Suara.com - Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung, Bejoe Dewangga, mengkritisi pernyataan Calon Presiden (Capres) nomor urut 1 Prabowo Subianto terkait persoalan konversi hutan yang rusak menjadi sawah. Menurutnya, jika hal itu dilakukan justru akan sangat memperparah kondisi kerusakan hutan dan lingkugan yang telah terjadi saat ini.
"Kerusakan hutan di Indonesia seluas 77 juta hektare seperti disampaikan Calon Presiden nomor urut 1 Prabowo Subianto tidak mungkin dikonversi menjadi sawah," katanya di Bandarlampung, Minggu (15/6/2014) malam.
"Perubahan hutan menjadi sawah akan menimbulkan hal negatif karena hutan adalah wilayah resapan air. Kalau dijadikan sawah malah akan menyebabkan bencana alam, seperti longsor, air juga akan tercemar akibat pengelolaan sawah yang menggunakan pupuk dan bahan kimia. Hutan itu harus direboisasi atau dihijaukan dan dihutankan kembali, bukan dikonversi menjadi sawah, itu keliru," ujarnya.
Karena itu, ia menilai Prabowo tidak paham mengenai apa yang dipaparkannya. "Mungkin sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, dia tidak turun ke lapangan, karena itu Prabowo ke depan harus lebih riil dalam memaparkan pembangunan sektor kehutanan. Hutan jangan dikonversi, tapi direboisasi," katanya.
Cara lain untuk pengelolaan hutan rusak, ungkapnya, adalah dengan menyerahkannya kepada masyarakat untuk menghijaukannya kembali dengan tetap memberi manfaat untuk masyarakat. Sebab, pengelolaan hutan oleh masyarakat, akan membuat rakyat lebih sejahtera, karena untuk memperbaiki hutan adalah manusianya dulu, bukan hutannya.
"Masyarakat akan sejahtera dan dapat memanfaatkan hutan tersebut," kata Bejoe.
Seperti diketahui, dalam debat capres tahap kedua, Prabowo mengemukakan akan menangani kerusakan hutan dengan mengubahnya menjadi sawah yang produktif untuk menciptakan lapangan kerja baru dan menghasilkan produksi pangan yang diperlukan bangsa ini. (Antara)
Berita Terkait
-
Sengaja atau Tak Peka? Mengapa Prabowo Baru ke NTT di Hari ke-11 Setelah Gempa?
-
Prabowo Bisa Jatuh, Peringatan Keras Eks Direktur Intelijen BAIS Soal Momentum Oktober
-
Eks Intel BAIS Wanti-wanti Prabowo: Aksi Agustus Adalah Embrio, Bisa Lanjut atau Jatuh!
-
Hanura Ganti Logo Jadi Singa, Bawa Misi Kembali ke Senayan di 2029
-
APKLI Ganti Nama Jadi APKLI Merah Putih, Dukung 5 Program Prioritas Prabowo
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
- 5 Pilihan Rice Cooker Panci Keramik yang Awet, Tahan Gores, dan Mudah Dibersihkan
Pilihan
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
Terkini
-
Mending Groupset Shimano atau SRAM? Kenali Bedanya Sebelum Merakit Sepeda
-
Cara Mencegah Flek Hitam Datang Lagi Setelah Berhasil Dihilangkan, Jangan Lupakan 7 Hal Ini
-
8 WNI Diduga Jadi Tentara Bayaran Rusia, Menhan Sjafrie Buka Suara
-
Obrolan Tanpa Akhir dan Seni Jatuh Cinta dalam Film Before Sunrise
-
Bensin Langka, Warga di Berau Rela Antre BBM Eceran
-
5 Arti Mimpi Meninggal Sendiri Menurut Primbon Jawa, Pertanda Baik atau Petaka?
-
Emiten Milik Bakrie hingga Salim Kena Sanksi Miliaran dari OJK, Berikut Daftarnya
-
WNI Meninggal di Gunung Fuji Akibat Serangan Jantung Saat Tur
-
8 WNI Diduga Jadi Tentara Bayaran Rusia, Menhan Sjafrie Buka Suara
-
4 Acne Cleanser yang Ampuh Hempaskan Bruntusan Tanpa Merusak Skin Barrier