Suara.com - Jurnalis Amerika Serikat (AS), Allan Nairn, mengaku dicecar sebanyak 40 pertanyaan oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Allan diperiksa lebih dari 6 jam oleh penyidik terkait kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di Dusun Talangsari, Lampung, pada 1989, yang disebut dilakukan oleh mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Hendropriyono.
"Polisi mau tanya (soal) wawancara saya dengan Jenderal Hendropriyono, khususnya tentang fakta bahwa dia bilang sama saya, bahwa korban Talangsari bunuh diri," ujar Allan, usai diperiksa di Polda Metro Jaya, Selasa (10/2/2015).
Allan pun membeberkan yang sebenarnya terjadi. Menurutnya, kejadian di Talangsari bukanlah bunuh diri, melainkan pembunuhan massal.
"Sebenarnya itu pembunuhan massal oleh pasukan Hendro. Tapi dia bilang bunuh diri. Jadi saya katakan itu sama polisi," imbuhnya.
Allan pun menegaskan, hal tersebut tidak bisa dibantah, karena Komnas HAM menurutnya sudah mempunyai banyak bukti dan kesaksian terkait peristiwa nahas tersebut.
"Komnas HAM karena banyak kesaksian, banyak bukti, saya cari beberapa hari lalu di Talangsari. Saya jumpa korban-korban, bicara banyak di sana termasuk (dengan) tentara dan polisi di sana. Dan jelasnya, itu pembantaian massal oleh Jenderal Hendropriyono," tandasnya.
Untuk diketahui, Allan Nairn adalah seorang jurnalis investigasi asal AS. Allan pernah memenangkan penghargaan dan menjadi terkenal ketika dirinya dipenjarakan oleh pasukan militer Indonesia pada saat melakukan peliputan di Timor Timur. Tulisan-tulisannya selama ini diketahui berfokus pada kebijakan luar negeri AS di negara-negara seperti Haiti, Guatemala, Indonesia dan Timor Timur.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
Terkini
-
Pascabanjir Sumatra, Penanganan Beralih ke Pemulihan Layanan Kesehatan dan Kebutuhan Dasar
-
Indonesia Tancap Gas Jadi Pusat Halal Dunia lewat D-8 Halal Expo Indonesia 2026
-
Literasi Halal Dinilai Masih Lemah, LPPOM Siapkan Pelajar Jadi Agen Perubahan
-
Jepang Studi Banding Program MBG di Indonesia
-
Kasus Korupsi LPEI Berkembang, Kejati DKI Tetapkan 4 Tersangka Baru dan Sita Aset Rp566 Miliar
-
Merasa Tak Dihargai, Anggota DPR Semprot Menteri KKP: Kami Seperti 'Kucing Kurap'
-
Korban Bencana Boleh Manfaatkan Kayu Hanyut, Kemenhut Juga Stop Penebangan Hutan
-
Politisi PDIP Ingatkan Prabowo: Jangan Buru-buru Bangun IKN, Siapkan Dulu Ekosistemnya
-
Bukan Sekadar Banjir: Auriga Desak KLHK dan KPK Usut Dugaan Korupsi di Balik Perusakan Lahan PT TPL
-
BNI Bersihkan Masjid Darul Aman Pascabanjir di Agam