Suara.com - Fadi Mansour lebih dari setahun terperangkap di dalam Bandara Ataturk, Istanbul, Turki. Pemuda 28 tahun itu dilarang meninggalkan bandara karena masalah visa.
Mansour tentu membangkitkan ingatan akan kisah Tom Hanks dalam film "The Terminal". Masalah mereka kurang lebih sama. Bedanya kisah Hanks adalah cerita fiksi - ia sebagai Viktor Navorsk dari negara khayalan bernama "Krakozhia" yang terkurung dalam sebuah bandara New York, Amerika Serikat.
Kisah Mansour, di sisi lain, sungguh sebuah pengalaman nyata.
"Dia berada dalam situasi yang sama dengan saya," kata Mansour yang mengisi waktu dengan menonton film di komputer tabletnya. Salah satu film yang ditontonnya, tentu saja, "The Terminal", "Saya menontonnya karena saya pikir akan berguna bagi saya."
"Tetapi ketika saya menyaksikan film itu, saya sadar bahwa mereka menampilkan kisahnya dalam cara yang jenaka dan situasi saya sangat tidak lucu. Ia terbiasa makan hamburger dan demikian juga saya. Tetapi Tom Hanks bebas berkeliaran di dalam bandara, sementara saya mentok di dalam satu ruangan," tutur Mansour.
Pengalaman pahit Mansour, yang terkurung di dalam bandara Ataturk selama Februari 2015 - Maret 2016, tak lepas dari perang berkepanjangan di Tanah Airnya. Ketika pertempuran keji berlangsung di negerinya, Mansour cukup beruntung bisa masuk ke Turki pada November 2014.
Selamat dari pertempuran di Suriah, peruntungan Mansour berubah di negara tetangganya Turki. Di negeri itu dia rupanya tak bisa mendapatkan pekerjaan. Hukum di negeri yang dipimpin Tayyip Erdogan itu memang melarang warga Suriah diberi pekerjaan.
Tak hilang akal, tiga bulan kemudian Mansour membeli sebuah passport palsu dan sebuah tiket pesawat ke Jerman. Tetapi pesawat yang membawanya justru terbang ke Kuala Lumpur, Malaysia. Di sana dia ditahan. Otoritas Malaysia mengetahui bahwa passport yang dia gunakan palsu. Ia lantas dikirim pulang ke Turki.
Kembali ke Turki, Mansour ditahan di ruang detensi.
"Saya kira, saya hanya akan ditahan selama beberapa jam. Orang-orang bilang, saya akan dikirim lagi ke Malaysia, tetapi saya bilang mustahil. Saya orang Suriah," ia mengenang peristiwa itu.
Tetapi dia sekali lagi salah. Setelah dua jam ditahan, penjaga perbatasan Turki mengatakan bahwa dia akan dikirim lagi ke Malaysia.
"Saya mengatakan ingin mengajukan permohonan suaka, tetapi mereka bilang, 'Kami sudah menampung 2 juta warga Suriah di sini dan kami tak mau menambah lagi.'" cerita Mansour.
Sayang, Malaysia juga tak mau menerima Mansour. Setelah tiga hari menunggu di Kuala Lumpur, dia dipulangkan lagi ke Bandara Ataturk. Ia menghabiskan 12 bulan berikutnya di bandara utama Istanbul tersebut.
Jika dalam film Hanks menjalani hidup dengan cukup nyaman - tinggal dan tidur di sebuah ruangan tersembunyi dan menjalin persahabatan dengan para pekerja di bandara - Mansour justru mengalami masa-masa sukar. Ia hanya boleh bergerak di dalam sebuah ruangan sempit, bersama sekitar 40 orang yang mengalami masalah serupa.
"Tak ada jendela. Saya tak melihat cahaya matahari selama delapan bulan," kenang dia.
Lebih buruk lagi, salah satu tahanan dalam ruangan ini adalah seorang fanatik ekstrem yang tak menyukainya. Ia diduga telah tiga kali menyerang Mansour.
"Ia membuat hidup saya sulit. Ia menyebut saya kafir dan terang-terangan menghasut tahanan lain untuk membunuh saya agar bisa masuk surga," ujar dia.
Delapan bulan terkurung dalam bandara, Mansour berusaha pergi ke Libanon. Tetapi di Libanon dia kembali ditolak dan dipulangkan ke Turki.
Untuk menghibur dirinya, Mansour menonton film di iPad. Ia juga membaca buku karya aktivis Suriah, Mostafa Khalifa, yang bercerita tentang pengalamannya selama dipenjara oleh Presiden Bashar al Assad.
Tetapi Mansour mengaku sukar menemukan kesamaan antara kisahnya dengan cerita dalam film Hanks. Ia justru lebih tersentuh dengan buku Mehran Karimi Nasseri, pengungsi asal Iran yang terkurung dalam bandara Charles de Gaulle, Paris, Prancis selama 18 tahun. Film Hanks sendiri terinspirasi dari buku berjudul "The Terminal Man" itu.
"Saya rasa karakter dalam buku itu sangat dekat dengan saya ketimbang Tom Hanks dalam film," kata Mansour.
Mansour kini sudah bisa tersenyum lega. Dia saat ini telah bebas dan diberi suaka oleh Australia. Setelah ramai diberitakan media dunia pada awal 2016 lalu, Mansour dibantu dicarikan suaka oleh Amnesty Internasional. Permohonan suaka Mansour akhirnya diterima oleh Australia.
Dia diizinkan meninggalkan ruang detensi di bandara Ataturk dan akhirnya terbang ke Australia pada awal Juni.
Berita Terkait
-
Ayah Pelaku Penembakan di Turki Masih Aktif sebagai Polisi, Punya Jabatan Mentereng
-
Horor di Sekolah Turki: Anak Mantan Polisi Tembak 4 Orang Tewas, 20 Lainnya Luka-luka
-
Iran Beberkan Update Negosiasi Damai ke Turki, Soroti Dosa Besar AS-Israel
-
Anak Presiden Uganda Ancam Erdogan: Kirim Cewek Cantik untuk Saya atau Diplomat Anda Diusir
-
Dari Istanbul yang Dinamis hingga Antalya yang Hangat: Intip Wajah Wisata Turki Tahun Ini
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
Terkini
-
27 Psikiater Analisis Kondisi Mental Donald Trump, Apa Hasilnya?
-
KontraS Ragukan Motif Dendam Pribadi dalam Kasus Andrie Yunus, Soroti Dugaan Putus Rantai Komando
-
Ironi Ketua Ombudsman Hery Susanto: Jadi Tersangka Kejagung, Padahal Baru Seminggu Dilantik Prabowo
-
Skandal Suaka LGBT, Warga Pakistan dan Bangladesh Ngaku Gay Demi Jadi Warga Negara Inggris
-
Studi Ungkap Cukai RI Gagal Bikin Rokok Mahal
-
Terungkap! Begini Modus Ketua Ombudsman 'Atur' Kebijakan Demi Muluskan Bisnis Tambang PT TSHI
-
13 Ribu SPPG Sudah Bersertifikat, yang Bandel Terancam Disetop Sementara
-
Serangan Drone Rusia di Odesa dan Kyiv Tewaskan 12 Warga Sipil, Termasuk Anak Kecil
-
Tanggul Jakarta Digerogoti Ikan Sapu-Sapu, Pramono Gelar Operasi Besar-besaran Besok
-
Puan Maharani Meradang! Kecam Skandal Pelecehan Seksual di UI, IPB, dan ITB