Suara.com - Aktivis Ratna Sarumpaet menduga Rizal Ramli dicopot Presiden Joko Widodo dari jabatan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya karena berani menghentikan proyek reklamasi Pulau G serta mempermasalahkan perizinan sejumlah pulau di Teluk Utara Jakarta. Dia menduga Jokowi mendukung reklamasi.
"Kenapa Bang Rizal Ramli di-reshuflle, padahal statement Luhut sebagai pengganti Rizal seolah tidak ada apa-apa. Saya menduga Jokowi mendukung reklamasi," kata Ratna di seminar bertema tolak reklamasi yang diselenggarakan kelompok yang mendukung Rizal Ramli maju sebagai calon gubernur Jakarta di Gedung Djoeang, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (8/8/2016).
Keputusan menghentikan reklamasi Pulau G ketika itu diambil dalam rapat koordinasi Kementerian Koordinasi Kemaritiman. Rizal Ramli ketika masih menjabat Menko Maritim mengatakan izin reklamasi Pulau G dibatalkan karena banyak pelanggaran.
Ratna Sarumpaet berharap pemerintah pusat tetap konsisten menjalankan keputusan tersebut.
"Jangan sampai keputusan kemarin (hentikan pengerjaan reklamasi pulau G dan beberapa pulau lain) dianulir oleh pemerintahan yang sekarang," ujar dia.
Ratna tidak setuju proyek reklamasi Teluk Jakarta karena menurutnya hanya untuk kepentingan pengusaha-pengusaha besar, bukan untuk kepentingan publik.
"Reklamasi bukan untuk kepentingan bisnis, tapi kalau reklamasi untuk menahan abrasi atau untuk pelabuhan boleh saja. Untuk itu harus ada UU reklamasi yang menolak reklamasi untuk kepentingan bisnis dimanapun di Indonesia," tutur dia.
Ratna mengatakan jika pemerintah Jokowi tetap mendukung proyek reklamasi untuk kepentingan bisnis, Ratna mengancam dengan membangun konsolidasi massa untuk melengserkan Jokowi.
"Tidak ada Presiden yang harus bertahan lima tahun. Kalau tidak ada perubahan yang baik, kita harus ada jawaban atas itu," kata dia.
Berita Terkait
-
Jokowi Dinobatkan sebagai Sesepuh oleh 9 Raja Timor
-
Tak Hanya Politis, Ini Alasan di Balik Kunjungan Jokowi ke Bumi NTT
-
Jokowi Kunjungi NTT Besok, PSI Singgung Soal Legacy Indonesia Sentris
-
Jokowi Bakal Sapa Kupang, Jalan Santai hingga Karnaval Budaya Siap Digelar
-
Ekonom UGM Endus Pola Penggusuran 'Orang Jokowi' di Balik Mundurnya Gubernur BI
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan