- Diplomat senior Dino Patti Djalal mengkritik frekuensi kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri.
- Dino menyoroti tingginya biaya operasional perjalanan dinas di tengah kondisi ekonomi domestik.
- Kritik tersebut memicu tanggapan pemerintah mengenai efisiensi jumlah rombongan.
Nama Dino Patti Djalal kembali mencuat ke publik pada akhir Mei 2026. Sebagai pengamat independen, ia mengkritik intensitas kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri.
Menurut perhitungannya, sejak dilantik sebagai Presiden, Prabowo menghabiskan satu dari enam hari di luar negeri — menjadikannya salah satu pemimpin dunia dengan frekuensi perjalanan paling tinggi.
Dino menyampaikan kritiknya melalui media sosial dan video analisis. Ia menyoroti bahwa kunjungan kepala negara memakan biaya sangat besar, termasuk pesawat, rombongan, pengamanan, akomodasi, dan logistik.
Satu perjalanan bisa mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Di tengah kondisi ekonomi domestik seperti pelemahan rupiah, Dino menilai frekuensi tersebut "tidak lazim dan di luar batas kewajaran".
Ia juga memberikan lima saran konstruktif untuk efisiensi diplomasi:
- Kurangi secara signifikan perjalanan ke luar negeri.
- Manfaatkan lebih banyak diplomasi virtual atau pertemuan di Indonesia.
- Beri peran lebih besar kepada Menteri Luar Negeri untuk kunjungan tingkat menteri.
- Tingkatkan transparansi anggaran perjalanan presiden.
- Fokus pada hasil konkret daripada kuantitas kunjungan.
Kritik ini menuai respons dari pemerintah. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah M. Qodari menanggapi bahwa rombongan Prabowo lebih ramping (50-60 orang) dibandingkan era sebelumnya yang bisa mencapai 120 orang.
Pemerintah juga menekankan capaian diplomasi Prabowo, seperti keanggotaan BRICS dan berbagai kesepakatan strategis.
Meski kritis, Dino selalu menegaskan ia berbicara sebagai patriot dan pendukung diplomasi yang efektif. Ia pernah menerima penghargaan Bintang Mahaputra dari Presiden Prabowo sendiri, yang menunjukkan kredibilitasnya di mata pemerintah.
Sebagai pendiri FPCI, Dino Patti Djalal konsisten mendorong "nasionalisme unggul" dan partisipasi publik dalam politik luar negeri Indonesia.
Baca Juga: Balas Kritik Dino Patti Djalal, Seskab Teddy: Diplomat Hebat Walau Hanya Menjabat 3 Bulan
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Kapan Harus Ganti Bantal? Ini Tanda Sudah Kedaluwarsa
-
4 Cara Mudah Mengusir Tikus dari Rumah, Tak Perlu Racun!
-
5 Serum yang Bikin Wajah Glowing dan Plumpy Menurut Review Pengguna, Mulai Rp20 Ribuan
-
Belanja Sambil Jajan Kuliner Jepang? Pengalaman Ini Kini Bisa Dinikmati di Jakarta Utara
-
Fenomena Dating App Fatigue, Ketika Mencari Cinta Justru Berakhir Melelahkan
-
Menyiapkan Generasi Penjaga Lingkungan, Ratusan Pelajar Belajar Konservasi di Hutan Mangrove
-
Cara Membedakan Sepatu Melissa Ori dan KW, Awas Tertipu Barang Palsu
-
Hukum Menikah saat Hamil Duluan, Apakah Harus Menunggu Lahiran? Ini Kata Ulama
-
Anak Hasil Hamil di Luar Nikah Nasabnya ke Siapa? Ini Pandangan Ulama dan Hukum Indonesia
-
Profil Eka Rismayanti dan Radiansyah, Pasutri Owner WO Marwah yang Tipu 58 Calon Pengantin