- Anies Baswedan menyampaikan Ramadan tahun ini berbeda karena adanya ketidakpastian global seperti perang dan krisis iklim.
- Anies mengingatkan bahwa Indonesia harus berpegang teguh pada komitmen konstitusional mendukung keadilan global.
- Ia mendorong respons umat Islam terhadap gejolak dunia harus substantif, bukan sekadar tindakan simbolis belaka.
Suara.com - Anies Baswedan menyinggung situasi Ramadan tahun ini yang hadir cukup berbeda. Menurutnya bulan suci kali ini dihadapkan pada situasi global yang penuh ketidakpastian.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyoroti bagaimana situasi dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Mulai dari agresi militer di berbagai belahan dunia hingga ancaman krisis iklim yang nyata.
Menurutnya, umat Islam tidak boleh menutup mata terhadap gejolak tersebut hanya karena sedang fokus beribadah
"Ramadan ini adalah bulan di mana kita diarahkan untuk menata diri. Tapi pada saat yang sama, di tahun-tahun terakhir ini, bahkan di minggu-minggu terakhir ini, justru berkecamuk berbagai macam ketidakstabilan, perang, ketidakpastian ekonomi, bahkan krisis iklim," kata Anies saat mengisi Taushiyah Tarawih di Masjid Agung Al Azhar, Rabu (11/3/2026).
Ia mencontohkan sejumlah peristiwa global yang menunjukkan dunia sedang berada dalam kondisi penuh gejolak, seperti perang Rusia, konflik di Gaza, hingga konflik berdarah di Sudan dan Myanmar.
Di tengah situasi tersebut, disampaikan Anies, umat Islam tidak hidup dalam ruang yang terpisah dari dinamika global.
Anies mengingatkan bahwa sejak awal berdirinya, Indonesia memiliki komitmen moral terhadap dunia internasional. Ia merujuk pada amanat konstitusi yang menegaskan peran Indonesia dalam menjaga ketertiban dunia.
"Dalam bahasa sederhana, kontrak asli kita dengan dunia adalah berdiri di sisi keadilan global dan tidak tunduk pada kekuatan mana pun yang ada di muka bumi ini," tandasnya.
Menurutnya, komitmen tersebut menempatkan Indonesia dalam posisi penting di tengah percaturan global. Terlebih dengan jumlah penduduk yang besar dan peran strategis di Asia Tenggara.
Baca Juga: Ucapkan Selamat HUT ke-12 Suara.com, Anies Baswedan: Terus Bernyali untuk Menjaga Demokrasi!
Indonesia, kata Anies, tidak seharusnya terbawa arus propaganda atau tekanan geopolitik dari kekuatan besar.
"Negara yang berprinsip pasti tidak tergesa-gesa dan ikut arus propaganda. Tapi memeriksa fakta, mengukur dampak, lalu kompas keadilan tadi dipegang terus," tegasnya.
Anies turut menyoroti kecenderungan respons masyarakat terhadap konflik global yang masih bersifat simbolik.
Berbagai aksi solidaritas seperti mengganti foto profil atau ikut pawai tetap baik dilakukan namun sering kali tidak berdampak jangka panjang.
"Respons kita dalam menghadapi tragedi-tragedi dunia harus bergerak dari respon simbolik menjadi respon yang lebih substantif," ujarnya.
Ia mendorong agar solidaritas tersebut diterjemahkan menjadi dorongan kebijakan yang lebih sistemik. Termasuk pengawalan diplomasi dan sikap ekonomi yang sejalan dengan prinsip keadilan global.
Berita Terkait
-
Ucapkan Selamat HUT ke-12 Suara.com, Anies Baswedan: Terus Bernyali untuk Menjaga Demokrasi!
-
Puan Maharani Minta Penjelasan TNI soal Penetapan Status Siaga 1 di Tengah Konflik Global
-
Pakar UGM Soroti Ketahanan Nasional, Konflik Global Tak Boleh Bebani Rakyat
-
Minta RI Keluar dari BoP Bentukan Trump, Anies Singgung Pelopornya Melanggar Hukum Internasional
-
Hadapi Ketidakpastian Dunia Akibat Perang, Anies Baswedan Beri Dua Nasihat ke Pemerintah
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
Bantah Isu Bansos Dipotong, Gus Ipul: Itu Narasi Menyesatkan dan Potensi Penipuan!
-
Donald Trump Klaim Terima Usulan Baru dari Iran usai Batalkan Misi Perundingan ke Pakistan
-
Donald Trump Batalkan Keberangkatan Utusan ke Pakistan, Negosiasi Iran AS Kembali Buntu
-
Motif Konyol 'Prank' Damkar Semarang Terungkap: Kesal Debitur Susah Ditagih Utang Rp2 Juta!
-
WHO Sebut Butuh Rp172 Triliun untuk Pulihkan Sistem Kesehatan Gaza dalam 5 Tahun
-
Kekerasan Anak di Little Aresha, Pengurus Hingga Pemilik Terancam Hukuman Berat
-
Bidik Top 50 Kota Global, Jakarta Resmi Jalin Kerja Sama Sister City dengan Jeju Korsel
-
SPAI Desak Pemerintah: Hapus Perbudakan Modern, Akui Pengemudi Ojol Sebagai Pekerja Formal!
-
Bukan Intervensi! Eks Penyidik: Usul KPK Capres Wajib Kader Partai Bentuk Kontribusi Pemikiran
-
Setelah 21 Tahun, Akankah Transjakarta Akhiri Era Tiket Murah Rp 3.500?