Suara.com - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mempertanyakan alasan pemerintah Malaysia mendeportasi aktivis hak asasi manusia (HAM) asal Indonesia, Mugiyanto. Diduga, alasan pendeportasian tersebut lantaran keberadaan Mugiyanto bisa membahayakan dan mengancam pemerintahan Najib Razak dan disebut menjadi bagian dari gerakan #YellowMania.
"Kata siapa? Buktikan dong! Kalau kata-katanya, buktikan dong. Mereka juga di sana punya badan intelijen negara. Kalau mau tanya, verfikasi data dan sebagainya, buktikan datanya di mana, bagaimana," kata Wakil Koordinator Bidang Strategi dan Mobilisasi Kontras, Puri Kencana Putri, saat dihubungi Suara.com di Jakarta, Kamis (7/1/2016).
Puri menilai, pendeportasian yang dilakukan pemerintah Malaysia terhadap Mugiyanto membuktikan bahwa pemerintahan negara-negara di kawasan Asia Tenggara masih sangat sensitif dengan isu demokrasi dan kebebasan berpendapat.
"(Masih) Sangat anti dengan hal-hal yang sifatnya hak untuk berkumpul, menyatakan pendapat, dan sebagainya," kata Puri.
Puri menambahkan, keberadaan Mugiyanto di Malaysia adalah untuk memperkuat solidaritas publik dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA.
"Awal tahun ini kan kita punya masyarakat ASEAN, masyarakat yang terbuka, inklusif, dan kemudian ada tantangannya masyarakat ekonomi ASEAN," katanya.
Sebelumnya diketahui, Mugiyanto dideportasi oleh imigrasi Malaysia. Dia disebut menjadi bagian dari gerakan #YellowMania penentang pemerintahan Najib Razak.
Mugiyanto adalah aktivis HAM dari Kontras. Dia adalah salah satu dari 9 orang yang selamat dari dugaan upaya penculikan militer di bawah pimpinan Presiden Soeharto di masa Orde Baru.
Berdasarkan data Kontras, ada 23 aktivis yang diculik selama periode 1997-1998. Satu di antara mereka ditemukan tewas, sementara 13 di antaranya masih hilang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
Terkini
-
Mulai Tahun Ini, 13 Juli Resmi Diperingati sebagai Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59 Persen, Dukungan Pramono terhadap UMKM dan PKL Tuai Pujian
-
Fadli Zon Sebut Ziarah Gunung Kawi Merupakan Warisan Tradisi
-
Alasan Indonesia Tak Kirim Pejabat Tinggi ke Penghormatan Terakhir Ayatollah Khamenei
-
Biang Kerok Blackout! Polri Bongkar Korupsi Batu Bara PLTU yang Bikin Listrik Padam Massal
-
WNI Tewas Mengenaskan di Jepang, Terduga Pelaku Diduga Tabrakkan Diri ke Kereta
-
Mahfud MD Heran Fenomena UU 'Simsalabim': Tiba-tiba Jadi, Kapan Dibahasnya?
-
Bulog Respon Cepat Masukan Masyarakat, Direktur Operasi Tinjau Penanganan Gudang Karawang
-
Dewan Pers Kabulkan Pokok Aduan Gus Ipul atas Artikel Opini yang Dinilai Menyudutkan
-
Rumor 'Orang Dalam' Bocorkan OTT Kuansing Mencuat, KPK: Itu Cuma Spekulasi!