Suara.com - Ditjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Djoermansyah Djohan menjelaskan, Pilkada langsung dan serentak akan menghemat anggaran Pilkada hingga 50 persen.
"Kalau sebelumnya biaya hingga Rp70 triliun, maka Pilkada kita ke depan, baik Gubernur maupun bupati atau wali kota akan berkurang hingga 50 persen, berarti 35 triliun," kata Djohermansyah di Ruang Rapat Komisi II DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (9/9/2014).
Meskipun menghemat anggaran hingga setengahnya, dia menilai bahwa pemilihan serentak ini tidak hanya bertujuan untuk menghemat uang, melainkan agar pemerintah juga bisa fokus bekerja daripada mengurus Pilkada terus menerus.
"Pemilihan secara serentak ini juga bertujuan agar pemerintah fokus dalam bekerja, tidak mengurus Pemilu semata," tambahnya.
Selain itu dia juga menilai, untuk memperjuangkan nilai-nilai demokrasi memang membutuhkan biaya yang mahal.
Dia menolak pendapat sejumlah fraksi di DPR yang beralasan Pilkada lewat DPR untuk menghemat biaya.
"Demokrasi itu butuh biaya, namun kita harus efisien dalam menggunakan biaya agar demokrasi tersebut tetap terwujud, masa untuk kepentingan rakyat tidak ada biayanya," tutup Djoermansyah Djohan.
Dari sepuluh fraksi di DPR, enam diantaranya menolak mekanisme Pilkada langsung. Keenam fraksi adalah yang tergabung dalam koalisi Merah-Putih pro Prabowo.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan