Pekerja melakukan perawatan jaringan listrik PLN. (Antara/Adeng Bustomi)
Perusahaan Listrik Negara (PLN) area pelayanan Cikupa di Kabupaten Tangerang mengalami kerugian rata-rata Rp151 miliar pertahun. Kerugian itu karena maraknya pencurian listrik di sana.
Wakil Manajer PLN Cikupa Oetoro menjelaskan rata-rata tiap tahun ada 110 juta Kwh listrik yang dicuri. Kebanyakan penncurian dilakukan di jalan-jalan dan pemukiman. Bahkan banyak penncurian yang dilakukan dengan sengaja di kawasan pedalaman kota.
"Kita tahun ini targetkan lost (batas kerugian) 5 persen. Rata-rata tiap tahun ada 110 juta Kwh yang hilang atau dicuri," jelas Oetoro saat ditemui suara.com di kantornya, di Tangerang, Rabu (15/4/2015).
PLN area pelayanan Cikupa ini memenuhi kebutuhan listrik pelanggan mulai dari kawasan Pasar Kemis sampai Balaraja. Jumlah pelanggannya pun mencapai 300 ribu dengan daya 1,4 Mwh.
"Pendapatan yang tertagih Rp300 miliar lebih," jelas dia.
Oetoro bercerita salah satu pencurian yang marak terjadi di areal persawahan. Di sana puluhan mesin penyedot air hidup dengan listrik curian dari tiang. Paling banyak terjadi di kawasan Kronjo dan Kresek.
Kata dia, pencurian itu dilakukan dengan sengaja. Sebab di kawasan Kresek misalnya, ada 75 mesin pompa air yang disediakan seseorang untuk disewakan ke petani. Namun listrik untuk menghidupkn pompa itu diambil secara ilegal dari jaringan PLN di sana lewat label listrik.
Sebuah mesin mempunyai daya listrik 6.500 Volt Amper. Jika dirupiahkan, pemakan harus membayar ke PLN Rp3 juta perbulan. Jika dikalikan dengan 75 mesin itu, maka tagihan lisrik akan mencapai Rp225 juta perbulan atau Rp2,7 miliar pertahun.
"Rp225 juta PLN kehilangan uang setiap bulan. Karena oknum penyedia pompa itu tidak bayar ke PLN. Kan listrik diambil secara ilegal," kata dia.
Sementara menurut pengakuan petani setempat, mereka membayar biaya sewa Rp15 juta pertiga bulan. Sebab petani panen selama 3 sampai 4 bulan sekali.
"Parahnya, petani ini tahunya uang uang itu akan dibayarkan ke PLN. Tapi ternyata dimakan sendiri oleh si pemilik pompa air itu," jelas dia.
Akibat pencurian itu, listrik kawasan pemukiman di sekitar Kresek sering down. Sebab daya travo 630 KvA di sana harus terpotong karena listri dicuri.
"Di sana kawasan menengah ke bawah, travo 630 KVA. Bisa menghidupi 600 rumah. Tapi mereka mencuri separunya. Jadi sering drop listrik di sana. Nah ini kami menadapat laporan dari masyarakat," papar dia.
PLN akan mencabut aliran listrik yang dicuri itu. PLN juga meminta ke Pemerintah Kabupaten Tangerang untuk menyediakan lahan di kawasan persawahan yang butuh aliran listrik tambahan. Lahan itu untuk dibangun gardu baru.
"Kita ingin Pemda melihat dan bisa membantu membangun jaringan. Misal bikin gardu dengan menyediakan tanah," jelas dia.
Wakil Manajer PLN Cikupa Oetoro menjelaskan rata-rata tiap tahun ada 110 juta Kwh listrik yang dicuri. Kebanyakan penncurian dilakukan di jalan-jalan dan pemukiman. Bahkan banyak penncurian yang dilakukan dengan sengaja di kawasan pedalaman kota.
"Kita tahun ini targetkan lost (batas kerugian) 5 persen. Rata-rata tiap tahun ada 110 juta Kwh yang hilang atau dicuri," jelas Oetoro saat ditemui suara.com di kantornya, di Tangerang, Rabu (15/4/2015).
PLN area pelayanan Cikupa ini memenuhi kebutuhan listrik pelanggan mulai dari kawasan Pasar Kemis sampai Balaraja. Jumlah pelanggannya pun mencapai 300 ribu dengan daya 1,4 Mwh.
"Pendapatan yang tertagih Rp300 miliar lebih," jelas dia.
Oetoro bercerita salah satu pencurian yang marak terjadi di areal persawahan. Di sana puluhan mesin penyedot air hidup dengan listrik curian dari tiang. Paling banyak terjadi di kawasan Kronjo dan Kresek.
Kata dia, pencurian itu dilakukan dengan sengaja. Sebab di kawasan Kresek misalnya, ada 75 mesin pompa air yang disediakan seseorang untuk disewakan ke petani. Namun listrik untuk menghidupkn pompa itu diambil secara ilegal dari jaringan PLN di sana lewat label listrik.
Sebuah mesin mempunyai daya listrik 6.500 Volt Amper. Jika dirupiahkan, pemakan harus membayar ke PLN Rp3 juta perbulan. Jika dikalikan dengan 75 mesin itu, maka tagihan lisrik akan mencapai Rp225 juta perbulan atau Rp2,7 miliar pertahun.
"Rp225 juta PLN kehilangan uang setiap bulan. Karena oknum penyedia pompa itu tidak bayar ke PLN. Kan listrik diambil secara ilegal," kata dia.
Sementara menurut pengakuan petani setempat, mereka membayar biaya sewa Rp15 juta pertiga bulan. Sebab petani panen selama 3 sampai 4 bulan sekali.
"Parahnya, petani ini tahunya uang uang itu akan dibayarkan ke PLN. Tapi ternyata dimakan sendiri oleh si pemilik pompa air itu," jelas dia.
Akibat pencurian itu, listrik kawasan pemukiman di sekitar Kresek sering down. Sebab daya travo 630 KvA di sana harus terpotong karena listri dicuri.
"Di sana kawasan menengah ke bawah, travo 630 KVA. Bisa menghidupi 600 rumah. Tapi mereka mencuri separunya. Jadi sering drop listrik di sana. Nah ini kami menadapat laporan dari masyarakat," papar dia.
PLN akan mencabut aliran listrik yang dicuri itu. PLN juga meminta ke Pemerintah Kabupaten Tangerang untuk menyediakan lahan di kawasan persawahan yang butuh aliran listrik tambahan. Lahan itu untuk dibangun gardu baru.
"Kita ingin Pemda melihat dan bisa membantu membangun jaringan. Misal bikin gardu dengan menyediakan tanah," jelas dia.
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Dirjen Imigrasi Copot Pejabat Terkait Pungli Batam, Buka Peluang Proses Pidana
-
Formappi Soal Permintaan RDPU Kasus Korupsi Minyak Mentah: Komisi III Bukan Tempat Uji Hukum!
-
Cak Imin Dorong Koperasi Merah Putih Siap Bersaing di Tengah Kebuntuan Global
-
Survei Poltracking: Kepercayaan Publik pada Prabowo-Gibran Tembus 75,1 Persen
-
Golkar Bukan Milik Satu Keluarga! Bahlil Ingatkan Kader Tak Saling Singkirkan karena Beda Pilihan
-
MKD DPR Panggil Aboe Bakar Besok Soal Isu Ulama Madura di Pusaran Narkoba
-
Kemhan Luruskan Kabar 'Akses Udara Tanpa Izin' Militer AS: Itu Masih Pembahasan, Jangan Terprovokasi
-
Mendagri Tegaskan Dana Otsus dan Dana Keistimewaan Harus Beri Manfaat Nyata bagi Masyarakat
-
Mendagri Pastikan Pengawasan Diperketat, Pemanfaatan Dana Otsus Lebih Optimal
-
Diplomasi 'Sahabat' di Kremlin: Putin Puji Prabowo, Indonesia Tancap Gas Perkuat Ekonomi dan Energi