Suara.com - Lembaga pemasyarakatan merupakan lokasi yang rentan menjadi tempat penyebaran virus tuberkulosis atau TB. Sirkulasi udara yang buruk dan jumlah penghuni yang melebihi kapasitas menjadi penyebab meningkatnya kasus TB di rutan atau lapas.
Belum lagi jumlah tenaga medis yang tak sebanding, semakin memperparah resiko penularan TB di rumah tahanan.
Rutan kelas 1 Cipinang misalnya, hingga Desember 2014 lalu dihuni sekitar 3.440 warga binaan yang seharusnya berkapasitas 1.136 orang. Tenaga medis yang tersedia pun hanya 15 orang. Untuk menekan angka kejadian tuberkulosis pada warga binaannya, Rutan Cipinang pun berinovasi dengan menarik kader kesehatan dari para narapidana yang kemudian disebut dengan SOS RUCI (Save Our Soul) Rutan Cipinang.
Para narapidana yang diangkat menjadi anggota SOS RUCI ini berjumlah 33 orang. Mereka dipilih dan dilatih membantu penanggulangan masalah kesehatan di Rutan kelas 1 Cipinang.
"Untuk menyiasati jumlah tenaga medis yang sedikit, kami membentuk SOS RUCI ini. Nggak semua warga binaan bisa bergabung, mereka harus sudah divonis hukuman minimal 2 tahun dan minimal lulus SMA. Kita jadikan mereka sebagai perpanjangan tangan dari tenaga medis," ujar dokter Yulius Sumarli selaku koordinator Poliklinik Rutan Cipinang saat acara Workshop Jurnalis Media di Rutan Cipinang, Selasa (24/2/2015).
Khusus untuk menekan kasus TB di rutan ini, para anggota SOS SUCI pun diberi arahan untuk melakukan survei batuk. Yakni melakukan pelacakan terhadap warga binaan yang sedang batuk selama 24 jam 7 hari seminggu untuk kemudian diberi masker, didata dan diamati batuknya serta dibawa ke poliklinik untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh petugas medis.
"Survei batuk yang dilakukan oleh petugas SOS RUCI ini sebagai bentuk pencegahan dini kasus tuberkulosis di Rutan Cipinang. Jadi meski tenaga medis sedikit kami masih bisa memberi layanan optimal bagi warga binaan," tambah Yulius.
Pengadaan program SOS RUCI ini telah berlangsung sejak Oktober 2010. Peningkatan pelayanan kesehatan di Rutan Cipinang pun terbukti dengan pengurangan jumlah pasien yang mengidap TB. Tahun 2013 lalu ditemukan 49 kasus, dan menurun menjadi 20 pasien pada 2014. Dan hingga hari ini, dokter Yulius mengaku pasien TB yang mendapatkan pengobatan di poliklinik di Rutan Cipinang tinggal 18 orang.
Atas peningkatan pelayanan dalam mengendalikan kasus TB ini pulalah, Rutan Cipinang berhasil mendapatkan penghargaan dari Walikota Jakarta Timur dalam upaya pencegahan dan pengendalian TB di Jakarta Timur tahun 2014.
"Inovasi ini memang layak dicontoh rutan-rutan lainnya. Rutan Cipinang memang pantas mendapatkan penghargaan ini dalam upaya mengendalikan kasus TB," ujar Nugroho selaku Dirjen Bina Kesehatan dan Perawatan Narapidana Kemenkum dan HAM.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila
-
3 Kali ke Prancis dalam 5 Bulan, Elite PDIP Pertanyakan Urgensi Kunjungan Presiden Prabowo
-
Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa
-
Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya
-
Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
-
Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif
-
Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?
-
Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT
-
Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
-
HLUN 2026 Momentum Wujudkan Lansia Tangguh Menuju Indonesia Emas