Ilmuwan Ubah Sampah Plastik Jadi Kue Kering yang Bisa Dimakan, Kok Bisa?

Senin, 21 September 2026 | 11:10 WIB
Berbahan dasar limbah pabrik dan plastik, olahan kue ini dirancang untuk menjadi sumber pangan manusia di berbagai kondisi ekstrem, termasuk di dalam kapal selam hingga pesawat luar angkasa. Sumber: SIU Carbondale

Suara.com - Tim ilmuwan dari Southern Illinois University (SIU) Carbondale, Amerika Serikat, mengembangkan teknologi yang memungkinkan sampah plastik dan limbah pertanian diubah menjadi bahan pangan, termasuk kue kering kaya protein.

Penelitian yang sebagian didanai program NASA Deep Space Food Challenge itu dipresentasikan dalam pertemuan musim gugur American Chemical Society (ACS) di McCormick Place, dan diberitakan ScienceDaily, Minggu (13/9/2026).

Inovasi tersebut bermula dari upaya para peneliti mencari cara memanfaatkan kembali sampah plastik jenis polietilena tereftalat (PET), material yang banyak digunakan untuk membuat botol air minum dan minuman bersoda.

PET mengandung molekul kaya karbon yang dapat dipecah dan disusun kembali menjadi berbagai senyawa bermanfaat, termasuk komponen pembentuk protein.

"Kami sebelumnya mengembangkan teknologi untuk mengolah plastik menjadi produk yang lebih bernilai. Kami berpikir, mengapa tidak fokus membuat makanan? Karena plastik adalah karbon, dan makanan juga karbon," kata Profesor Madya Lahiru Jayakody, yang memimpin penelitian tersebut.

Alih-alih mengandalkan reaksi kimia dan pelarut di laboratorium, tim memilih memanfaatkan mikroba yang secara alami mampu menjalankan proses biokimia kompleks.

"Mikroba itu sangat cerdas. Jadi kami memanfaatkan sifat mereka untuk menyelesaikan masalah yang kita ciptakan sendiri," ujar Jayakody.

Sebelum diproses oleh mikroba, plastik PET, batang dan daun jagung sisa panen, serta biomassa lainnya terlebih dahulu dipecah menggunakan teknik oxidative hydrothermal dissolution.

Metode yang dikembangkan Profesor Geologi SIU Carbondale, Ken Anderson, tersebut menggunakan air dan oksigen pada suhu serta tekanan tinggi untuk memecah material yang sulit terurai menjadi molekul-molekul kecil yang dapat diserap mikroba.

Molekul-molekul itu kemudian diberikan kepada ragi hasil rekayasa genetika, termasuk ragi roti (baker's yeast). Ragi tersebut telah "diprogram" Jayakody bersama mahasiswa pascasarjananya, Sandhya Jayasekara, untuk mengubah bahan baku tersebut menjadi protein, vitamin, lemak, hingga senyawa perasa.

Bahan hasil olahan ragi kemudian dicampur dengan serat, pati, dan pemanis. Campuran itu selanjutnya dicetak menggunakan printer 3D menjadi kue kaya protein bernama µBites, yang dibaca "microbites".

Berdasarkan data yang tersedia, µBites dinyatakan aman dikonsumsi. Namun, uji rasa formal masih menunggu persetujuan kelembagaan. Sejauh ini, penilaian baru dilakukan berdasarkan aroma. Sebagian besar peserta uji menyatakan bersedia memakan kue tersebut dalam kondisi darurat ketika pasokan makanan terbatas.

Untuk membuat µBites lebih menarik bagi konsumen, Jayasekara juga mengembangkan galur ragi tambahan.

Ragi roti direkayasa agar dapat menghasilkan perisa vanila dari biomassa tumbuhan. Sementara itu, galur ragi lainnya mampu mengubah etilen glikol yang berasal dari PET menjadi beta karoten, senyawa yang dapat diubah tubuh manusia menjadi vitamin A.

"Kami memanfaatkan mikroba untuk mengembangkan kue ini menjadi produk yang lebih menarik dan ramah konsumen," kata Jayasekara.

Ke depan, tim berharap mikroba juga dapat memproduksi lebih banyak komponen kue, termasuk pati, serat, dan pemanis yang saat ini masih ditambahkan secara terpisah.

Jayakody optimistis µBites dapat dikonsumsi publik dalam beberapa tahun mendatang. Teknologi ini berpotensi digunakan di lingkungan yang sulit mendapatkan pasokan makanan, seperti kapal selam, wilayah terdampak bencana, hingga permukiman manusia di Bulan atau Mars pada masa depan.

Menurut Jayakody, teknologi tersebut juga berpotensi membantu menghadapi tekanan terhadap ketahanan pangan global.

"Permintaan pangan global diperkirakan naik 35–56 persen pada 2050, dan sekitar 30 persen populasi dunia berisiko mengalami kelaparan. Cara mengatasinya, menurut saya, adalah dengan memanfaatkan mikroba," pungkas Jayakody.

Penulis: Inesia Dian

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com