Menteri LHK Siti Nurbaya
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Siti Nurbaya, mendampingi Perdana Menteri Norwegia, Erna Solberg, ke hutan adat Senamat Ulu, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, Rabu (15/4/2015).
Setiba di Bandara Bungo pukul 02.00 WIB, MenLHK RI dan PM Norwegia langsung menuju hutan adat dengan jarak tempuh tiga jam perjalanan. Menteri LHK dan PM harus melewati lereng bukit terjal, bahkan menyeberangi air sungai dipenuhi bebatuan untuk sampai ke lokasi.
Erna Solberg dan Menteri LHK meninjau kawasan hutan adat, lokasi Hydropower, meninjau pembibitan tanaman hutan dan mengadakan pertemuan dengan orang Rimba kelompok Bujang Tampui.
"Saya kebetulan ditugaskan mendampingi PM Norwegia dan melihat secara langsung apa yang terjadi. Dari pertemuan dengan orang rimba tadi ada persoalan yang bisa saya petik dan menjadi pemikiran kita ke depan untuk dikembangkan kebijakannya," kata Siti Nurbaya.
Persoalan itu yakni posisi lahan, di mana suku anak dalam merasa kesulitan setelah hadirnya tiga perusahaan. Namun Siti Nurbaya baru mengetahui dua nama perusahaan yang dimaksud.
"Saya sudah cek dua perusahaan, sudah tau namanya dan kita cari tau lagi satu perusahaan yang mereka maksud, makanya saya nanya tinggal mereka sebenarnya di mana," katanya menjelaskan.
Di samping itu, lanjutnya, orang rimba juga mengatakan bahwa mereka kehilangan mata pencaharian, dan berkali-kali mereka mengatakan ingin mengolah lahan pertanian.
"Mereka bilang berburu dan mengambil hasil hutan sudah susah, jadi mereka berkeinginan mengolah pertanian. Saya kira yang terpikir juga oleh mereka bahwa sesungguhnya kehidupan di hutan adalah melakukan pertanaman sambil menjaga alam," jelasnya.
Menteri juga mengungkapkan, temuan di lapangan akan dilaporkan ke Presiden untuk menjadi kebijakan seperti apa nanti. Namun kebiasan nomaden dan memburu bagi orang rimba tetap jadi pertimbangan.
Siti Nurbaya menambahkan, pemerintahan Jokowi sudah menegasakan bahwa hutan itu adalah untuk mensejahterahkan rakyat. Dan pemerintah saat ini hanya tinggal memformalisasikannya saja skema yang sudah disusun. (Antara)
Setiba di Bandara Bungo pukul 02.00 WIB, MenLHK RI dan PM Norwegia langsung menuju hutan adat dengan jarak tempuh tiga jam perjalanan. Menteri LHK dan PM harus melewati lereng bukit terjal, bahkan menyeberangi air sungai dipenuhi bebatuan untuk sampai ke lokasi.
Erna Solberg dan Menteri LHK meninjau kawasan hutan adat, lokasi Hydropower, meninjau pembibitan tanaman hutan dan mengadakan pertemuan dengan orang Rimba kelompok Bujang Tampui.
"Saya kebetulan ditugaskan mendampingi PM Norwegia dan melihat secara langsung apa yang terjadi. Dari pertemuan dengan orang rimba tadi ada persoalan yang bisa saya petik dan menjadi pemikiran kita ke depan untuk dikembangkan kebijakannya," kata Siti Nurbaya.
Persoalan itu yakni posisi lahan, di mana suku anak dalam merasa kesulitan setelah hadirnya tiga perusahaan. Namun Siti Nurbaya baru mengetahui dua nama perusahaan yang dimaksud.
"Saya sudah cek dua perusahaan, sudah tau namanya dan kita cari tau lagi satu perusahaan yang mereka maksud, makanya saya nanya tinggal mereka sebenarnya di mana," katanya menjelaskan.
Di samping itu, lanjutnya, orang rimba juga mengatakan bahwa mereka kehilangan mata pencaharian, dan berkali-kali mereka mengatakan ingin mengolah lahan pertanian.
"Mereka bilang berburu dan mengambil hasil hutan sudah susah, jadi mereka berkeinginan mengolah pertanian. Saya kira yang terpikir juga oleh mereka bahwa sesungguhnya kehidupan di hutan adalah melakukan pertanaman sambil menjaga alam," jelasnya.
Menteri juga mengungkapkan, temuan di lapangan akan dilaporkan ke Presiden untuk menjadi kebijakan seperti apa nanti. Namun kebiasan nomaden dan memburu bagi orang rimba tetap jadi pertimbangan.
Siti Nurbaya menambahkan, pemerintahan Jokowi sudah menegasakan bahwa hutan itu adalah untuk mensejahterahkan rakyat. Dan pemerintah saat ini hanya tinggal memformalisasikannya saja skema yang sudah disusun. (Antara)
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- 5 Rekomendasi Sepatu Lari Kanky Murah tapi Berkualitas untuk Easy Run dan Aktivitas Harian
Pilihan
-
Petani Tembakau dan Rokok Lintingan: Siasat Bertahan di Tengah Macetnya Serapan Pabrik
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
Terkini
-
Bareskrim Bongkar Jaringan Judi Online Internasional, Puluhan Tersangka Ditangkap di Berbagai Kota
-
Ajang 'Pajang CV' Cari Jodoh: Fenomena Cindo Match di Mall of Indonesia
-
Hujan Deras Bikin 10 RT dan 3 Ruas Jalan di Jakarta Tergenang
-
Gus Yahya Bantah Tunjuk Kembali Gus Ipul sebagai Sekjen PBNU
-
Longsor Akibat Kecelakaan Kerja di Sumedang: Empat Pekerja Tewas
-
Polisi Tembakkan Gas Air Mata Bubarkan Tawuran di Terowongan Manggarai
-
Hujan Deras Genangi Jakarta Barat, Sejumlah Rute Transjakarta Dialihkan
-
Alasan Kesehatan, 5 Terdakwa Korupsi Pajak BPKD Aceh Barat Dialihkan Jadi Tahanan Kota
-
Mulai Berlaku 2 Januari 2026, Ini 5 Kebiasaan yang Kini Bisa Dipidana oleh KUHP Nasional
-
Misteri Satu Keluarga Tewas di Tanjung Priok, Ini 7 Fakta Terkini