Suara.com - Sebelum Joko Widodo (Jokowi) ditunjuk sebagai calon presiden dan selalu memang hampir disetiap survei saat dibandingkan calon presiden dari partai lain, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri masih belum bersikap jelas.
Belakangan baru Megawati yang menjadi orang kuat di partai belambang banteng, akhirnya mau memberikan tiket gratisnya buat Jokowi.
Langkah itu disebut sebagai sikap revolusioner PDI Perjuangan yang bersedia menerima hasil survei ketimbang suara kalangan internal.
Dari hasil survei terbaru Pusat Kajian Pancasila, Hukum, dan Demokrasi Universitas Negeri Semarang (PUSKAPHDEM-UNNES), mengungkapkan langkah ini suda diperkirakan mengingat persepsi publik khusus PDI perjuangan mengarah ke Jokowi.
“Persepsi publik tentang capres dari PDI Perjuangan memang mengarah kepada Jokowi," ucap Direktur PUSKAPHDEM-UNNES Arif Hidayat di Jakarta dalam diskusi paparan penelitian, diantara presepsi publik dan presepsi elit, Senin (31/3/2014).
Hal tersebut dibuktikan dengan adanya hasil survey dengan tingkat keterpilihan - elektabilitas Jokowi jauh diatas elit PDI Perjuangan lainya.
Angka elektabilitas Jokowi sebesar 54.03% ternyata dua kali lipat Megawati yakni 21.37%. Lalu disusul, Puan Maharani 3.94%, Pramono Anung 1.1%, Tjahyo Kumolo 0.27%, dan undecided voters 19.26%.
Berita Terkait
-
Guntur Romli Kuliti Jokowi: Demi PSI, Dinilai Lupa Rakyat dan Partai Sendiri
-
Guntur Romli PDIP Sebut Jokowi Bukan Lagi Teladan, Hanya Mementingkan Syahwat Kuasa dan Dinasti
-
Jokowi Mati-matian Bela PSI, Dinilai Bukan Sekadar Dukungan
-
Jokowi 'Mati-matian' Bela PSI: Bukan Sekadar Dukungan, Tapi Skema Dinasti Politik 2029
-
Belum Jadi Kader Resmi, Jokowi Disebut Sudah Ajak Relawannya untuk Masuk PSI
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Muncul Isu Liar Soal Rully Anggi Akbar Setelah Digugat Cerai Boiyen
Pilihan
-
Setiap Hari Taruhkan Nyawa, Pelajar di Lampung Timur Menyeberang Sungai Pakai Getek
-
Mundur Berjamaah, Petinggi OJK dan BEI Kalah dengan Saham Gorengan?
-
Kisah Pilu Randu Alas Tuksongo, 'Raksasa yang Harus Tumbang' 250 Tahun Menjadi Saksi
-
Insentif Mobil Listrik Dipangkas, Penjualan Mobil BYD Turun Tajam
-
Pasar Modal RI Berpotensi Turun Kasta, Kini Jepang Pangkas Rekemondasi Saham BEI
Terkini
-
Dari MBG Sampai ASRI, Presiden Prabowo Menggugah 4 Ribu Lebih Peserta Rakornas Kemendagri 2026
-
Eksekusi Brutal di Bali: Dua WNA Australia Dituntut 18 Tahun Penjara Kasus Pembunuhan Berencana
-
Eks Pejabat Kemendikbud Akui Terima Rp701 Juta dari Pemenang Tender Chromebook
-
Skandal Suap Jalur Kereta Api, KPK Cecar Direktur Kemenhub Jumardi Soal Aliran Dana dan Tender
-
Pantura Genuk Minim Genangan di Musim Hujan, Infrastruktur Pengendali Banjir Dioptimalkan
-
Satgas PKH Sedang Verifikasi Temuan PPATK Soal Hasil Penambangan Emas Ilegal Senilai Rp992 Triliun
-
Pandji Pragiwaksono Dicecar 48 Pertanyaan Usai Diperiksa Bareskrim: Saya Ikuti Prosesnya Saja
-
Lebih Ganas dari COVID-19, Menakar Kesiapan Indonesia Hadapi Virus Nipah yang Mematikan
-
Dirut Garuda dan Perwakilan Embraer Sambangi Istana, Bahas Rencana Pembelian Pesawat?
-
Jakarta Makin Gampang Tenggelam, Sudah Waktunya Benahi Tata Ruang?