Suara.com - Nasib pelarian etnis Rohingya menjadi ujian untuk perkumpulan negara-negara di Asia Tenggara yang tegabung dalam ASEAN. Sejauhmana ASEAN bisa menyelesaikan persoalan kawasan itu.
Seorang anggota parlemen Malaysia, Charles Santiago mengatakan isu pelanggaran hak asasi manusia di kasus Rohingya sangat nyata. Etnis itu tidak diterima di Myanmar dan pindah ke negara-negara tetangga. Nasib mereka terkatung-katung.
"Ini adalah tes untuk ASEAN, untuk keberlanjutan ASEAN. Legitimasi akan tergantung pada ini, dan bagaimana hal itu diselesaikan," kata Charles Santiago seperi dilansir AP, Selasa (19/5/2015).
Dia mengatakan Indonesia, Malaysia dan Thailand harus saling bersaing untuk menunjukkan kepedulian kepada Rohingya. Sebab masalah Rohingya ini berpuluh tahun tidak terselesaikan.
Apa yang dialami Rohingya, kata dia, adalah krisis kemanusiaan yang sudah mendunia. Dunia tahu soal Rohingya sebagai kelompok yang paling teraniaya.
Semetara, Wakil Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin menilai Myanmar harus mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan ketegangan etnis Rohingya. Dikutip Bernama, Myanmar bisa meminta bantuan ASEAN.
Hanya saja, Pemerintah Myanmar menolak disebut sebagai biang masalah kaum Rohingya yang kabur dari negaranya. Hal itu dinyatakan langsung oleh Kantor Kepresidenan Myanmar.
Direktir Kantor Kepresidenan Myanmar, Zaw Htay menegaskan Presiden Thein Sein tidak akan menghadiri undangan Thailand untuk membahas ribuan kaum Rohingya yang mengungsi di Indonesia, Thailand dan Malaysia. Pertemuan akan dilakukan akhir bulan ini.
"Kami tidak mengabaikan masalah migran, tetapi para pemimpin kita akan memutuskan apakah akan menghadiri pertemuan berdasarkan apa yang akan dibahas. Kami tidak bisa menerima tuduhan oleh beberapa negara bahwa Myanmar sebagai sumber masalah," kata Zaw seperti dilansir al-Jazeera, pekan lalu.
Sebelumnya sebanyak 2.000 pengungsi Rohingya melarikan diri dari Myanmar. Mereka terdampar di Thailand, Malaysia dan Indonesia. Sebagian dari mereka bernasib tidak jelas. Rohingya juga kabur dari Bangladesh, namun karena faktor ekonomi. Sementara Rohingya yang kabur dari Myanmar karena faktor konflik lokal.
Kaburnya mereka, dipandang Myanmar karena 'pancingan' dari negara tetangga di ASEAN. Di antaranya Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
"Dari sudut pandang kemanusiaan, itu menyedihkan bahwa orang-orang ini didorong ke laut oleh beberapa negara," kata Zaw. (AP/Fox/Bernama/al-Jazeera)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Markas Judi Online Lintas Negara di Hayam Wuruk Digerebek, Polisi Sita Banyak Barang Bukti
-
Prabowo Tiba di Gorontalo, Langsung Tinjau Kampung Nelayan Leato Selatan
-
ILRC Ungkap Femisida Banyak Terjadi di Ruang Privat, Pelaku Bisa Pasangan hingga Keluarga
-
KPK Bantah Open Donasi Anak Yatim, Poster Berlogo Lembaga Disebar ke Grup WhatsApp
-
Berkunjung ke Miangas, Prabowo Beri Bantuan Kapal Ikan, Starlink hingga Handphone
-
Wamendagri Wiyagus: Kendari Punya Peluang Besar Jadi Pusat Ekonomi dan Industri MICE Indonesia Timur
-
Zulkifli Hasan Target PAN Banten Tiga Besar di Tanah Jawara
-
Usai Jalani Sidang di Jakarta, Ammar Zoni Kembali Dipindah ke Lapas Super Maksimum Nusakambangan
-
Prabowo Janji Renovasi Puskesmas dan Sekolah di Miangas
-
Ada Semangat dan Kehidupan Baru dari Balik Pintu Huntara