Sedangkan bagi wisatawan yang ingin melihat langsung satwa tersebut di habitatnya dapat mengambil fasilitas trekking ke dalam hutan.
Pihak BKSDA, menyediakan paket trekking ke dalam hutan untuk melihat gajah-gajah betina. Setiap hari posisi delapan gajah itu dipantau oleh dua hingga empat orang pawang.
Abu menambahkan, pengembangan wisata alam di TWA Seblat belum dapat optimal karena keterbatasan sarana dan prasarana, antara lain ketiadaan jembatan penyeberangan dari Desa Sukabaru menuju PLG yang dipisahkan aliran Sungai Seblat.
"Kalau menyeberang dengan perahu kecil resikonya cukup tinggi, tidak aman," ujarnya.
Saat ini para pawang dan petugas pakan masih mengandalkan satu perahu kecil untuk menyeberangi Sungai Seblat menuju kamp PLG.
Rencana pembangunan jembatan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) setempat sempat memberi secercah harapan.
Namun, pembangunan pondasi jembatan dari bagian PLG Seblat sudah retak akibat pergerakan tanah yang disebabkan abrasi tinggi.
"Perlu kajian matang untuk menentukan posisi pondasi yang aman dari gerusan air sungai," kata Abu.
Selain jembatan, kondisi jalan menuju menuju Desa Sukabaru juga dikeluhkan oleh para wisatawan.
"Jalan rusak berlubang besar menuju area wisata Seblat, ini membuat kurang nyaman, " kata Rahmadeni, seorang wisatawan lokal.
Kondisi jalan yang aspalnya sudah terkelupas membuat rute dari tugu gajah di Desa Kota Bani menuju Desa Sukabaru menghabiskan waktu tempuh satu jam.
Padahal, bila kondisi jalan memadai, waktu tempuh dapat lebih singkat menjadi 15 menit.
"Seharusnya rute ini jadi perhatian pemerintah, apalagi area wisata Seblat adalah salah satu objek wisata yang diminati," katanya.
Wisata habitat gajah Sumatera di TWA Seblat dapat dijangkau dengan berkendara empat jam dari Kota Bengkulu menuju Desa Koto Bani.
Dari Desa Koto Bani dibutuhkan satu jam berkendara ke Desa Sukabaru dan menyeberang ke PLG Seblat.
Tag
Berita Terkait
-
Kapan Lebaran NU dan Muhammadiyah Tahun 2026? Cek Jadwal dan Penjelasannya
-
Kapan Idul Fitri 2026? Cek Jadwal Versi Muhammadiyah, Pemerintah, dan NU
-
Kapan 1 Ramadhan 2026 Tanggal Berapa? Cek Tanggal Pasti Versi Muhammadiyah dan Pemerintah
-
Apa Itu Rompi Lepas? Diprediksi Jadi Tren Baju Lebaran 2026
-
Idul Fitri 2026 Tanggal Berapa? Prediksi Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- 5 Rekomendasi HP RAM 8GB Rp1 Juta Terbaik yang Bisa Jadi Andalan di 2026
- 34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 20 Januari: Sikat TOTY 115-117 dan 20.000 Gems
Pilihan
-
Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
-
Izin Tambang Emas Martabe Dicabut, Agincourt Resources Belum Terima Surat Resmi dari Pemerintah
Terkini
-
Pati dan Madiun Tanpa Pemimpin Pasca OTT KPK, Kemendagri Ambil Langkah Darurat
-
Antisipasi Puncak Cuaca Ekstrem, BPBD Tebar 2,4 Ton Bahan Semai di Hari Keenam OMC
-
Wacana Polri di Bawah Kementerian Mengemuka, Yusril Tegaskan Masih Tahap Opsi Reformasi
-
Ratusan Warga Serang Masih Mengungsi, Banjir Dominasi Bencana Hidrometeorologi
-
Drama Sidang Korupsi: Hakim Ad Hoc Walkout Tuntut Gaji, Kini Diperiksa KY
-
Antisipasi Jalan Rusak akibat Banjir, Dinas Bina Marga DKI Lirik Aspal 'Sakti' yang Bisa Serap Air
-
Pascabencana Bireuen, Mendagri Tito Tinjau Infrastruktur Jembatan
-
Keterlibatan TNI-Polri Jadi Petugas Haji 2026 Melonjak Drastis, Menhaj: Naik Hampir 100 Persen Lebih
-
Konflik Agraria Belum Usai, Legislator Gerindra Minta Pemerintah Buang Ego Sektoral demi Keadilan
-
Tunjangan Panitera Cuma Rp400 Ribu, DPR Peringatkan Bahaya: Kualitas Pengadilan Taruhannya!