/
Kamis, 08 Desember 2022 | 19:09 WIB
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. [ANTARA/Ahmad Fikri].

Sebanyak 1.800 rumah di Cianjur yang berada di zona berbahaya yang terlarang untuk dibangun rumah kembali di area Patahan Cugenang seluas 8,09 kilometer persegi disarankan untuk direlokasi.

Saran tersebut diberikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kepada pemerintah setempat.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, gempa Cianjur bermagnitudo 5,6 dipicu pergeseran sesar baru yang dinamakan Patahan Cugenang.

Dwikorita mengungkapkan, dari hasil penelusuran ditemukan ada patahan baru yang teridentifikasi melintasi Kecamatan Cugenang.

"Karena patahan-nya di wilayah Cugenang maka dinamakan Patahan Cugenang, patahan yang baru terbentuk atau ditemukan melintasi 9 desa di dua kecamatan dengan lintasan yang mengarah ke barat laut tenggara," katanya.

Kata dia, ada sembilan desa yang dilintasi Patahan Cugenang. Delapan desa diantaranya di Kecamatan Cugenang yakni, Desa Ciherang, Ciputri, Cibeureum, Nyalindung, Mangunkerta, Sarampad, Cibulakan, dan Benjot, sedangkan ujungnya di Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur.

Dwikorita menjelaskan, zona berbahaya harus dikosongkan dari bangunan tempat tinggal. Meski demikian, lokasi tersebut bisa dialihkan menjadi lahan pertanian, resapan, konservasi hingga objek wisata dengan catatan tanpa bangunan.

"Untuk konsepnya ruang terbuka tanpa ada bangunan. Sehingga ketika kembali terjadi gempa di titik yang sama, tidak ada bangunan yang ambruk menimpa warga atau korban jiwa. Namun intinya di lahan tersebut terlarang dari bangunan," paparnya.

BMKG juga meminta pemerintah daerah untuk tetap siaga dan waspada terhadap sesar aktif yang melintasi wilayah Cianjur, bahkan pihaknya telah memberikan peta sesar ke Pemkab Cianjur untuk menjadi acuan dan diwaspadai.

Baca Juga: Yessy Duta Sertifikat Rumah Akui Dihamili Ryan Dono: Kami Berhubungan Badan Berlebihan

Load More