Bisnis / Keuangan
Rabu, 21 Januari 2026 | 16:27 WIB
Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing keluar (capital outflow) dari investasi portofolio mencapai US$ 1,6 miliar atau setara Rp 27 triliun hingga 19 Januari 2026. Foto Antara.
Baca 10 detik
  • Rp 27 triliun dana asing keluar dari RI per 19 Januari 2026.
  • Kurs Rupiah merosot 1,53% hingga mendekati level Rp 17.000 per dolar AS.
  • Bank Indonesia lakukan intervensi pasar Spot dan NDF guna jaga stabilitas.

Suara.com - Ketidakpastian pasar keuangan global mulai mengguncang pasar domestik di awal tahun 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing keluar (capital outflow) dari investasi portofolio mencapai US$ 1,6 miliar atau setara Rp 27 triliun hingga 19 Januari 2026.

Tekanan aksi jual oleh investor asing ini menjadi pemicu utama pelemahan nilai tukar Rupiah yang kini mulai mendekati level psikologis baru di Rp 17.000 per dolar AS. Berdasarkan data BI, Rupiah telah terkoreksi sebesar 1,53% sejak awal tahun ke posisi Rp 16.945 per dolar AS per 20 Januari kemarin.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa selain faktor ketidakpastian global, pelemahan ini juga dipicu oleh tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri seiring dengan geliat aktivitas ekonomi yang meningkat.

Perry menegaskan bahwa pihaknya telah mengaktifkan langkah stabilisasi melalui intervensi di berbagai lini pasar baik di pasar luar negeri (off-shore) maupun dalam negeri (on-shore/DNDF) dan melakukan intervensi langsung untuk menjaga ketersediaan pasokan dolar, selain memperkuat daya tarik aset domestik agar investor kembali masuk.

"Langkah ini diambil untuk menjaga volatilitas nilai tukar agar tetap konsisten dengan sasaran inflasi kita di rentang 1,5% hingga 3,5%," ujar Perry dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/1).

Meski saat ini sedang tertekan, BI optimis Rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat ke depannya. Keyakinan ini didasarkan pada fundamental ekonomi Indonesia yang masih solid, imbal hasil investasi yang menarik, serta angka inflasi yang tetap terkendali. Penguatan respons kebijakan terus dilakukan sebagai "tameng" untuk menjaga ketahanan eksternal ekonomi nasional dari guncangan global.

Load More