Suara.com - Malam akhir pekan itu, Beti Suparti dandan ala sinden. Dia pakai kebaya dan rambutnya disanggul.
Setelah ngobrol-ngobrol sejenak, Beti pun menceritakan lika-liku kehidupannya.
Beti atau yang akrab disapa Mami Beti adalah seorang waria. Dia punya keahlian yang jarang dimiliki rekan-rekannya. Dia jago nyinden.
Keteramilan ini dimilikinya karena sejak usia 10 tahun, dia aktif di dunia seni. Mami Beti sering ikut pagelaran ketoprak dan ludruk sewaktu masih tinggal di Ngawi.
"Awalnya aku ikut sanggar Caplin di Ngawi, jadi aku sering manggung. Setiap ada hiburan rakyat pasti ada pagelaran seperti ketoprak. Nggak lama aku diajakin teman di pagelaran wayang kulit menjadi sinden," ujar Mami Beti dengan logat khas Jawa Timur saat berbincang-bincang dengan Suara.com di Wisma Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, Jakarta, Sabtu (9/1/2016).
Bagaimana sikap keluarga ketika dia dandan ala sinden, padahal fisiknya seorang lelaki. Ayahnya marah, sementara ibunya bisa memahami.
"Almarhum ayahku melarang aku waktu ikut pagelaran. Apalagi kalau melihat dandananku seperti perempuan. Pernah pas ketahuan bapak, aku langsung disabet pakai kayu singkong," kata Mami Beti dengan mata berkaca-kaca.
Ia tidak bisa menipu diri. Mami Beti terpaksa kucing-kucingan dengan ayah yang terus melarangnya dandan menyerupai perempuan.
Memutuskan menjadi waria jalanan
Saat ditemui Suara.com, Mami Beti mengenakan kebaya warna biru muda lengkap dengan sanggul. Dia senang bercerita. Mami Beti kemudian bercerita kenapa menjadi waria yang sering berada jalanan.
Waria berusia 65 tahun itu mengaku menjadi waria di pinggir jalan sejak tahun 1993. Macam-macam pekerjaan sudah dilakoninya, bahkan ia mengaku pernah menjual diri kepada para lelaki hidung belang.
Mami Beti pun mengungkit kisah sedih hidup bersama seorang lelaki yang sudah dianggapnya suami. Ia hidup bersama dengan lelaki itu selama 13 tahun.
Lelaki tersebut, kata Mami Beti, kemudian meninggalkan Mami Beti sendirian. Kejadian itu membuat Mami Beti frustasi.
Untuk meninggalkan kenangan, dia pindah dari Bintaro ke Kebayoran. Di Kebayoran, Mami Beti bertemu teman yang kemudian menjadi rekannya di jalan.
"Saya melakukan hal tersebut bukan terpaksa karena ekonomi, karena saya ditinggal pasangan saya (suami). Aku ketemu teman yang ngenalin aku jadi waria pinggir jalan, akhirnya aku mau," katanya.
Selama menjadi waria pinggir di jalanan, Mami Beti mengalami banyak hal. Mulai dari yang tidak mengenakkan sampai yang mengenakkan. Ia pernah menerima perlakuan kasar dari organisasi keagamaan yang sedang sweeping.
"Sudah makanan sehari-hari, itu kan masalah maaf ya kalau masalah bayar nggak bayar, kita sama-sama seneng. Tapi saya pernah diancam pakai pisau dan malah minta uang sama saya. Kami juga sering dipukulin atau digebukin sama organisasi keagamaan yang menganggap kita seperti sampah dan binatang kalau mereka sweeping," katanya.
Usia makin senja
Usia Mami Beti kini tak muda lagi. Tenaganya tak sekuat dulu. Akhirnya, dia memutuskan untuk berhenti jadi waria jalanan.
Sebagai senior, Mami Beti sekarang lebih banyak mengawasi waria-waria muda agar mereka selalu dalam keadaan aman selama di jalan. Selain itu, agar mereka juga punya keterampilan sebagai modal kalau nanti tak kuat lagi di jalanan.
"Sampai sekarang masih suka nengok anak-anak. Kita sadar saya sudah tidak muda lagi. Jadi saya hanya pantau dan tanya apakah aman dan apa ada yang kasar tamu," tutur Mami Beti.
Mami Beti mengungkapkan kesulitan yang dialami waria. Sebagai minoritas, mereka selalu mendapat diskriminisasi dalam banyak hal.
Contohnya, waria sulit sekali mendapat pekerjaan yang baik. Usia muda saja susah, apalagi yang sudah jompo seperti Mami Beti. Nasib waria jompo, rata-rata memprihatinkan.
Tapi, Mami Beti sangat bersyukur. Dia masih bekerja sebagai pembantu rumah tangga di daerah Bintaro. Dia juga bersyukur masih ada keluarga yang baik yang mau mempekerjakan waria.
Sesekali, sampai sekarang, Mami Beti masih diminta menjadi sinden untuk pagelaran wayang kulit.
"Kalau waria yang muda harusnya mendapat pekerjaan. Kalau yang tua kaya kita tinggal berdoa saja untuk bertahan hidup kedepannya. Alhamdulillah saya ada kerjaan untuk urus rumah tangga, kadang suka dipanggil nyinden," kata Mami Beti.
Ia sangat berharap pemerintah memperhatikan kalangan waria, terutama yang sudah jompo.
"Semoga pemerintah peduli kepada waria yang lansia seperti aku dan teman-teman lain bisa diberikan pekerjaan. Juga diberikan BPJS kesehatan. Kami kan warga negara Indonesia juga," kata dia.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
Pilihan
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
-
Bupati Muara Enim Resmi Pakai Rompi Oranye KPK
-
Luhut Bawa Chatib Basri ke Istana, Ini Tujuannya
-
Di Mana Menkeu Purbaya saat Chatib Basri Dipanggil Prabowo ke Istana
Terkini
-
Bukan Cuma Megathrust, Sesar Misterius Ini Membentang dari Jakarta ke Surabaya, Seberapa Bahaya?
-
Kejar Quick Wins! Prabowo Boyong Menkes ke Lampung Besok demi Resmikan RSUD Baru
-
Narrative Backlash! Pakar: Unggahan Lama Prabowo Soal Rupiah Kini Jadi Senjata Makan Tuan
-
Polisi Sita Dokumen dari Lantai 12 WIKA Tower, Buntut Kasus Korupsi Pabrik Gula
-
DKI-Depok Kompak, Jalan Berlubang di Bawah Flyover UI Akhirnya Rata Aspal
-
Biar Serentak ke Meja Hijau, KPK Tambah 30 Hari Masa Tahanan Gus Yaqut di Kasus Haji
-
Otto Hasibuan Digugat Warga, Prabowo Didesak Nonaktifkan Sang Wamenko
-
Saran Mitigasi Korupsi Diabaikan, Ombudsman Bongkar Celah Maladministrasi di BGN dan Imipas
-
Korupsi CSR PT PJU Mandek, Boyamin Saiman Ancam Seret Kejari Banyuwangi ke Jalur Hukum
-
Keluar Istana, Budi Gunadi Jawab Isu Jadi Menkeu Baru