Ketua Gerakan Pemuda Ansor DKI Jakarta Abdul Azis meminta Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tak mengutip ayat Alquran dan mengaitkannya dengan pemilihan gubernur di Pilkada Jakarta 2017.
"Pak Ahok jangan campuri agama kami dan jangan ajari kami SARA," kata Ketua GP Ansor DKI Jakarta Abdul Azis kepada suara.com, Jumat (7/10/2016) malam.
Azis menyayangkan Ahok membawa-bawa surat Al Maidah ayat 51 dalam kunjungan kerja ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu pada (27/9/2016) lalu.
Menurutnya, pernyataan itu telah membuat umat Islam yang ada di Indonesia marah.
"Kami ini GP Ansor NKRI dan melindungi minoritas, tapi soal kitab suci Pak Ahok tidak perlu menafsirkan sendiri kitab suci kami, hak kami beragama dan kewajiban kami menjadikan Al Quran sebagai panduan hidup," kata Azis.
GP Ansor DKI juga akan melaporkan Ahok ke Polda Metro Jaya dengan tuduhan penistaan agama pasal 156A Undang-Undang Nomor 1 PNPS tahun 1965.
"Sebagai gubernur DKI Pak Ahok telah melakukan penistaan kepada agama Islam dengan mengatakan hal tersebut," ujar Wakil Ketua DPW PKB DKI Jakarta itu.
"Kami akan laporkan Pak Ahok ke Polda Metro jaya melalui lakumham Ansor DKI sekaligus mendesak MUI untuk memberikan teguran kepada gubernur DKI," Azis menambahkan.
Lebih lanjut, agar tak menuai kemarahan umat Islam menjelang pesta demokrasi Jakarta, GP Ansor meminta Ahok yang juga maju dalam Pilkada Jakarta 2017 tidak lagi mengutip Alquran dalam kegiatan apapun.
"Ini memancing pilkada SARA. Mestinya gubernur jaga mulutnya jangan mengurusi agama orang lain," kata anggota DPRD DKI dari fraksi PKB ini.
Berbeda dengan pernyataan mantan Ketua Umum GP Ansor, Nusron Wahid, yang menyatakan Ahok tidak melakukan penistaan agama saat kunjungannya ke Kepulauan Seribu.
Suara.com - Nusron mengaku sudah melihat secara tuntas rekaman video selama kegiatan Ahok di Pulau Seribu yang berdurasi satu jam.
Dari rekaman utuh satu jam itu, tidak ada satu pun rangkaian kalimat di mana Ahok melakukan penistaan agama.
Menurut salah satu Ketua PBNU ini, yang ada justru calon petahana gubernur DKI Jakarta itu memberikan edukasi kepada rakyat agar memilih secara cerdas.
"Jadi, yang dituju atau dimaksud Ahok adalah orang yang membohongi. Bukan berarti ayat Al Maidah yang bohong. Justru Ahok menempatkan ayat suci secara sakral. Bukan alat agitasi, dan kampanye yang mendeskreditkan," kata Nusron kepada Antara.
Sementara itu, Komunitas Advokat Muda Ahok-Djarot berencana melaporkan pemilik akun Facebook bernama Si Bunni Yani diduga merekayasa dan menyebarkan pertamakali video berisi pernyataan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang mengutip ayat Al Quran ke Badan Pengawas Pemilu.
Pernyataan Ahok itu ketika dirinya mengunjungi Kepulauan Seribu dan mengatakan kepada warga di sana bahwa tak masalah jika warga tak memilihnya lagi di pilkada tahun 2017.
"Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu, nggak pilih saya karena dibohongi (orang) dengan Surat Al Maidah (ayat) 51 macam-macam itu. Itu hak bapak ibu. Kalau bapak ibu merasa nggak bisa pilih karena takut masuk Neraka, oh nggak apa-apa," kata Ahok di Pulau Pramuka, Selasa, (27/9/2016).
"Karena ini panggilan bapak ibu. Program ini (pemberian modal bagi pembudidaya kerapu) jalan saja. Jadi bapak ibu nggak usah merasa nggak enak karena nuraninya nggak bisa pilih Ahok," Ahok menambahkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
Terkini
-
3 Pilihan Sepatu Lari Lokal untuk Tempo Run Terbaik, Kualitas Setara Brand Luar Negeri
-
Tak Ingin Jakarta Hilang Akar, Pramono Jani Perkuat Lembaga Adat Betawi
-
Lampu Mati Berujung Kobaran Api: Bus Mewah Double Decker Gunung Harta Hangus di Tol Madiun
-
Profil Bupati Pemalang Anom Widiyantoro, Eks Petinggi BUMN yang Terjaring Operasi KPK
-
Review Novel Hyouka: Misteri Sederhana yang Menyimpan Rahasia 33 Tahun
-
Sudah Siap War Tiket? Ini Rangkaian Acara Lengkap Perayaan HUT ke-81 RI dari Istana hingga Monas
-
Gadis Bernama Aishah Siregar Tiba-tiba Hilang dan Ditemukan di Kamboja, Korban Perdagangan Orang?
-
Ulasan A Model Family: Menimbang Moralitas di Tengah Desakan Kehidupan
-
Kenapa Sabun Mandi Tidak Boleh untuk Wajah? Ini Alasan Pentingnya
-
Bicara Boleh Biasa, Perform yang Menentukan: Jago MC ala Ongky Hojanto