- Tragedi Bintaro tahun 1987 di Tangerang Selatan menelan 139 hingga 156 korban jiwa akibat tabrakan adu banteng dua kereta.
- Kecelakaan terbaru terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 yang mengakibatkan 14 orang meninggal dunia.
- Peristiwa di Bekasi tersebut memicu trauma publik karena adanya kemiripan isu keselamatan perkeretaapian dengan tragedi masa lalu.
Suara.com - Tragedi Kereta Bintaro 1987 kembali menjadi sorotan publik setelah kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026. Kecekalaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Bekasi Timur menyisakan duka mendalam dan memicu gelombang kenangan kelam tentang salah satu kecelakaan kereta paling tragis dalam sejarah Indonesia.
Netizen di media sosial ramai membandingkan kedua peristiwa, menyoroti isu keselamatan perkeretaapian yang seolah belum tuntas.
Tragedi Bintaro atau yang dikenal sebagai Tabrakan Kereta Api Bintaro 1987 terjadi pada 19 Oktober 1987 di Pondok Betung, Bintaro, kini wilayah Tangerang Selatan yang berbatasan dengan Jakarta Selatan.
Pagi itu, dua kereta api berpapasan di jalur tunggal: KA 220 Patas Merak jurusan Tanah Abang–Merak dan KA 225 Lokal Rangkas jurusan Rangkasbitung–Jakarta Kota.
Akibat human error, kesalahan komunikasi, dan dugaan kegagalan sistem sinyal, kedua kereta bertabrakan dengan kecepatan tinggi dalam tabrakan adu banteng.
Benturan dahsyat itu menghancurkan lokomotif dan beberapa gerbong depan. Suara tabrakan terdengar hingga ratusan meter. Proses evakuasi berjalan sangat sulit karena gerbong-gerbong saling tindih dan rusak parah.
Korban jiwa mencapai 139–156 orang, dengan ratusan lainnya mengalami luka berat. Tragedi ini tercatat sebagai kecelakaan kereta api terburuk sepanjang sejarah perkeretaapian Indonesia. Total kerugian material saat itu mencapai Rp1,9 miliar.
Masinis Slamet Suradio dari KA 225 menjadi salah satu yang selamat, namun harus menanggung beban psikologis dan hukuman yang berat seumur hidup.
Peristiwa itu memaksa pemerintah dan PJKA (kini PT KAI) melakukan pembenahan besar-besaran sistem perkeretaapian, termasuk peningkatan sinyal, komunikasi, dan prosedur operasional. Namun, 39 tahun kemudian, duka serupa kembali muncul.
Baca Juga: Dirut KAI: Evakuasi KA Argo Bromo 100 Persen Rampung, KRL ke Cikarang Masih Dihentikan
Pada 27 April 2026 malam, kecelakaan di Bekasi Timur terjadi di KM 28+920. Kronologi diawali saat KRL Commuter Line menabrak sebuah taksi atau mobil yang mogok di perlintasan sebidang dekat stasiun.
KRL berhenti mendadak, dan sesaat kemudian ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek yang melaju. Gerbong belakang KRL, atau gerbong wanita, ringsek parah.
Menurut update terbaru, kecelakaan ini menewaskan 14 orang dan melukai 84 orang lainnya. Puluhan korban dievakuasi dengan tandu, sementara proses pemotongan gerbong dilakukan untuk menyelamatkan yang masih terjepit.
Kecelakaan kereta Bekasi ini langsung memicu perbandingan dengan Tragedi Bintaro.
Banyak yang mengingatkan bahwa Indonesia pernah mengalami Tragedi Bintaro II pada 9 Desember 2013, ketika KRL Commuter Line Serpong–Tanah Abang menabrak truk tangki Pertamina di perlintasan Pondok Betung—hanya ratusan meter dari lokasi tragedi 1987.
Kala itu, sembilan orang tewas, termasuk masinis dan asisten masinis, serta gerbong wanita terbakar hebat.
Kembali munculnya nama “Tragedi Bintaro” di linimasa menunjukkan trauma kolektif masyarakat terhadap keselamatan kereta api.
Isu yang berulang mencakup perlintasan sebidang yang belum sepenuhnya dihilangkan, sistem sinyal yang masih rentan, overcrowding di jam sibuk, serta koordinasi antara kereta jarak jauh dan commuter line di jalur padat Jabodetabek.
Tragedi Bintaro 1987 dan kecelakaan Bekasi 2026 mengingatkan kita bahwa setiap kali kereta berjalan, nyawa ratusan orang dipertaruhkan. Keselamatan bukan hanya tanggung jawab masinis atau petugas, melainkan tanggung jawab bersama pemerintah, operator, dan masyarakat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
Terkini
-
4 Rekomendasi Micellar Water Oil di Shopee, Terbukti Aman untuk Kulit Sensitif dan Berminyak
-
4 Zodiak Paling Beruntung pada 12 Juni 2026, Rezeki dan Peluang Emas Menanti
-
Terpopuler: Sepatu Lari Kanky buat Easy Run, Cristiano Ronaldo Main di Piala Dunia 2026?
-
5 Tips Feng Shui Kamar Tidur agar Rezeki Mengalir, Jangan Salah Taruh Cermin
-
Tak Cuma Kulineran, Ini Destinasi 'Wajib Singgah' di PRJ 2026 yang Banjir Hadiah
-
Rosemary Oil untuk Apa? Ini Manfaat Bagi Rambut dan Cara Pakainya
-
Ajak Anak Jadi Generasi Bijak Plastik Sejak Dini, Mulai dari Kebiasaan Pilah Sampah
-
Mencari Ruang Jeda di Tengah Ketidakpastian Global: Mengapa Sanctuary Jadi Tren Liburan Masa Depan?
-
5 Brow Gel Terbukti Tahan Lama dan Waterproof, Lengkap dengan Harganya
-
4 Bedak Viva Cosmetics Paling Laris di Shopee, Harga Murah Mulai Rp3 Ribuan