Suara.com - Ratusan orang korban gempa dari Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat menuntut ganti rugi. Mereka datang ke kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Ratusan orang itu meminta bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi atas rumah mereka yang rusak akibat gempa 2009 lalu. Mereka datang ke kantor BPBD setempat menggunakan mobil dan puluhan sepeda motor Kamis (17/12/2015) siang.
"Kami atas nama masyarakat yang berada di Jorong Pandan, Jorong Galapung, Jorong Batu Nanggai dan Jorong Muko Jalan, belum mendapat bantuan padahal rumah kami juga mengalami kerusakan yang sama dengan warga di kecamatan lainnya," kata koordinator aksi, Syafril di Lubuk Basung.
Sesampai di kantor BPBD, mereka melakukan orasi di bawah pengawalan ketat anggota polisi dan setelah itu mereka diterima Sekretaris BPBD, Maizul Hendri. Kedatangan mereka sebagai korban gempa 30 September 2009, untuk meminta BPBD membayarkan dana rehabilitasi dan rekonstruksi yang seharusnya sudah dibayarkan kepada masyarakat di empat kejorongan tersebut.
"Kami menuntut memperoleh dana rehab rekon seperti yang diterima warga di kecamatan lainnya," katanya.
Tuntutan ini sebelumnya sudah disepakati sesuai berita acara pada rapat 20 Februari 2015 di Masjid Istiqfar Galapung, Nagari Tanjung Sani, Kecamatan Tanjung Raya.
"Namun sampai sekarang belum ada realisasinya, jadi kami datang untuk meminta hak kami," katanya.
Sementara itu Sekretaris BPBD Kabupaten Agam, Maizul Hendri mengatakan, masyarakat berhak menanyakan berkaitan dengan hak mereka. Dalam pertemuan itu didapat kesepakatan, antara lain masyarakat yang tidak memiliki tanah di luar empat jorong dan tidak mau direlokasi ke Dama Gadang, maka pemerintah akan membangun infrastruktur umum dan sarana evakuasi bagi masyarakat.
Kemudian bantuan langsung bagi masyarakat akan dilaksanakan secepat mungkin dalam kurun waktu empat bulan ke depan terhitung Januari 2016. Sementara, Kapolres Agam AKBP Eko Budhi Purwono menambahkan, pihaknya mengerahkan ratusan personel dan mobil water canon untuk mengamankan unjuk rasa.
"Aksi yang dilakukan warga ini secara damai dan tidak ada tindakan anarkis. Setelah hasil diperoleh, massa membubarkan diri dan pulang ke rumah mereka," katanya. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris
-
Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026
-
Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI
-
Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI
-
Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan