih diekspor dalam bentuk mentah, sehingga nilai tambahnya belum optimal. Menjawab tantangan ini, Peneliti Ahli Utama BRIN, Ratih Pangestuti, mendorong pemanfaatan senyawa aktif dalam rumput laut untuk mendukung penguatan nilai pada produk laut Indonesia.
Potensi Tersembunyi dari Rumput Laut
Selama ini, rumput laut lebih dikenal sebagai bahan pangan seperti agar-agar. Padahal, kandungan senyawa aktif di dalamnya memiliki potensi yang lebih luas. Rumput laut mengandung karaginan untuk industri pangan, serta pigmen alami dan polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Senyawa ini juga berpotensi melindungi sel saraf di otak dan tulang belakang.
Selain itu, rumput laut dapat dikembangkan menjadi pangan fungsional yang meningkatkan gizi masyarakat. Dalam bidang farmasi, kandungan alaminya berpotensi memperlambat pertumbuhan kanker,mempercepat penyembuhan luka, serta menjaga kesehatan pencernaan dan jantung, sebagaimana dilaporkan oleh Halodoc (17/4/2026).
Ratih juga menemukan bahwa pigmen alami dari rumput laut coklat memiliki peluang sebagai bahan baku farmasi. Dengan dukungan teknologi yang tepat, rumput laut bisa bertransformasi menjadi kapsul suplemen, bahan skincare, dan bahan baku obat-obatan.
Memutus Rantai Bahan Mentah Lewat Hilirisasi
Baca Juga: Krisis Lingkungan Mengintai, Bagaimana Melibatkan Generasi Muda Agar Mau Bergerak?
Besarnya potensi tersebut menjadikan rumput laut sebagai komoditas strategis untuk meningkatkan nilai ekonomi Indonesia. Namun, sebagian besar ekspor masih berupa bahan baku mentah atau kering. Padahal, pengolahan menjadi produk turunan dapat meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan. Oleh karena itu, Indonesia perlu memperkuat industri pengolahan dalam negeri dengan melakukan hilirisasi agar mampu masuk rantai pasok global.
“Makroalga bukan sekadar sumber daya, tetapi pilar strategis dalam membangun bioindustri biru Indonesia yang berkelanjutan,” ucap Ratih.
Jika dilihat dari sisi sosial, tentunya pengembangan industri ini juga berpotensi membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat pesisir. Untuk mendorong hilirisasi ini dapat terjadi,diperlukan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pihak industri.
Penulis: Natasha Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Kapan Harus Ganti Bantal? Ini Tanda Sudah Kedaluwarsa
-
4 Cara Mudah Mengusir Tikus dari Rumah, Tak Perlu Racun!
-
5 Serum yang Bikin Wajah Glowing dan Plumpy Menurut Review Pengguna, Mulai Rp20 Ribuan
-
Belanja Sambil Jajan Kuliner Jepang? Pengalaman Ini Kini Bisa Dinikmati di Jakarta Utara
-
Fenomena Dating App Fatigue, Ketika Mencari Cinta Justru Berakhir Melelahkan
-
Menyiapkan Generasi Penjaga Lingkungan, Ratusan Pelajar Belajar Konservasi di Hutan Mangrove
-
Cara Membedakan Sepatu Melissa Ori dan KW, Awas Tertipu Barang Palsu
-
Hukum Menikah saat Hamil Duluan, Apakah Harus Menunggu Lahiran? Ini Kata Ulama
-
Anak Hasil Hamil di Luar Nikah Nasabnya ke Siapa? Ini Pandangan Ulama dan Hukum Indonesia
-
Profil Eka Rismayanti dan Radiansyah, Pasutri Owner WO Marwah yang Tipu 58 Calon Pengantin