Suara.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta pemerintah mengkaji uang sistem plastik berbayar. Seharusnya minimarket tidak menyediakan plastik di ritel sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap kantong.
Alasannya sistem kantong plastik berbayar ternyata tidak efektif mengurangi konsumsi kantong plastik di Indonesia. Pembeli memilih membayar Rp200 daripada membawa kantong belanja sediri.
Hal itu disampaikan YLKI dalam kajian hasil survei tentang efektifitas uji coba kebijakan kantong plastik berbayar pada ritel modern di Jakarta. Peneliti YLKI, Natalya Kurniawati menjelaskan survei tersebut dilakukan atas dasar keresahan, mengingat data yang dikeluarkan Greeneration Indonesia dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bahwa Indonesia menjadi negara dengan peringkat kedua setelah Cina yang menyumbang sampah plastik di Dunia.
"Ritel dan pemerintah mesti beralih menerapkan kebijakan dalam taraf ekstream, yaitu tidak lagi menyediakan kantong plastik untuk mengurangi potensi sampah kantong plastik secara signifikan," kata Natalya, di Kantor YLKI, Jalan Pancoran Barat VII, No. 1 Duren Tiga, Jakarta Selatan, rabu (13/4/2016).
YLKI mencatat Indonesia menjadi negara kedua yang paling banyak menyumbang sampah plastik di dunia setelah Cina. Petahun, Indonesia menggunakan 9,8 miliar kantong plastik.
"Kebijakan pemerintah luncurkan uji coba kantong plastik berbayar itu sejalan dengan visi yang diusung oleh YLKI, yaitu green consumer," tuturnya.
"Namun demikian, YLKI melihat masih banyak aspek yang harus dipenuhi sebelum kebijakan ini benar-benar ditetapkan setelah selesainya masa uji coba, seperti hak konsumen akan sosialisasi secara masif, dan penanaman nilai edukasi dari kebijakan ini, serta dihadirkannya alternatif solusi bagi konsumen," tegasnya.
Ia juga berharap pemerintah meninjau ulang efektifitas kebijakan tersebut, terlebih dengan ditetapkannya harga kantong plastik berbayar yang hanya minimal Rp200.
"Kebijakan ini harus dikaji ulang, khususnya harga minimun yang ditetapkan itu, cuma Rp200. Itu sudah efektif atau belum? Harapannyakan dengan adanya kebijakan plastik berbayar itu perilaku konsumen bisa berubah, misalnya mereka membawa kantong sendiri saat belanja," katanya. (Dian Rosmala)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
Terkini
-
4 Poin Utama Rapat Terbatas Prabowo di Hambalang: Dari Industri Tekstil hingga Chip Masa Depan
-
Kecupan Hangat Puan dan Prananda untuk Megawati: Sisi Lain Kekeluargaan di Balik Rakernas PDIP 2026
-
Logika KPK: Staf Tak Mungkin Punya Rp4 M, Direksi Wanatiara Otak Suap Pajak?
-
KPK Aminkan Teori 'Kebocoran Negara' Prabowo, Kasus Pajak Tambang Jadi Bukti Nyata
-
Sinyal Tarif Transjakarta Naik Menguat? Anggaran Subsidi Dipangkas, Gubernur Buka Suara
-
KPK: Wajib Pajak Boleh Lawan Oknum Pemeras, Catat Satu Syarat Penting Ini
-
Kena OTT KPK, Pegawai Pajak Langsung Diberhentikan Sementara Kemenkeu
-
Antisipasi Risiko Perluasan, Tanah Ambles di Panggang Gunungkidul Segera Diuji Geolistrik
-
KPK Ungkap Akal Bulus Korupsi Pajak PT Wanatiara Persada, Negara Dibobol Rp59 M
-
5 Fakta OTT Kepala Pajak Jakut: Suap Rp6 Miliar Lenyapkan Pajak Rp59 Miliar