News / Nasional
Selasa, 02 Februari 2016 | 18:34 WIB
Massa dukung Bareskrim tuntaskan laporan Kepala Sub Bidang Penyidikan Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Yulianto, soal ancaman yang diduga dari Hary Tanoe [suara.com/Welly Hidayat]

Suara.com - Massa yang menamakan diri Aliansi Gerakan Pemuda Pemudi Nusantara demonstrasi di depan Markas Besar Polisi Republik Indonesia, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, pada Selasa (2/2/2016). Mereka mendukung polisi menangani kasus ancaman terhadap Kepala Sub Bidang Penyidikan Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Yulianto, yang diduga dilakukan pengusaha Hary Tanoesoedibjo.

"Kami minta Bareskrim mengusut kasus ancaman ini," kata salah satu aktivis, Zuhelmi Tanjung.

Demonstrasi ini menindaklanjuti langkah puluhan jaksa yang menyidik kasus dugaan korupsi restitusi pajak PT. Telecom Mobile 8 yang diduga melibatkan pengusaha Hary Tanoe ke Bareskrim pada Kamis (28/1/2016). Mereka melaporkan kasus ancaman terhadap Yulianto melalui SMS yang diduga dari Hary Tanoe.

Zulhemi meminta aparat kepolisian mendukung penegakan hukum, terutama kasus-kasus korupsi.

"Sudah diterimanya laporan dari jaksa seharusnya polisi menindaklanjuti dan mengecek kebenarannya," kata Zulhemi.

"Semoga apa yang kami sampaikan bisa diusut sesegera mungkin oleh Pak Anang Iskandar," Zulhaemi menambahkan.

Usai membuat laporan, Kamis lalu, Yulianto menjelaskan permasalahannya kepada wartawan.

"Seperti saudara ketahui bahwa saya saat ini sedang menyidik kasus Mobile 8. Pada saat menangani kasus tersebut saya mendapat SMS," kata Yulianto.

Kemudian, Yulianto menunjukkan isi SMS yang menurutnya berisi ancaman. Dia pun membacakan isi SMS yang diterimanya tanggal 5 Januari 2016 jam 16.30 WIB.

"Kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang benar. Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum oknum penegak hukum yang semena-mena yang transaksional yang suka abuse of power. Catat omongan saya, saya pasti pimpin negeri ini. Itulah saatnya Indonesia dibersihkan."

Awalnya, saat menerima SMS itu, Yulianto tidak mau menanggapi.

"Saya tidak merespon, saya pikir sebagai penegak hukum dengan ancaman seperti itu biasa saja. Saya ingin lihat siapa sebenarnya," kata Yulianto.

Tapi, dua hari kemudian, tanggal 7 Januari 2016, dia menerima SMS lagi dari nomor yang sama.

"Kasihan rakyat yang miskin makin banyak sementara negara lain berkembang dan semakin maju," demikian isi SMS yang diterima Yulianto.

Pada tanggal 9 Januari 2016, Yulianto kembali menerima SMS dari nomor yang sama.

Load More