Suara.com - Serangan udara yang dilakukan oleh kubu pemerintah di provinsi Hama, Suriah bagian tengah, telah menyebabkan "gangguan pernafasan dan keracunan.
Demikian yang dilaporkan oleh Syrian Observatory for Human Rights menyatakan Sabtu (12/4/2014), waktu setempat.
Sementara itu media milik negara di negara tersebut menuduh kelompok gerilyawan melepaskan gas klorin di tempat yang sama.
Syrian Observatory for Human Rights mengatakan di provinsi Hama, penduduk kota Kafr Zita yang kesulitan bernafas akibat keracunan saat ini sedang dirawat di rumah sakit setelah sebelumnya terjadi serangan dengan sejumlah ledakan bom pada Jumat (11/4/2014).
"Pesawat-pesawat pemerintah Suriah membombardir Kafr Zita dengan bom yang menimbulkan asap, bau menyengat, dan mengakibatkan sejumlah kasus gangguan pernafasan serta keracunan," kata kepala Syrian Observatory for Human Rights, Rami Abdel Rahmad.
Sejumlah aktivis anti pemerintah di wilayah tersebut menulis di Facebook bahwa "pihak pemerintah membombardir Karf Zita dengan bahan beracun, gas klorin, yang menyebabkan lebih dari 100 kasus gangguan pernafasan." Namun televisi milik negara mengatakan bahwa kelompok al Nusra Fron adalah pihak yang melepaskan gas klorin dalam serangan mematikan di kota tersebut.
"Kami menerima informasi bahwa kelompok teroris al Nusra Front telah melepaskan gas beracun klorin yang menyebabkan dua orang tewas dan 100 orang menderita gangguan pernafasan," kata pembawa acara televisi tersebut.
"Selain itu, ada informasi bahwa al Nusra Front sedang merencanakan serangan ke kota Wadi Deif di provinsi Idlib dan kota Morek di provinsi Hama dengan klorin beracun atau sarin," kata dia.
Sejumlah video yang diunggah oleh kelompok oposisi di YouTube mengambarkan sejumlah lelaki dan anak-anak di sebuah rumah sakit sedang menderita kesulitan bernafas, sementara tiga pemuda lainnya memakai masker oksigen.
Di sebuah video, seorang yang nampak seperti dokter mengatakan "pemboman itu meninggalkan gas berwarna kuning, berbau seperti klorin serta menyebabkan lebih dari 100 orang terluka termasuk di antaranya perempuan dan anak-anak." Pada masa lalu, kelompok oposisi dan sebagaian besar negara menyalahkan Suriah atas serangan kimia pada Agustus 2013 di dekat Damaskus yang diduga menewaskan lebih dari 1.400 orang.
Pemerintah sendiri menolak tuduhan tersebut namun sepakat untuk menyerahkan cadangan senjata kimianya kepada komunitas internasional untuk dihancurkan. (Antara/AFP)
Berita Terkait
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Rilis Oktober, Prekuel Friday the 13th Pamerkan Teaser Perdana
-
IHSG Melonjak ke Level 6.100, WIFI Jadi Jagoan
-
Ngeri! Foto Korban Dimanipulasi AI Jadi Konten Pornografi, Pelaku Ditangkap
-
Mitsubishi Xforce Hybrid Meluncur, Jakarta - Bali Hanya Sekali Isi Bensin
-
Tak Hanya Salurkan KUR, Kopdes Merah Putih Bakal Jadi Outlet Bank hingga Penyalur Bansos
-
Ulasan Kick Kick Kick Kick: Sebuah Komedi tentang Absurditas Kegagalan
-
Piala Dunia Bikin Berkah, Kadin Ungkap Perputaran Ekonomi Tembus Rp5,03 Triliun
-
S&P Puji Danantara, Pandu Sjahrir Akui Kinerja Masih Perlu Dibenahi
-
Antre Solar Berujung Maut, Kenapa BBM Langka di Sumatra?
-
Bolehkah Ngecas HP Semalaman Ditinggal Tidur? Simak Mitos dan Faktanya Biar Baterai Nggak Cepat Soak