Presiden Asosiasi Periau Danau Sentarum Basriwadi, di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Minggu (29/5/2016). [Suara.com/Dwi Bowo Raharjo]
Mulai 2006, hasil madu hutan yang berada di Desa Leboyan dan Semangit, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, atau sekitar Taman Nasional Danau Sentarum, semakin diterima pasar. Apalagi setelah dibentuk Asosiasi Periau Danau Sentarum. Kualitasnya menjadi lebih terjaga sehingga berpengaruh pada nilainya.
Presiden APDS Basriwadi menjelaskan sebelum pembentukan asosiasi, mengelola madu hanya jadi sampingan. Soalnya, mata pencaharian warga setempat mayoritas nelayan. Jadi, harga madunya pun murah sekali.
"Dulu murah sekali harga madu, sebelum ada APDS harganya per kilo sekitar Rp20 ribu tahun 2005. Melihat situasi harga nggak stabil dan kualitas nggak diperhatikan kita buat APDS, pada tahun 2006 per kilo Rp25 ribu, sekarang (2016) naik per kilo Rp90 ribu untuk petani, kita (APDS) jual per kilo Rp140 ribu," ujar Baswiradi di Dusun Batu Rawa, Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Minggu (29/5/2016).
Presiden APDS Basriwadi menjelaskan sebelum pembentukan asosiasi, mengelola madu hanya jadi sampingan. Soalnya, mata pencaharian warga setempat mayoritas nelayan. Jadi, harga madunya pun murah sekali.
"Dulu murah sekali harga madu, sebelum ada APDS harganya per kilo sekitar Rp20 ribu tahun 2005. Melihat situasi harga nggak stabil dan kualitas nggak diperhatikan kita buat APDS, pada tahun 2006 per kilo Rp25 ribu, sekarang (2016) naik per kilo Rp90 ribu untuk petani, kita (APDS) jual per kilo Rp140 ribu," ujar Baswiradi di Dusun Batu Rawa, Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Minggu (29/5/2016).
APDS merupakan perkumpulan kelompok petani madu hutan dari kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Mereka dibina untuk dapat memanfaatkan kawasan sekaligus melestarikannya.
APDS mencakup 15 Periau (organisasi tradisional yang mengelola madu hutan dan wilayahnya). Sekarang, anggotanya mencapai 305 orang.
Bupati resmikan rumah workshop
Pada Sabtu (14/5/2016) lalu, Bupati Kapuas Hulu A. M. Nasir meresmikan Rumah Workshop Madu Hutan yang dikelola APDS di daerah Semangit, Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau.
Rumah workshop dibangun sebagai sumber informasi pengolahan madu yang selanjutnya akan dikemas. Rumah tersebut juga dipakai buat kantor sekretariat Koperasi APDS.
"Rumah workshop ini adalah salah satu kerjasama APDS dan TNDS, dalam rangka konservasi di taman nasional, ini ada seluruh masyarakat yang mengelola madu hutan," kata dia.
Basriwadi bercerita sebelum memanen madu, masyarakat terlebih dahulu memasang tikung atau dahan buatan. Dahan ini dipasang di pohon-pohon yang lebih rendah dengan tujuan untuk memancing lebah pindah sarang.
Dahan-dahan buatan tersebut ukurannya bervariasi. Biasanya ukuran panjangnya 1,5 meter sampai dua meter dan lebar 15 x 20 sentimeter dan tebal 3-5 sentimeter.
"Rumah workshop ini adalah salah satu kerjasama APDS dan TNDS, dalam rangka konservasi di taman nasional, ini ada seluruh masyarakat yang mengelola madu hutan," kata dia.
Basriwadi bercerita sebelum memanen madu, masyarakat terlebih dahulu memasang tikung atau dahan buatan. Dahan ini dipasang di pohon-pohon yang lebih rendah dengan tujuan untuk memancing lebah pindah sarang.
Dahan-dahan buatan tersebut ukurannya bervariasi. Biasanya ukuran panjangnya 1,5 meter sampai dua meter dan lebar 15 x 20 sentimeter dan tebal 3-5 sentimeter.
Ketika pohon-pohon mulai berbunga, lebah biasanya akan datang mencari makan dan membuat sarang di dahan tiruan tadi.
Teknik ini penting untuk pengembangan produksi madu organik.
"Proses pertama pembuatan tikung, dari daun buatan di atas pohon, pada saat musim lebah biasanya bulan September - Maret, itu biasanya musim madu," kata Baswiradi.
Teknik panen
Teknik panen madu saat ini menggunakan panen lestari. Yaitu panen dilakukan pada siang hari.
Pengambilan madunya memakai pisau antikarat. Sengaja dipilih siang hari karena kalau malam hari, akan banyak lebah yang mati. Kalau pun ada yang selamat, biasanya mereka tidak bisa kembali lagi ke sarang karena kehilangan jejak akibat tak ada cahaya.
Teknik ini penting untuk pengembangan produksi madu organik.
"Proses pertama pembuatan tikung, dari daun buatan di atas pohon, pada saat musim lebah biasanya bulan September - Maret, itu biasanya musim madu," kata Baswiradi.
Teknik panen
Teknik panen madu saat ini menggunakan panen lestari. Yaitu panen dilakukan pada siang hari.
Pengambilan madunya memakai pisau antikarat. Sengaja dipilih siang hari karena kalau malam hari, akan banyak lebah yang mati. Kalau pun ada yang selamat, biasanya mereka tidak bisa kembali lagi ke sarang karena kehilangan jejak akibat tak ada cahaya.
Dan yang terpenting hanya mengambil sebagian kepala madu. Kemudian pengambilan madu dilakukan dengan teknik tetes. Teknik pengasapan juga diterapkan.
Teknik yang dipakai sekarang jauh berbeda dengan zaman dulu. Dulu, warga langsung memotong seluruh sarang lebah sehingga tak memberi kesempatan lebah kembali lagi. Kemudian, sarang madu diperas.
Saat ini, seluruh proses pengambilan madu dilakukan secara higienis sesuai dengan standar Internal Control System yang sudah disepakati oleh para anggota kelompok petani madu.
ICS merupakan sistem penjaminan mutu terhadap madu hutan yang dilakukan secara internal, terdokumentasi dengan baik, serta dapat diperiksa berdasarkan standar yang ditentukan untuk mendapatkan sumber produk madu hutan berkualitas tinggi.
Musim panen
Apabila musim madu hutan tiba, masyarakat yang biasanya jadi nelayan, akan pindah profesi jadi petani madu. Panen, biasanya berlangsung pada musim penghujan. Atau ketika pohon-pohon di kawasan TNDS berbunga.
Teknik yang dipakai sekarang jauh berbeda dengan zaman dulu. Dulu, warga langsung memotong seluruh sarang lebah sehingga tak memberi kesempatan lebah kembali lagi. Kemudian, sarang madu diperas.
Saat ini, seluruh proses pengambilan madu dilakukan secara higienis sesuai dengan standar Internal Control System yang sudah disepakati oleh para anggota kelompok petani madu.
ICS merupakan sistem penjaminan mutu terhadap madu hutan yang dilakukan secara internal, terdokumentasi dengan baik, serta dapat diperiksa berdasarkan standar yang ditentukan untuk mendapatkan sumber produk madu hutan berkualitas tinggi.
Musim panen
Apabila musim madu hutan tiba, masyarakat yang biasanya jadi nelayan, akan pindah profesi jadi petani madu. Panen, biasanya berlangsung pada musim penghujan. Atau ketika pohon-pohon di kawasan TNDS berbunga.
Berikut ini merupakan skema alur produksi madu di Kapuas Hulu.
Menyikapi standar - pembuatan tikung - pemasangan tikung - inspeksi sebelum panen - persiapan panen - panen - memisahkan madu dari sarang - memisahkan kualitas madu - pengisian ke dalam jerigen - penyimpanan di jerigen - pengendapan - proses persetujuan - persiapan dehumidifying - dehumidifying (pengurangan kadar air) - menyiapkan botol kemasan - pemasangan label - pengisian madu ke dalam botol - pengepakan madu ke dalam kardus - produksi.
Menurut data, dari total produksi madu tahun 2014-2015 di Kapuas Hulu sebesar 29.004 ton madu hutan, petani madu menerima pendapatan lebih dari Rp2.4 miliar dengan harga minimum per kilogram Rp85 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram.
Madu-madu ini dijual ke mitra Jaringan Madu Hutan Indonesia, PT. Dian Niaga di Jakarta, dan sisanya dijual ke LSM lokal, Riak Bumi.
Tag
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler
- PP Nomor 9 Tahun 2026 Resmi Terbit, Ini Aturan THR dan Gaji ke-13 ASN
- Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
- 5 Rekomendasi Body Lotion Terbaik Mencerahkan Kulit di Indomaret
- Promo Kue Kaleng Lebaran Indomaret Alfamart Terbaru, Harga Serba Rp15 Ribuan
- Pelatih asal Spanyol Sebut Persib Bandung Kandidat Juara, Kedalaman Skuad Tak Tertandingi
Pilihan
-
Yaqut Diperiksa KPK Pekan Ini Usai Praperadilannya Ditolak, Langsung Ditahan?
-
Dua Kali Blunder Kiper Tottenham Antonin Kinsky Bikin Igo Tudor Kehabisan Kata-kata
-
Teror di Rumah Wali Kota New York Zohran Mamdani: Dua Remaja Lempar Bom Rakitan
-
Trump Bilang Perang Segera Selesai, Iran: Ngaku Saja, Amunisi Kalian Sudah Mau Habis
-
Selain Bupati, KPK Juga Gelandang Wabup Rejang Lebong ke Jakarta Usai OTT
Terkini
-
TNI Masuk Fase Siaga 1, Masyarakat Khawatir Adanya Potensi Represi
-
Waspada Campak Jelang Lebaran: Mengapa Kasus Bisa Naik Saat Libur dan Seberapa Penting Vaksin MR?
-
BMKG Ingatkan Pemudik: Lebaran 2026 Berpotensi Hujan Lebat di Jawa dan Sulawesi
-
Yaqut Diperiksa KPK Pekan Ini Usai Praperadilannya Ditolak, Langsung Ditahan?
-
Penerima PKH Didorong Jadi Anggota Koperasi Merah Putih untuk Tingkatkan Ekonomi
-
Cerita KPK Kejar-kejaran dengan Kadis PUPRPKP Rejang Lebong yang Gendong Tas Isi Ratusan Juta
-
Warga Iran Dihantui Ancaman Serius, WHO Peringatkan Bahaya Fenomena Hujan Hitam
-
OTT Rejang Lebong, KPK Amankan Bukti Uang Rp756,8 Juta di Mobil Kadis hingga Kolong TV
-
Presiden PKS: Selamat Ulang Tahun ke-12 Suara.com, Selalu Membawa Kebaikan
-
Innalillahi Mojtaba Khamenei Jadi Korban Serangan AS - Israel ke Iran