Plt Gubernur DKIJakarta Djarot Saiful Hidayat menerima tiga bus Transjakarta ramah disabilitas, di Jakarta, Jumat (12/5). [suara.com/Oke Atmaja]
Pelaksana tugas Gubernur Jakarta Djarot Saiful Hidayat meminta pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyudahi aksi turun ke jalan karena dapat mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat.
Djarot mengingatkan aksi solidaritas tersebut, meskipun dilakukan terus menerus, tetap tidak akan mengubah keputusan pengadilan yang memvonis Ahok dua tahun penjara atas kasus penistaan agama. Sebaliknya, aksi terus menerus bisa malah membuat warga tidak bersimpati lagi.
"Sudah, stoplah. Kalau bikin aksi-aksi yang simpati jangan sampai ganggu warga, saya sampaikan jangan sampai merugikan diri sendiri jangan sampai merugikan masyarakat," kata Djarot di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (12/5/2017).
Djarot mengingatkan aksi solidaritas tersebut, meskipun dilakukan terus menerus, tetap tidak akan mengubah keputusan pengadilan yang memvonis Ahok dua tahun penjara atas kasus penistaan agama. Sebaliknya, aksi terus menerus bisa malah membuat warga tidak bersimpati lagi.
"Sudah, stoplah. Kalau bikin aksi-aksi yang simpati jangan sampai ganggu warga, saya sampaikan jangan sampai merugikan diri sendiri jangan sampai merugikan masyarakat," kata Djarot di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (12/5/2017).
Djarot mengimbau ahokers untuk menghormati proses hukum seperti juga yang diharapkan Ahok.
Djarot kemudian menekankan pentingnya mengembalikan fondasi Pancasila dengan semangat nasionalisme.
"Apa lagi sebentar lagi kita peringati Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei. Kita memperkuat ke-Indonesian kita. Jadi bukan hanya persoalan Pak Ahok," ujar Djarot.
"Oleh karena itu satu warning bagi kita semua jangan sekali-sekali gunakan isu-isu SARA untuk kepentingan kepentingan politik praktis," Djarot menambahkan.
Siang tadi, ratusan pendukung Ahok aksi damai di depan kantor Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Jalan Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Mereka mendorong pengadilan mengabulkan permohonan penangguhan penahanan Ahok.
Pendukung Ahok juga aksi di depan Markas Korps Brimob, Depok, Jawa Barat, sejak dua hari yang lalu. Mereka menilai Ahok merupakan korban ketidakadilan hukum.
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Ahmad Mubarok tidak tahu pasti apakah vonis dua tahun penjara merupakan akhir dari karier politik Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) atau tidak. Guru besar psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta lebih menyoroti perilaku yang ditunjukkan pendukung Ahok akhir-akhir ini.
"Tapi yang jelas, Ahokers sekarang ini menampilkan perilaku radikalisme sekuler. Jadi sekarang julukan radikal berpindah dari yang dulu dituduhkan ke Islam, sekarang ke Ahokers," kata Mubarok kepada Suara.com.
Ahokers merupakan sebutan bagi para pendukung Ahok.
Mubarok kemudian menyebut ciri khas radikalisme sekuler, di antaranya memiliki pandangan memisahkan agama dari politik dan meniadakan kebenaran mutlak.
"Seperti protes (aksi solidaritas) pengadilan, pakai nyalakan lilin, karangan bunga segala macam. Padahal, bunga itu simbol keindahan. Nah, keindahan bunga itu ada di sekuntum bunga. Sama seperti perhiasan. Kalau antingnya sampai sekilo itu nggak indah. maka ketika ribuan karangan bunga dikirimkan itu jadi tidak indah. Jadi itu mengubah nilai," kata Mubarok.
Menurut Mubarok sekarang ini terjadi pemutarbalikkan pemahaman, seakan-akan Islam yang tidak toleran.
"Ahli dari dulu sudah katakan, radikalisme liberal itu jangan masukkan agama dalam politik, tidak ada kebenaran mutlak," katanya.
Pendukung Ahok juga aksi di depan Markas Korps Brimob, Depok, Jawa Barat, sejak dua hari yang lalu. Mereka menilai Ahok merupakan korban ketidakadilan hukum.
Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Ahmad Mubarok tidak tahu pasti apakah vonis dua tahun penjara merupakan akhir dari karier politik Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) atau tidak. Guru besar psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta lebih menyoroti perilaku yang ditunjukkan pendukung Ahok akhir-akhir ini.
"Tapi yang jelas, Ahokers sekarang ini menampilkan perilaku radikalisme sekuler. Jadi sekarang julukan radikal berpindah dari yang dulu dituduhkan ke Islam, sekarang ke Ahokers," kata Mubarok kepada Suara.com.
Ahokers merupakan sebutan bagi para pendukung Ahok.
Mubarok kemudian menyebut ciri khas radikalisme sekuler, di antaranya memiliki pandangan memisahkan agama dari politik dan meniadakan kebenaran mutlak.
"Seperti protes (aksi solidaritas) pengadilan, pakai nyalakan lilin, karangan bunga segala macam. Padahal, bunga itu simbol keindahan. Nah, keindahan bunga itu ada di sekuntum bunga. Sama seperti perhiasan. Kalau antingnya sampai sekilo itu nggak indah. maka ketika ribuan karangan bunga dikirimkan itu jadi tidak indah. Jadi itu mengubah nilai," kata Mubarok.
Menurut Mubarok sekarang ini terjadi pemutarbalikkan pemahaman, seakan-akan Islam yang tidak toleran.
"Ahli dari dulu sudah katakan, radikalisme liberal itu jangan masukkan agama dalam politik, tidak ada kebenaran mutlak," katanya.
Komentar
Berita Terkait
-
Jika Tim 9 Gagal, KPK Disebut Wajib Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
-
Sempat Sebut PDIP, Ustaz Das'ad Latif Edit Unggahan soal Putusan MK Larang Dana Pendidikan untuk MBG
-
Kejagung Bongkar Alasan Periksa Tan Kian dan Ferry Boboho di Kasus Febrie Adriansyah
-
Alasan Keselamatan, Kejagung Titipkan Ferry Boboho Saksi Kunci Kasus TPPU Febrie Adriansyah ke LPSK
-
Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator yang Dinilai Berdampak bagi Masyarakat
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan