- ECADIN dan Kementerian ESDM membahas urgensi pengendalian emisi metana yang memiliki daya perusak panas jauh lebih tinggi daripada karbon dioksida.
- Sektor minyak dan gas dinilai mampu menekan emisi metana dengan cepat karena dukungan teknologi pemantauan yang matang dan terukur.
- Pengurangan emisi metana sebesar 30 persen pada tahun 2030 ditargetkan dunia untuk memperlambat laju pemanasan global secara signifikan dan cepat.
Suara.com - Ketika membahas perubahan iklim, masyarakat umumnya lebih mengenal karbon dioksida (CO) sebagai penyebab utama pemanasan global. Namun, ada gas rumah kaca lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan, yaitu metana.
Meski keberadaannya di atmosfer jauh lebih sedikit dibandingkan CO, metana memiliki kemampuan memerangkap panas yang jauh lebih kuat. Dalam periode 20 tahun, dampak pemanasan yang ditimbulkan metana bahkan sekitar 80 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida.
Hal tersebut menjadi salah satu sorotan dalam media briefing bertajuk Methane Management in Oil and Gas Sector yang digelar ECADIN bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta, Senin (8/6).
COO ECADIN, Candra Sutama, menjelaskan bahwa metana telah memberikan kontribusi besar terhadap pemanasan global yang terjadi saat ini.
"Sejak revolusi industri, metana berkontribusi hampir sepertiga terhadap penghangatan bumi. Namun masyarakat jarang mendengar soal metana karena biasanya dampaknya diterjemahkan dalam bentuk ekuivalen karbon dioksida," kata Candra.
Selama ini, banyak orang mengaitkan emisi metana dengan tumpukan sampah atau peternakan sapi. Padahal, sumber emisi metana jauh lebih beragam.
Di Indonesia, sektor pertanian, termasuk area persawahan, menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi metana. Selain itu, sektor energi, khususnya minyak dan gas bumi, juga menghasilkan emisi metana dalam jumlah signifikan.
Menurut Candra, sektor minyak dan gas menjadi salah satu sektor yang paling memungkinkan untuk segera menurunkan emisi metana. Alasannya, industri ini memiliki teknologi dan sistem pemantauan yang relatif lebih matang dibanding sektor lain.
"Di sektor minyak dan gas, sumber emisinya lebih mudah diidentifikasi dan tersedia teknologi untuk menguranginya. Selain itu jumlah operatornya juga lebih terbatas dibanding sektor pertanian yang melibatkan jutaan petani," ujarnya.
Baca Juga: Mikroba Bawah Tanah Ditemukan Mampu Atasi Krisis Iklim, Bagaimana Caranya?
Sementara itu, Lead Coordinator UNEP's International Methane Emissions Observatory (IMEO), Monika Bergeron, mengatakan pengurangan emisi metana kini menjadi prioritas global karena dampaknya dapat dirasakan lebih cepat dibanding pengurangan emisi karbon dioksida.
Menurut Monika, metana memiliki karakteristik unik. Selain sangat kuat memerangkap panas, gas ini hanya bertahan sekitar 10 tahun di atmosfer. Karena itu, ketika emisinya berhasil ditekan, manfaatnya terhadap perlambatan pemanasan global dapat terlihat dalam waktu yang relatif singkat.
"Metana bertanggung jawab atas sekitar sepertiga pemanasan global yang kita alami saat ini. Jika kita mengurangi emisi metana sekarang, dampaknya bisa dirasakan dalam masa hidup kita," kata Monika.
Ia menjelaskan, negara-negara dunia telah menyepakati target pengurangan emisi metana sebesar 30 persen pada 2030 melalui Global Methane Pledge yang diluncurkan pada Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) di Glasgow pada 2021.
Selain bermanfaat bagi lingkungan, pengurangan emisi metana juga dinilai menguntungkan secara ekonomi. Dalam sektor minyak dan gas, metana yang selama ini terlepas ke atmosfer sebenarnya merupakan gas yang memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Karena itu, pengurangan emisi metana tidak hanya membantu menekan laju perubahan iklim, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional industri energi.
"Ini salah satu peluang iklim yang paling cepat dan paling nyata yang bisa dilakukan saat ini. Manfaatnya tidak hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk kualitas udara, kesehatan masyarakat, dan ketahanan energi," ujar Monika.
Dengan dampaknya yang besar terhadap pemanasan global, metana kini semakin mendapat perhatian dalam upaya pengendalian perubahan iklim. Para ahli menilai, selain tetap mengurangi emisi karbon dioksida, langkah menekan emisi metana dapat menjadi solusi cepat untuk membantu menjaga kenaikan suhu bumi tetap terkendali.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Timnas Indonesia Lolos Semifinal Piala AFF U-19 2026 Usai Kalahkan Vietnam
Pilihan
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
-
Bupati Muara Enim Resmi Pakai Rompi Oranye KPK
-
Luhut Bawa Chatib Basri ke Istana, Ini Tujuannya
-
Di Mana Menkeu Purbaya saat Chatib Basri Dipanggil Prabowo ke Istana
Terkini
-
Benarkah Menikah di Bulan Suro Bikin Sial dan Rumah Tangga Hancur? Ini Pandangan Islam dan Budaya
-
Apa Bedanya Cushion Skintific Hijau dan Pink? Cek Manfaat dan Harganya
-
Daftar 3 Shio Paling Malas, Hobi Menunda-nunda Pekerjaan
-
5 Moisturizer Pria dengan Rating Sempurna di Shopee, Atasi Kulit Kusam dan Berjerawat
-
5 Cara Mengetahui Parfum yang Kedaluwarsa, Ini Tanda-tandanya
-
5 Body Lotion Paling Laris di Shopee, Pembeli Akui Ampuh Cerahkan Kulit Kusam
-
3 Sabun Mandi Batangan Paling Laris di Shopee, Review Pembeli Terbukti Ampuh Mencerahkan Kulit Kusam
-
Berapa Harga Adidas Samba Jane Ori? Ini 5 Rekomendasi Toko Resmi agar Tak Tertipu Produk KW
-
3 Zodiak yang Kehidupannya akan Berubah Lebih Baik Setelah 9 Juni 2026
-
6 Shio Paling Beruntung dan akan Dapat Rezeki Nomplok Pada 10 Juni 2026