- BPBD DKI Jakarta menyebar 2,4 ton bahan semai berupa NaCl dan CaO pada hari keenam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
- OMC fokus pada mitigasi bencana hidrometeorologi dengan menargetkan peluruhan awan hujan di perairan Selat Sunda dan Bekasi.
- BMKG memprediksi cuaca ekstrem pada Rabu, 21 Januari, lebih berat, sehingga OMC direncanakan berlanjut hingga 22 Januari 2026.
Suara.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih mengancam wilayah ibu kota. Pada hari keenam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menebar total 2,4 ton bahan semai untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi.
Bahan semai yang digunakan terdiri atas natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) yang disebarkan melalui serangkaian penerbangan pesawat. Langkah ini dilakukan berdasarkan hasil pemantauan dan analisis kondisi atmosfer yang terus diperbarui.
"Operasi modifikasi cuaca dilaksanakan berdasarkan pemantauan dan analisis meteorologi secara berkelanjutan untuk mengurangi potensi hujan ekstrem," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD Mohamad Yohan, di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Rabu (21/1/2026).
Yohan menjelaskan, pelaksanaan OMC hari keenam difokuskan sebagai upaya mitigasi terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir dan bencana hidrometeorologi di DKI Jakarta serta wilayah sekitarnya.
Dalam operasi kali ini, BPBD mengerahkan pesawat CASSA 212 A-2105 yang berpangkalan di Bandara Halim Perdanakusuma untuk tiga kali penerbangan. Total bahan semai yang ditebarkan mencapai 2,4 ton.
Pada penerbangan pertama, penyemaian difokuskan di wilayah perairan Selat Sunda. Pesawat terbang pada ketinggian 10.000–11.000 kaki dengan sasaran awan cumulus mediocris.
"Penyemaian menggunakan 800 kilogram NaCl dengan tujuan meluruhkan awan hujan yang bergerak menuju daratan Jabodetabek agar presipitasi terkonsentrasi di perairan," ujarnya.
Penerbangan kedua dilakukan pada siang hari dengan area semai masih berada di perairan Selat Sunda, pada radial 250–300 dengan jarak 80–110 mil laut dari Bandara Halim. Pada tahap ini, penyemaian dilakukan di ketinggian 8.000–12.000 kaki menggunakan 800 kilogram NaCl.
"Ini bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan awan hujan di wilayah perairan barat agar hujan tidak terkonsentrasi di daratan Jakarta," kata dia.
Baca Juga: Curah Hujan Masih Tinggi, BMKG Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca di Jakarta hingga 22 Januari
Sementara itu, penerbangan ketiga diarahkan ke wilayah Kabupaten Bekasi. Penyemaian dilakukan pada ketinggian 5.000–7.000 kaki dengan menggunakan 800 kilogram kalsium oksida (CaO) guna menekan intensitas awan hujan dari wilayah timur yang berpotensi mempengaruhi kondisi cuaca Jakarta.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya peningkatan potensi cuaca ekstrem. Deputi Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menyebut kondisi atmosfer pada Rabu ini menunjukkan indikasi yang lebih berat dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
"Hari ini, 21 Januari, prediksi cuaca lebih ekstrem dibandingkan tanggal 12 dan 18 Januari lalu pada saat terjadinya banjir di Jakarta," katanya.
Budi menambahkan, berdasarkan prakiraan cuaca ke depan, tingkat risiko masih berada pada kategori menengah. Oleh karena itu, pelaksanaan OMC untuk sementara direncanakan berlangsung hingga 22 Januari 2026 sebagai langkah antisipatif menghadapi dinamika cuaca ekstrem di wilayah Jabodetabek.
Berita Terkait
-
Curah Hujan Masih Tinggi, BMKG Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca di Jakarta hingga 22 Januari
-
BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah Indonesia hingga Akhir Januari 2026
-
Komisi A DPRD DKI Soroti 'Timing' Modifikasi Cuaca Jakarta: Jangan Sampai Buang Anggaran!
-
Kudus Dikepung Banjir
-
Seluruh Titik Banjir di Jakarta Telah Surut, BPBD Tetap Imbau Warga Waspada
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
Terkini
-
Iran Tegaskan Persatuan Nasional di Tengah Ketegangan dengan Amerika Serikat
-
Harga LPG 12 Kg Melejit, Pemprov DKI Pantau Inflasi dan Wanti-wanti Tak 'Panic Buying'!
-
Satu Komando Lawan Agresi: Balasan Menohok Iran atas Retorika Pecah Belah Donald Trump
-
Harga BBM di Vietnam Turun, Pemerintah Perpanjang Insentif Pajak Impor Hingga Juni 2026
-
KPAI Desak Pemerintah Terapkan Cukai Minuman Manis, Soroti Dampak Industri ke Anak
-
PBB Soroti Eksekusi Mati Kasus Narkoba di Singapura, Dinilai Tak Sejalan dengan HAM
-
Vietnam dan Korea Selatan Sepakati Belasan Kerja Sama, Fokus Teknologi hingga Energi Nuklir
-
Aktivis Palestina Alami Luka Serius Akibat Taser Polisi dan Palu Saat Gerebek Pabrik Senjata
-
China Desak Kamboja Berantas Tuntas Scam Center, Wang Yi: Harus Dihapus Sepenuhnya
-
Gedung Putih Mencari Benang Merah di Balik Kematian Jenderal dan Ilmuwan Nuklir AS William McCasland