News / Nasional
Senin, 03 Maret 2014 | 01:07 WIB
Asap dari hutan yang terbakar di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis, Riau, Jumat (28/2/2014) lalu. (Foto: Antara/Satgas Bencana Asap Riau/HO)

Suara.com - Turunnya hujan dengan curah bervariasi di beberapa kawasan di Riau yang belakangan terutama jadi sumber kebakaran hutan dan lahan, pada Minggu (2/3/2014) sore, lumayan membantu mengurangi pekatnya kabut asap. Setidaknya, seperti dilaporkan di Pekanbaru, jarak pandang pada Minggu sore sempat meningkat menjadi 1.200 meter.

Sebagaimana laporan pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berdasarkan rilis yang dikirimkan hari Minggu, hujan cukup deras antara lain tercatat turun di wilayah Kabupaten Bengkalis, khususnya daerah Bukit Batu, Desa Tanjung Leban. Hujan dilaporkan turun antara pukul 15.30 hingga 16.30 WIB. Hujan lain yang juga deras pun dilaporkan turun di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), tepatnya di wilayah Tanah Putih, antara pukul 15.00 sampai 16.15 WIB.

Selain itu, hujan pun dilaporkan turun di kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil, Bengkalis, begitu pula di wilayah Indragiri Hulu (Inhu). Sementara hujan gerimis dilaporkan turun di Dumai di Desa Bagan Besar, antara pukul 15.30 sampai 16.00 WIB, juga di wilayah Gaung, Inhil, sedangkan di beberapa wilayah di Kampar dilaporkan mendung pada sore tersebut.

Sementara itu, masih menurut BNPB, operasi pemadaman kebakaran lahan dan hutan di Riau sendiri terus dilakukan. Dikatakan, berdasarkan data dari satelit NOAA18, hingga Minggu, masih terpantau adanya 54 hotspot di Riau, yang tersebar di Meranti sebanyak 17 titik, Inhil (15 titik), Pelalawan (8), Bengkalis (7), Siak (4), Inhu (2), serta di Dumai 1 titik.

Kondisi ini, menurut pihak BNPB pula, berpengaruh pada menurunnya kualitas udara tidak sehat. Dilaporkan, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pada Minggu sekitar pukul 15.00-16.00 WIB di Pekanbaru mencapai 271 psi, Rumbai 140 psi, Minas 103 psi, Duri 300 psi, Dumai 130 psi, Bangko 416 psi, serta di Libo 420 psi. Kondisi ini pun tercatat telah menimbulkan jumlah penderita ISPA di Riau mencapai 27.500 orang, dengan penderita asma mencapai 1.031 orang.

Pada Minggu (2/3/2014) pula, dilaporkan bahwa pekatnya kabut asap harus membuat operasi udara dengan dua helikopter water bombing tidak bisa beroperasi. Satu heli untuk survei udara disebut sempat terbang pada pukul 14.29 WIB ke arah Bengkalis, namun baru sampai di wilayah Siak harus kembali lagi karena visibility hanya mencapai 200 meter.

Menurut catatan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, beberapa kawasan yang sudah menjalani pemadaman antara lain adalah di Cagar Biosfir Giam Siak Kecil, dengan wilayah terpadamkan mencapai 5 ha, meski keberadaan titik api tercatat masih banyak, sementara air sulit. Lalu di wilayah Taman Nasional Tesso Nello (TNTN) dilaporkan kawasan terbakar seluas 20 ha sudah dipadamkan. Kemudian di wilayah Kerumutan, Rengat, kebakaran di wilayah seluas 6 ha pun dilaporkan sudah padam, meski juga masih banyak titik api. Lantas di kawasan Bukit lengkung, dilaporkan sudah padam seluas 2 ha dari 16 ha wilayah yang terbakar.

Sutopo juga menyampaikan bahwa dari Satgas Penegakan Hukum (Gakkum), dilaporkan jika upaya tindak lanjut pengusutan kasus kebakaran hutan Riau tersebut terus berjalan. Sejauh ini, sebanyak 26 orang disebutkan sudah ditangkap, sementara setidaknya satu perusahaan sedang disidik.

Load More