Suara.com - Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana (Lulung) membeberkan ihwal pengadaan kasus alat uninterruptible power supply untuk sekolah yang dianggarkan dalam APBD Perubahan 2014.
"Selama itu usulan dari eksekutif dibahas antara eksekutif dan legislatif (Komisi E). Disepakati bersama dalam paripurna itu ditanggungjawabkan bersama," kata Lulung di gedung DPRD Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2015).
Menurut Lulung, pengadaan alat UPS pada tahun 2014 telah disepakati Gubernur DKI Jakarta (ketika itu dijabat Joko Widodo) dan Ketua DPRD DKI Jakarta ketika itu.
"Penanggungjawabnya bapak gubernur dan di sini pimpinan DPRD. Kalau kemudian ada hal-hal yang bisa merugikan anggaran belanja itu, itu nantinya terdapat lebih dahulu di eksekutif. Karena eksekutif adalah pengguna daripada anggaran belanja," kata Lulung.
"Kemudian anggaran belanja itu dibeli sebuah barang UPS tadi, dilelang, harus diperiksa. Karena SPD-nya, surat penyediaan dana tadi ditandatangani Sekda DKI bersama gubernur," Lulung menambahkan.
Politisi PPP menyalahkan Joko Widodo selaku Gubernur DKI Jakarta dan Sekertaris Daerah Saefullah yang menurutnya tidak mengecek terlebih dahulu sebelum menyetujui usulan pengadaan UPS.
"Harusnya Pak gubernur dan Sekda melihat UPS itu apakah ada pelanggaran mark up atau tidak. Kedua, apakah dibutuhkan sekolah-sekolah, ada evaluasinya apakah dibutuhkan," ujarnya.
Tak hanya itu, Lulung juga mempermasalahkan, pemenang tender UPS. Ketika itu, kata dia, juga tidak dicek apakah benar perusahaannya dan apakah perusahaan memiliki kantor yang jelas. Sebagaimana diketahui beberapa tempat pemenang tender UPS tidak jelas keberadaannya.
"Dilihat accountnya, rekeningnya, ada duit kagak, mampugak beli, baru dimenangkan. Jangan dulu dibuat SPD, karena yang menandatangani itu adalah orang yang bertanggungjawab. Kmudian ULP baru berani lelang setelah ada uangnya. Kalau gak ada uangnya dia kagak berani lelang," kata Lulung.
"Tuposki dewan membuat perda (peraturan daerah), menyelenggarakan hak budgeting usulan pemerintah, pengawasan, lelang itu kta tidak tahu. Pertimbangannya adalah gubernur dan sekda," Lulung menambahkan.
Untuk diketahui, kasus UPS semula dilaporkan ke Polda Metro Jaya dan baru kemudian dilimpahkan ke Bareskrim Polri. Dana pengadaan UPS dicurigai bocor lantaran harganya yang kelewat mahal. Dalam anggaran, satu unit UPS berharga Rp5,8 miliar, padahal, polisi menilai harga standarnya hanya Rp1,2 miliar.
Dalam kasus ini, penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri telah menetapkan dua orang tersangka atas kasus korupsi pengadaan UPS, yakni Zaenal Soleman dan Alex Usman.
Lulung adalah salah seorang yang telah diperiksa Bareskrim untuk saksi tersangka Alex Usman. Ia diperiksa dalam kapasitas Ketua Komisi E pada tahun 2014.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan