News / Nasional
Selasa, 05 Mei 2015 | 12:01 WIB
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko (Antara).

Suara.com - Tentara Nasional Indonesia meluncurkan buku 'TNI dan Air Asia QZ‎8510' di Markas Besar, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (5/5/2015). Saat bersamaan, Panglima TNI Jenderal Moeldoko juga meresmikan Museum Media Penerangan TNI.

Moeldoko menjelaskan keterlibata‎n prajurit TNI dalam pencarian korban dan bangkai pesawat Air Asia QZ8510 yang jatuh di perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Ini adalah bagian dari operasi militer non-perang.

"TNI bekerja sungguh-sungguh dalam operasi militer selain perang, dalam konteks menyelesaikan tugas (pencarian) AirAsia. Kami berikan dukungan sepenuhnya. Perintah saya ketika itu tidak ada masing-masing berbuat sendiri-sendiri. Operasi dibawah Badan SAR Nasional," kata Moeldoko.

Dia pun mengklarifikasi pendapat sejumlah pihak yang menilai TNI melampaui kewenangan dalam operasi pencarian korban dan pesawat milik maskapai Malaysia tersebut. Dia tidak mengambil alih kerja-kerja Badan SAR Nasional (Basarnas).

"Tidak ada upaya TNI untuk menggeser peran SAR Nasional. Kami paham tugas masing-masing, tapi ada prinsip Panglima TNI harus hadir pada situasi dalam keadaan kritis," ‎imbuhnya.

Menurutnya, dalam situasi darurat, seorang pemimpin dalam hal ini Panglima TNI harus hadir di lapangan saat prajuritnya bekerja. Kemudian, memberikan dukungan dengan mengerahkan bantuan alutsista dan pasukan cadangan.

‎"Kehadiran pemimpin sungguh diperlukan. Pada saat Panglima beserta staf hadir di Polda Jatim, kami bisa membaca perasaan keluarga korban, mereka sangat berharap keluarganya ditemukan. Kemudian dunia internasional juga menanti-nanti back box ditemukan. Ini menjadi ukuran TNI profesional atau tidak. TNI hadir untuk mengendalikan apa yang harus dan tidak harus dilakukan. Maka saya undang Kepala Basarnas biar nggak ada polemik," tandasnya.

Load More