Suara.com - Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Sabtu (24/12) mengatakan bahwa Resolusi 2334 Dewan Keamanan (DK) PBB, yang mengutuk pemukiman Israel di Palestina, mempertegas landasan hukum bagi penyelesaian konflik di Timur Tengah.
Pernyataan Abbas tersebut yang disiarkan oleh kantor berita resmi Palestina, WAFA, dikeluarkan selama acara makan malam yang diselenggarakan di Kota Bethlehem, Tepi Barat Sungai Jordan, berkaitan dengan perayaan Natal.
"Suara yang mendukung resolusi itu belum menyelesaikan masalah Palestina, tapi menegaskannya," kata Abbas, sebagaimana dikutip WAFA. "Resolusi tersebut menekankan dasar hukum bagi penyelesaian dan kembali menegaskan permukiman Israel tidak sah," kata Abbas menambahkan.
Pemungutan suara mengenai resolusi tersebut dilakukan atas permintaan Venezuela, Senegal, Malaysia dan Selandia Baru, cuma 24 jam setelah Mesir --yang memimpin kelompok Arab di DK PBB-- tiba-tiba meminta penundaan pemungutan suara.
"Dunia menyampaikan kata-katanya bahwa pemukiman di wilayah Palestina yang diduduki pada 1967, termasuk Jerusalem Timur, tidak sah," kata Abbas, sebagaimana diberitakan Xinhua. Abbas merujuk kepada 15 negara anggota DK PBB yang memberi suara dukungan buat resolusi itu.
Lebih jauh, Abbas menyeru Israel "agar duduk bersama di meja perundingan untuk membahas semua masalah yang mengganjal di antara kita dan menyelesaikannya dengan keinginan baik".
"Kita adalah tetangga di tanah suci ini dan kami menginginkan perdamaian. Kalian (Israel) memiliki negara kalian, dan kami dapat memiliki negara kami, lalu kita dapat hidup berdampingan dalam kedamaian dan keamanan," tambahnya.
"Jika kalian menerima, maka ada 57 negara Arab dan Islam yang akan siap mengakui kalian (Israel)," sambung Presiden Palestina itu.
Pada Sabtu pagi, Abbas menyatakan bahwa pesan semua negara yang memberi suara dukungan bagi resolusi DK PBB itu ialah (bahwa) rakyat Palestina tidak sendirian dalam menghadapi ketidakadilan dan kolonisasi.
"Kami mengulurkan tangan kami bagi perdamaian, dan kami berharap konferensi internasional bagi perdamaian di Timur Tengah yang akan diselenggarakan di Paris pada Januari, akan membuat 2017 jadi tahun diakhirinya pendudukan Israel," tegas Abbas. [Antara/Xinhua-OANA]
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Merah Putih Berkibar di 4 Negara, WNI Ikut Doakan Korban Gempa NTT
-
Bocoran Xiaomi 18 Versi Standar Baru, Siap Meluncur Desember Nanti!
-
Kado Merdeka di Balik Jeruji: 718 Napi Lapas Bandar Lampung Dapat Remisi, Satu Orang Langsung Pulang
-
6 Cara Membaca Birth Chart Astrologi untuk Pemula, Mulai dari Big Three
-
Tiru Sukses India, Gerindra Beberkan Alasan Prabowo Perjuangkan Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora
-
BBRI Diborong Saat IHSG Melemah, Analis Ungkap Proyeksi Pasar Saham Hari Ini
-
Wall Street Melemah, IHSG Diproyeksi Sideways Cenderung Menguat Hari Ini
-
5 Cara Touch Up Bedak Padat di Atas Makeup yang Mulai Luntur agar Wajah Kembali Flawless
-
Apes! Peras Pemain Judol, Dua Polisi di Gresik Malah Dikepung Massa
-
Kantor dan Sekolah Boleh WFH atau PJJ 18 Agustus, Ini Skema dari Pemerintah