News / sport
Arsito Hidayatullah
Dua atlet voli pantai Italia saat berhadapan dengan tim Mesir yang salah satu pemainnya berhijab, di ajang Olimpiade Rio, Selasa (9/8/2016). [Yasuyoshi Chiba/AFP]

Suara.com - Saat atlet voli pantai asal Mesir, Doaa Elghobashy, melakukan blok atas pemain tim Italia, Laura Giombini, di atas pasir pantai terkenal Copacabana, dua budaya terlihat muncul bersamaan.

Elghobashy menutupi kepalanya dengan jilbab, mengenakan penutup lengan yang panjang, dan kali ini berhasil mendapatkan poin atas lawannya yang mengenakan bikini.

Masyarakat Brasil kemudian bersorak atas keberhasilan poin dari tim Mesir tersebut. Mereka masih tetap bertahan setelah menyaksikan tim negaranya kalah di pertandingan awal pagi ini.

"Mesir, Mesir, Mesir!" teriakan dukungan terdengar dari arena yang berkapasitas 12.000 penonton di Pantai Copacabana untuk tim yang dianggap 'underdog' itu.

Elghobashy berusia 19 tahun dan pertama kali berkompetisi di Olimpiade, yang sudah terkenal melalui penyebaran informasi di internet. Sebuah foto dari Reuters pada Minggu, saat timnya berhadapan dengan pemain Jerman, telah menjadi perbincangan di internet.

Setelah pertandingan hari Selasa di mana Mesir kalah 21-10, 21-13, Elghobashy terlihat frustrasi setelah perhatian media fokus bahwa ia telah mengenakan kerudung selama 10 tahun dan merasa nyaman atas busana tersebut, katanya kepada Reuters.

"Kami sangat bangga bermain di depan banyak penonton seperti ini," katanya melalui seorang penerjemah. "Saya memakai jilbab karena saya seorang Muslim tapi itu tidak menghentikan saya merasa bagian dari permainan ini." Pasangan mainnya, Nada Meawad, juga mengenakan lengan panjang tetapi tidak menutupi kepalanya.

Di bangku penonton, masyarakat Brazil memberi dukungan kepada Mesir, di mana negara tersebut tidak banyak memiliki tradisi voli pantai.

"Saya menyemangati mereka," kata Thana Zelide, 19 tahun yang mengenakan bikini berwarna hijau di bawah terpaan matahari Rio. "Mereka berumur sama seperti saya dan mereka mampu memberi perlawanan dalam pertandingan ini," sambungnya.

Bagi Hudson Heluy, seorang pemilik restoran di Rio, keberagaman budaya merupakan tujuan dari Olimpiade diselenggarakan. "Ini sungguh bagus untuk melihat keberagaman budaya di Rio, dan hari ini Mesir membutuhkan dukungan kita," ujarnya. [Antara/Reuters]