Suara.com - Jumlah pengungsi di seluruh dunia diperkirakan melampaui rekor 60 juta pada 2015, terutama akibat perang Suriah dan konflik-konflik berkepanjangan. Pernyataan ini dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jumat (18/12/2015).
Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Antonio Guterres, dalam laporannya mengatakan perkiraan itu termasuk 20,2 juta pengungsi yang melarikan diri dari perang dan penyiksaan. "Ini merupakan jumlah terbanyak sejak 1992," kata Antonio Guterres.
Hampir 2,5 juta pencari suaka permohonannya ditunda, dengan Jerman, Rusia dan Amerika Serikat menerima jumlah terbanyak dari hampir satu juta permohonan baru yang diajukan dalam pertengahan pertama tahun ini, katanya.
"2015 bersiap untuk menyaksikan jumlah pengungsi yang melampaui 60 juta untuk pertama kalinya. Tiap satu dari 122 penduduk dipaksa meninggalkan rumah mereka," katanya.
Jumlah keseluruhan pengungsi hingga akhir 2014 tercatat 59,5 juta. Sekitar 34 juta orang hingga pertengahan tahun menjadi pengungsi di dalam negeri, sekitar 2 juta lebih banyak dibandingkan periode sama pada 2014.
Yaman yang menghadapi perang sipil sejak Maret, melaporkan jumlah terbanyak pengungsi baru hingga 933.500 orang.
"Belum pernah ada kebutuhan lebih besar untuk toleransi, belas kasih dan solidaritas terhadap orang-orang yang sudah kehilangan segaanya," ujar Antonio.
Negara-negara berkembang yang berbatasan dengan kawasan konflik masih menampung porsi terbesar pengungsi. Namun Antonio memperingatkan mengenai berkembangnya "kebencian" dan "politisasi pengungsi".
Laporan itu didasarkan pada data resmi hingga pertengahan tahun, sebelum puncak gelombang masuk pengungsi dan migran melintasi Laut Tengah menuju Eropa pada Oktober. Laporan itu memprediksi kemungkinan dari tren-tren yang berkembang untuk mengestimasi jumlah total secara global.
Perang saudara Suriah yang pecah pada 2011 merupakan pendorong utama pengungsian, dengan lebih dari 4,2 juta pengungsi Suriah hingga pertengahan tahun, tercabut dari kampung halaman mereka, kata UNHCR.
Rakyat Suriah bersama Ukraina, tempat pemberontakan di kawasan timur pecah paa April 2014, memberikan kontribusi separuh dari 839 ribu pengungsi dalam pertengahan pertama 2015, katanya.
Kekerasan di Afghanistan, Somalia dan Sudan Selatan memicu pergerakan besar pengungsi, begitu juga dengan pertempuran di Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, dan Irak.
Pemulangan sukarela -langkah agar pengungsi bisa pulang dengan aman- berada pada tingkat terendah selama lebih dari tiga dekade, dengan hanya 84 ribu orang yang pulang hingga pertengahan tahun, dibandingkan 107 ribu pengungsi yang pulang selama periode sama 2014, kata UNHCR.
Banyak pengungsi yang tinggal di pengasingan dalam bertahun-tahun ke depan, katanya. "Sebagai akibatnya, jika anda menjadi pengungsi hari ini, peluang anda untuk pulang lebih rendah dibandingkan kapanpun dalam 30 tahun lebih," jelas Antonio.
Berita Terkait
-
Israel Lancarkan Serangan Brutal di Kamp Pengungsi Nur Shams
-
Tersambar Petir, 13 Anak Tewas di Gereja Kamp Pengungsi Uganda
-
Di Balik Jeruji Besi: Nasib Tragis Ratusan Pengungsi Rohingya di Penjara Bangladesh
-
Ini Alasan Warga Aceh Tidak Ingin Menerima Pengungsi Rohingya
-
Jumat Malam, 13 Warga Gaza Meninggal Diberondong Pesawat Tempur Israel
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
Penampakan Isi Tas Ransel Hitam Berisi Rp850 Juta, Bukti Suap Sengketa Lahan di PN Depok
-
Sukses, Peserta dari Empat Provinsi Antusias Ikuti Workshop "AI Tools for Journalists" di Palembang
-
KPK Tahan Ketua dan Wakil Ketua PN Depok, Buntut Dugaan Minta Fee Rp850 Juta
-
Yudi Purnomo Soal Wacana Polri di Bawah Kementerian: Ingat Pengalaman KPK
-
Soal Usul Duet Prabowo-Zulhas di 2029, Dasco: Kita Anggap Wacana dan Hiburan Buat Rakyat
-
Dasco Ungkap Arahan Prabowo di HUT ke-18 Gerindra: Jaga Uang Rakyat, Jangan Berbuat Perilaku Tercela
-
Gerindra Akhirnya Minta Maaf, Atribut Partainya Ganggu Masyarakat di Jalan
-
Habiburokhman Sebut Pernyataan Abraham Samad Soal Reformasi Polri Salah Kaprah
-
IPW Nilai Polri Bisa Mudah Dipengaruhi Kepentingan Politik Jika di Bawah Kementerian
-
Semangat Berdikari, Soekarno Run Runniversary 2026 Siapkan Beasiswa Pelajar dan Inovasi 'Zero Waste'