Suara.com - Warga Kota Pekanbaru, Provinsi Riau terpaksa hirup udara bercampur asap, karena wilayah tersebut dalam sepekan terakhir diselimuti kabut asap pekat yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terutama pada malam dan pagi hari.
Pantauan di sejumlah papan Indeks Standar Polusi Udara (ISPU) di Pekanbaru, Minggu, menunjukkan kondisi pada posisi "tidak sehat" baik itu papan ISPU yang berada di Jalan Tuanku Tambusai, Jalan Soekarno Hatta dan Jalan Jenderal Sudirman.
"Begitu selesai Tarawih di masjid, maka terasa udara tidak sehat seperti tercampur asap dari kebakaran. Meski demikian, kami tetap hirup udara itu karena tidak punya pilihan. Tapi pintu atau jendela rumah kami tutup rapat-rapat," papar Rika Indah (29), seorang warga di Jalan Dahlia.
Kabut asap pekat yang menyelimuti daerah itu terutama malam hingga pagi hari, telah mengakibatkan sebagian dari warga Pekanbaru mulai mengalami gangguan pernapasan.
"Asap yang menyelimuti Pekanbaru semakin hari semakin tebal. Bukan hanya sesak nafas saja kita rasakan, tapi batuk-batuk dan mata pun semakin perih dibuatnya terutama malam hari," kata Andi (35), warga Jalan Tuanku Tambusai.
Berdasarkan data BMKG Stasiun Pekanbaru, Satelit Terra dan Aqua pada Minggu (12/7) pukul 05.00 WIB mendeteksi ada 237 titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera. Titik panas yang menjadi indikasi kebakaran paling banyak terdeteksi di Provinsi Riau dengan jumlah 167 titik, diikuti Sumatera Utara 37 titik, Jambi 18 titik, Sumatera Selatan 14 titik dan Lampung satu titik.
Di Riau, "hotspot" paling banyak terdapat di Kabupaten Rokan Hilir ada 82 titik, kemudian Bengkalis 40 titik, Rokan Hulu enam titik, Siak dan Meranti empat titik, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu dan Pekanbaru masing-masing dua titik, dan Kampar satu titik.
Tiga daerah diselimuti asap, yakni Kota Pekanbaru dengan jarak pandang tinggal tiga kilometer, Dumai jarak pandang satu kilometer dan Pelalawan jarak pandang tiga kilometer.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, luas kebakaran di daerah itu sejak Juni hingga kini sudah mencapai 1.009 ha dan diperkirakan terus bertambah. Meski demikian, upaya pemadaman terus dilakukan melalui satuan tugas darat yang merupakan kolaborasi TNI, BPBD dan Manggala Agni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Sedangkan, pemadaman lewat udara masih menggunakan dua helikopter milik perusahaan besar di Riau dengan teknologi modifikasi cuaca demi menghasilkan hujan buatan dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Sementara ini, PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) mengaku telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terkait kesiapan "fire fighter" musim kemarau dan telah umumkan periode bahaya api di seluruh wilayah konsesi sejak 1 Juli-31 Agustus 2015.
Langkah itu merupakan upaya pencegahan kebakaran hutan pertama kali dilakukan oleh perusahaan kehutanan di Indonesia dengan menerjunkan satu unit helikopter, 20 orang tim pemadam kebakaran dari wilayah darat selama kurang lebih 9 jam.
"Saat ini kami terus berkoordinasi baik dengan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dan BKSDA untuk memantau perkembangan titik api di TNTN atau wilayah Ukui, Pelalawan lainnya. Kami 'fire fighter' RAPP selalu senantiasa siap dalam membantu," kata tim pemadam kebakaran RAPP Sektor Ukui, Almei Hendra.
Seperti diketahui, RAPP memiliki dua unit helikopter dengan empat kapten pilot serta ratusan tim "fire fighter" yang siap membantu memadamkan api pada setiap kebakaran hutan yang terjadi di luar area konsesi RAPP.
"Seperti titik api yang muncul di sekitar kawasan TNTN ditemukan saat tim 'fire fighter' RAPP melakukan patroli gunakan heli di wilayah konsesi dan juga di luar wilayah yang berbatasan dengan area konsesi RAPP," ucap Almei. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Anak Buah Prabowo Curigai Alat Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung, Netizen: Alam Saja Kena Fitnah
- 5 Menit Kota Makassar Diguyur Hujan
Pilihan
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
-
Duh! 273 Siswa dan 43 Guru di Pati Diduga Keracunan MBG
Terkini
-
Konstruksi Hijau Jadi Tren Baru, Produk Rendah Emisi Mulai Didorong
-
1.931 Sekolah di Flores Kembali Aktif Pascagempa
-
Layanan Asuransi Digital Bisa Jadi Solusi Dorong Akses Perlindungan Kendaraan
-
Detik-Detik Pembunuhan Sekeluarga di Palu Terungkap dalam 34 Adegan Rekonstruksi
-
Ratusan Siswa di Sleman dan Bantul Keracunan MBG, 14 SPPG di DIY Dibekukan, Anggaran Ikut Ditahan
-
MacBook Neo Ubah Standar Laptop Ringan, ADVAN AIR NEO Jawab dengan Intel Wildcat Lake
-
Jeruji Jadi 'Pesantren', Puluhan Napi di Kendari Berhasil Khatam Al-Qur'an
-
Kenapa Setrika Tiba-Tiba Keluar Asap? Jangan Panik, Kenali 5 Penyebabnya!
-
Saksi Kasus Pungli Gowa Ngaku Diperiksa di Bawah Pohon dan Diancam, Polisi: Tidak Benar!
-
Luruskan Pidato Politik, AHY Tegaskan Demokrat Tak Berpaling dari Prabowo