- Penarikan diri Amerika Serikat dari WHO berisiko menghambat efektivitas respons negara tersebut terhadap potensi wabah virus hantavirus.
- Pemerintah Amerika Serikat kehilangan akses langsung ke data pengawasan penting serta kerja sama teknis dari organisasi WHO.
- Para ahli khawatir bahwa hilangnya kolaborasi antara CDC dan WHO akan menurunkan kecepatan pertukaran informasi penanganan wabah.
Suara.com - Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa baik CDC maupun WHO mungkin akan menghadapi kerugian akibat kurangnya kerja sama antara kedua organisasi tersebut.
Penarikan diri AS dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dapat menghambat respons negara tersebut terhadap kemungkinan wabah hantavirus.
Melansir laman The Jursalem Post, Jumat (8/5/2026), -ara ahli kesehatan mengatakan bahwa dengan keluarnya AS dari organisasi tersebut, negara itu mungkin tidak memiliki akses langsung ke data pengawasan virus dan informasi pelacakan kontak untuk kasus-kasus yang terkait dengan kapal pesiar yang membawa kasus pertama virus mematikan tersebut.
"Dengan para ahli dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) yang tidak lagi menjadi bagian dari tim yang melakukan pengurutan virus, AS mungkin harus mempelajari hasilnya secara tidak langsung, Profesor Kesehatan Global dan Epidemiologi di Universitas George Mason, Amir Albert Roess, memperingatkan," tulis media tersebut.
Menurut situs web CDC, Departemen Luar Negeri telah melakukan kontak langsung dengan penumpang di kapal pesiar tersebut, dan pemerintah "bekerja sama erat dengan mitra internasional kami untuk memberikan bantuan teknis dan panduan untuk mengurangi risiko."
Organisasi tersebut mengklarifikasi bahwa risiko bagi masyarakat Amerika sangat rendah pada saat itu.
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan pada hari Kamis bahwa ia telah diberi pengarahan tentang hantavirus dan menyatakan harapan bahwa virus tersebut terkendali.
"Kami sangat berharap, virus ini terkendali," kata Trump.
Ketika ditanya apakah warga Amerika harus khawatir tentang penyebaran virus tersebut, Trump menjawab: "Saya harap tidak." Ia menambahkan bahwa laporan tentang virus tersebut diharapkan akan keluar pada hari Jumat.
Baca Juga: Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
NBC mengatakan bahwa para pejabat WHO bertukar informasi dengan AS berdasarkan peraturan kesehatan internasional yang mengharuskan negara-negara untuk melaporkan ancaman kesehatan masyarakat yang menjadi "keprihatinan internasional."
Anaïs Legand, pemimpin teknis WHO untuk demam berdarah virus, mengatakan bahwa organisasi tersebut memiliki "interaksi yang sangat positif dan teratur hampir setiap hari" dengan AS, menurut NBC.
Namun, koordinator keamanan kesehatan global selama pemerintahan Biden, Stephanie Psaki, mengatakan AS sering menerima pembaruan lebih awal tentang wabah penyakit, menurut laporan tersebut.
“Pada saat informasi tersebut dibagikan kepada publik… para ahli di WHO dan CDC seringkali sudah mengetahuinya selama beberapa hari atau minggu,” kata Psaki.
AS secara resmi meninggalkan WHO pada Januari setelah 78 tahun menjadi anggota.
Trump mengumumkan keluarnya AS dari WHO tak lama setelah ia menjabat tahun lalu, dengan alasan penanganan pandemi COVID-19 yang buruk, menurut laporan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Filipina Mulai Ketar-ketir Efek Domino Konflik Geopolitik, Termasuk Perang AS - Iran
-
Catatan Tertulis Suku Indian Navajo Tunjukkan Hantavirus Sudah Lama Mengintai Umat Manusia
-
Panas! Ade Armando Batal Maaf ke Jusuf Kalla Jika Laporan Polisi Tak Dicabut
-
Studi Ungkap Dilema Nikel: Dibutuhkan untuk Energi Bersih, tapi Ancam Lingkungan
-
Bidik Tersangka Tragedi Bekasi: Polisi Periksa 39 Saksi dari Pejabat KAI hingga Bos Taksi Green SM
-
Cek Fakta: Benarkah Hantavirus Disebabkan Efek Samping Vaksin Covid-19 Pfizer?
-
Kasus Kekerasan Gender Tembus 376 Ribu, LBH APIK Ungkap Lemahnya Perlindungan Korban
-
Eks Gubernur Sultra Nur Alam Dilaporkan ke KPK Terkait Korupsi Dana Unsultra Rp12 Miliar
-
Detik-Detik Sopir Taksi Green SM Selamat dari Maut Sebelum KRL Ditabrak Argo Bromo
-
AS Langgar Gencatan Senjata, Militer Iran Panaskan Mesin Siap untuk Perang Lagi