Perwakilan orangtua korban vaksin palsu Rumah Sakit Santa (ST) Elisabeth menyambangi Polda Metro Jaya. Kedatangan mereka untuk melaporkan Direktur RS ST Elisabeth Dr Antonius Yudianto terkait persediaan farmasi berupa vaksin palsu di RS ST Elisabeth
"Jadi hari kami membuat laporan polisi, kami melaporkan Direktur RS Elisabeth di Bekasi dan Dokter anak diantaranya Dokter Fiana dan Dokter Haris,"ujar kuasa hukum para orangtua korban vaksin palsu di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu, Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (23/7/2016).
Hudson menilai pemberian vaksin palsu merupakan bentuk kejahatan luar biasa yang harus di hadapan hukum. Pasalnya dirinya mewakili orangtua korban mempunyai cukup bukti untuk melaporkan pihak RS Elisabeth.
"Kita ingin kasus ini terang benderan, ini kejahatan luar biasa, Harus ada yang ditersangkakan,. pengakuan Direktur RS Elisabeth, dia mengaku menggunakan vaksin palsu sejak November 2015, dan merilis 150 an korban. Harusnya sudah cukup dibawa ke tahapan penyidikan,"ucapnya.
Dalam laporannya, Hudson membawa bukti-bukti seperti medical record, buku vaksin RS Elisabeth, uji laboratorium prodia bahwa hasil laboratoriumnya menyatakan nonreaktif anti HB atau non reaktif atau negatif.
Bukti lainnya kata Hudson yakni adanya surat pernyataan yang telah ditandatangani oleh Direktur RS ST Elisabeth, yang menyatakan rumah sakit bersalah dan akan bertanggungjawab atas segala konsekuensi atas penggunaan vaksin palsu di RS Elisabeth.
Selain itu dalam surat pernyataanya, Antonius Yudianto bersedia membiayai seluruh medical check up, terhadap pasien yang melakukan vaksin sejak 2006 hingga Juli 2016 di RS ST Elisabeth.
"Surat pernyataan yang di tulis Direktur RS ST Elisabeth juga menyatakan kalau terbukti setiap anak pakai vaksin palsu, RS Elisabeth memberikan asuransi kesehatan full cover. Mulai berlaku Juli 2016. Korbannya ada 150-an,"kata Hudson.
"Tapi kami tak percaya, buktinya pasien vaksin 2014, saat di uji lab hasil antibodinya non reaktif atau negatif. Ada yang sudah melakukan medical check up, 2008 sampai dengan 2010 yang sama," sambungnya.
Oleh pengacara orangtua korban vaksin palsu RS ST Elisabeth disangkakan melanggar Pasal 196, 197 UU RI nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan dan 62 ayat 1 juncto Pasal 8 ayat 1 huruf A UU nomor 8 tahun 1999 tentang perlidungan konsumen.
Hal itu seperti tercantum di Laporan Polisi bernomor: LP/3503/VII/2016/PMJ/Dit Reskrimsus tertanggal 23 Juli 2016.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Listrik Paling Murah di 2026 untuk Harian, Harga Mulai Rp60 Jutaan
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 7 Sepatu Lari yang Awet untuk Pemakaian Lama, Nyaman dan Tahan Banting
- 63 Kode Redeem FF Max Terbaru 27 Maret 2026: Klaim Bundel Panther, AK47, dan Diamond
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Dua 'Pesawat Super' Milik AS Hancur, Kekuatan Militer Iran Kejutkan Dunia
-
Aparat Israel Halangi Pemimpin Gereja Masuk Makam Kudus di Misa Minggu Palma
-
Pesawat AWACS E-3 Milik AS Hancur Kena Serangan Iran di Arab Saudi
-
Realisasi Bantuan Jaminan Hidup Terus Meningkat, Jadi Penunjang Hidup Penyintas
-
Prabowo dan Takaichi Bakal Teken Kesepakatan Baru? Bocoran Topik Krusial dari Tokyo
-
PP TUNAS Mulai Berlaku, Kemenag Perkuat Literasi Digital di Pesantren dan Madrasah
-
Kejar Target April 2026, Pemerintah Tambah Lokasi Sekolah Rakyat di Bogor
-
Idrus Marham: Kebijakan Prabowo Sudah Baik, Tapi Harus Dijelaskan kepada Rakat
-
Gelar Lebaran Bersama Rakyat di Monas, Pemerintah Bagikan 100 Ribu Kupon Belanja
-
Satgas Damai Cartenz Ringkus Dua Anggota Jaringan Senjata dan Amunisi Ilegal di Jayapura