Suara.com - Bayangkan kamu berdiri di lorong supermarket dan menemukan sebotol sabun cair berlabel “organik”, “tanpa bahan kimia”, dan “eco-friendly”. Sekilas, membeli produk tersebut terasa seperti langkah kecil untuk menjaga lingkungan. Tapi, benarkah semua klaim itu bisa dipercaya?
Di balik tren produk ramah lingkungan, ada praktik yang dikenal sebagai greenwashing—strategi pemasaran yang membuat produk terlihat lebih “hijau” dari kenyataannya.
Apa itu Greenwashing ?
Di balik berbagai klaim ramah lingkungan pada kemasan produk, terdapat praktik yang dikenal sebagai greenwashing. Praktik ini merujuk pada strategi pemasaran yang membuat suatu produk tampak lebih eco-friendly atau lebih hijau, sebagaimana dilaporkan oleh greennetwork.id (15/4/2026).
Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan, banyak perusahaan memanfaatkan tren ini untuk menarik konsumen. Data menunjukkan bahwa minat terhadap produk ramah lingkungan terus meningkat, sehingga label eco-friendly sering dijadikan alat pemasaran utama.
Namun, praktik ini berpotensi menyesatkan. Konsumen merasa telah membuat pilihan yang tepat, padahal produk tersebut belum tentu benar-benar ramah lingkungan. Meskipun laporan dari Rep Risk di tahun 2024 menunjukkan adanya penurunan praktik greenwashing, risikonya tetap tinggi untuk kembali meningkat.
Lalu, apa alasan dari tingginya praktik greenwashing ?
Dilema Ekonomi VS Etika Konsumen
Salah satu faktor pendorong greenwashing adalah harga produk ramah lingkungan yang relatif lebih mahal. Sebagian konsumen ingin beralih ke produk ramah lingkungan, tetapi terhalang oleh biaya. Kondisi ini dimanfaatkan oleh perusahaan dengan menghadirkan produk berlabel “eco-friendly” tanpa bukti yang jelas. Akibatnya, konsumen mudah terpengaruh oleh klaim tersebut tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
Baca Juga: Bukan Hanya Hutan, Blue Carbon Jadi Kunci Baru Redam Krisis Iklim: Seberapa Efektif?
Oleh karena itu, konsumen perlu lebih kritis dalam memilih produk, termasuk dengan mencari informasi tambahan dari berbagai informasi sebelum membeli. Dengan adanya media sosial tentunya memudahkan kita dalam melakukan riset produk yang akan kita beli.
Perlu Dukungan Pemerintah
Upaya mengatasi greenwashing tidak bisa hanya dibebankan pada konsumen. Pemerintah memiliki peran penting dalam mengatur dan mengawasi klaim produk di pasar. Meskipun Indonesia sudah memiliki Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Namun, belum ada regulasi spesifik yang mengatur praktik greenwashing.
Dengan adanya kebijakan yang disertai penagwasan, para pelaku usaha akan lebih hati-hati dan segan untuk melakukan praktik greenwashing. Ke depannya, diperlukan kebijakan yang lebih tegas untuk mengatur klaim ramah lingkungan, mendukung konsumen dari informasi menyesatkan, dan mendukung produsen yang benar-benar menerapkan praktik eco-friendly dalam proses pembuatan produknya.
Pada akhirnya, kesadaran konsumen saja tidak cukup untuk melawan praktik greenwashing. Diperlukan kerja sama antara konsumen yang kritis, pemerintah yang tegas dalam mengatur klaim produk, dan perusahaan yang jujur. Tanpa hal-hal tersebut, label eco- friendly hanya akan menjadi strategi pemasaran, bukan solusi nyata bagi keberlanjutan lingkungan.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Cuma Modal Video Selfie, Begini Cara Dapat Centang Biru Gratis di Facebook
-
Jajan di Event Bergengsi Tak Harus Mahal, UMKM Piala Presiden 2026 Bikin Kantong Aman
-
Review Drama The Scarecrow, Teka-Teki Pembunuhan Berantai Tiga Dekade
-
Bukan Sekadar Proker, Ini 8 Soft Skill Berharga yang Diam-Diam Terasah Saat KKN
-
BK DPRD Masih Periksa 2 Kader Golkar Riau Terkait Kerusuhan di Gedung Dewan
-
Cak Imin Rayu Parpol Ubah 108 Undang-undang Demi Prabowonomics
-
Apa Saja Zodiak yang Termasuk dalam Elemen Air? Kenali Ciri Khas dan Kepribadiannya
-
Menertawakan Diri Sendiri: Katarsis Emosi ala Warganet Melihat Konten Kemewahan Absurd Indra Perdana
-
Kembali Dibintangi Chris Hemsworth, Syuting Film Extraction 3 Resmi Dimulai
-
Keputusan John Herdman Tak Panggil Ricky Kambuaya di Piala AFF 2026 Dipertanyakan