News / Nasional
Kamis, 02 Februari 2017 | 19:10 WIB
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Juru Bicara Kepresidenan Johan Budi (kiri) memberikan keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (12/1). (Antara)
Juru bicara Presiden, Johan Budi, menyarankan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono blak-blakan tentang siapa nama sejumlah tokoh yang disebut menghalang-halangi Presiden Joko Widodo untuk bertemu Yudhoyono.

"Sekarang ini kan era terbuka‎, saya menyarankan kepada Pak SBY untuk sebut saja siapa yang dimaksud menghalang-halangi," kata Johan di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (2/2/2017).

‎Johan menegaskan tidak ada orang Istana yang menghalang-halangi Jokowi untuk membuat pertemuan. Sebab, Jokowi tipe pemimpin yang penuh perhitungan.

"Setahu saya tidak ada. ‎Tentu Presiden tidak bisa ada yang menghalang-halangi kalau sudah memutuskan untuk bertemu orang. Saya kira mungkin (SBY) salah informasi, saya tidak tahu," ujar dia.

‎Johan mengungkapkan selama ini hubungan Jokowi dan Yudhoyono baik-baik saja.

"Hubungan kedua beliau ini baik-baik saja," tutur dia.

Johan menerangkan meski kedua pemimpin belum bertemu lagi secara langsung, mereka tetap sering berkomunikasi tanpa perantara.

‎"Kan bisa pribadi. Kan bisa keduanya main saling telpon, jadi nggak ada persoalan," kata dia.

‎Sebelumnya, Yudhoyono mengungkapkan bahwa Presiden Jokowi sebenarnya ingin bertemu dirinya, namun ada yang menghalang-halangi.

"Ada tiga sumber memberi tahu saya, beliau (Presiden Jokowi) ingin sekali bertemu saya, tetapi dilarang oleh dua, tiga orang disekeliling beliau. Ini saya pikir hebat juga ini orang bisa melarang Presiden bertemu mantan sahabatnya yang juga mantan Presiden," kata Yudhoyono di Wisma Proklamasi, Me‎nteng, Jakarta Pusat, Rabu (1/2/2017).

‎"Saya sekali saya belum punya kesempatan bertemu dengan Presiden kita Bapak Jokowi. Kalau bertemu Presiden saya ingin bicara blak-blakan, saya ingin tanya siapa yang memberi informasi kepada beliau bahwa saya menunggangi aksi 411 (demonstrasi anti Ahok), mendanai, dan pemboman, juga makar," Yudhoyono menambahkan.

Load More