News / Nasional
Selasa, 09 September 2014 | 14:09 WIB
Presiden terpilih Joko Widodo diantara tim transisi saat meresmikan Rumah Transisi, Jakata, Senin (4/8). [suara.com/Bagus Santosa]

Suara.com - Pola presiden terpilih Joko Widodo merekrut calon menteri tidak ubahnya seperti kontes akademia. Hal itu dikatakan akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang Dr Ahmad Atang MSi.

"Bagi saya pola Jokowi melakukan rekruitmen calon menteri dengan melibatkan partisipasi publik melalui jajak pendapat tidak ubahnya seperti kontes akademia," katanya di Kupang, Selasa (9/9/2014).

Pola tersebut, lanjutnya, di satu sisi karena Jokowi ingin memberikan tanggung jawab kepada publik untuk menentukan siapa yang layak menjadi pembantunya dalam menjalankan roda pemerintahan lima tahun.

Namun menuru Atang, langkah tersebut justru memperlemah hak prerogatif yang secara hukum dan politik mutlak berada di tangan presiden dalam menentukan figur yang layak untuk menjadi menteri.

Bahwa Jokowi mempunyai hak untuk memilih dari sekian banyak masukan, namun Jokowi tidak mempunyai kebebasan mutlak.

"Pola ini menurut hemat saya sebagai bentuk distorsi kekuasaan yang sedang dipraktikan oleh Jokowi," katanya.

Dia mengatakan, jika keinginan Jokowi sama dengan keinginan publik, maka sedikit saja seorang menteri salah dalam menentukan kebijakan, justru publik dianggap telah melakukan kesalahan.

Apakah ini sebuah bentuk pengalihan masalah dari presiden kepada rakyat di kemudian hari, katanya. (Antara)

Load More