Deputi Direktur Amnesty International Kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik Yosef Roy Benedict [suara.com/Nikolaus Tolen]
Deputi Direktur Amnesty International Kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik Yosef Roy Benedict menilai sikap pemerintah Myanmar tidak konsisten terhadap persoalan yang menimpa etnis Rohingya di Rakhine State.
"Kami lihat langkah-langkah yang mereka lakukan ini tidak cukup sampai sekarang. Mereka pada awalnya menolak apa yang terjadi di daerah Rakhine, tapi sekarang apa yang mereka bilang, ini adalah orang-orang Rohingya yang bakar rumah-rumah mereka sendiri," kata Yosef di kantor Amnesty International Indonesia, Jalan Probolinggo, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (15/9/2017).
Yosef menekankan Amnesty International sudah memiliki bukti yang berada di belakang masalah etnis Rohingya adalah militer Myanmar, selain kelompok kepentingan yang lain.
"Ini sudah jelas dibuktikan, jadi mereka harus memerintahkan kepada militer harus menghentikan kekerasan dengan secepatnya dan memastikan ada bantuan kepada komunitas-komunitas Rohingya yang ada di dalam Rakhine, yang belum bisa keluar," kata Yosef.
Yosef mengatakan kekerasan terhadap etnis Rohingya sudah berlangsung sejak bertahun-tahun yang lalu, tetapi tidak diselesaikan pemerintah Myanmar.
"Di belakang isu ini adalah sistem persekusi dan diskriminasi terhadap Rohingya yang sudah berlangsung bertahun-tahun di sana. Dan kalau sampai isu ini tidak diselesaikan oleh pemerintah Myanmar, isu ini tidak akan berhenti. Karena ada satu rancangan yang jelas untuk mengusir orang-orang Rohingya dari Myanmar," kata Yosef.
Yosef memuji sikap pemerintah Indonesia yang aktif menggalang dukungan internasional untuk menangani persoalan di negara itu.
"Tapi, tidak ada koordinasi antara negara-negara Asean yang lain untuk melakukan mungkin satu pertemuan yang darurat. Itu sebenarnya sangat penting. Dan harus memastikan suara-suara dari pemerintahan Indonesia bisa didengar di Myanmar," katanya.
"Yang terpenting adalah mereka harus menghormati HAM, itu yang paling penting dan pastikan ada bantuan kemanusiaan. Memastikan akses terhadap tim PBB yang bekerja untuk mencari fakta, sampai sekarang belum mendapatkan akses ke Myanmar," Yosef menambahkan.
"Kami lihat langkah-langkah yang mereka lakukan ini tidak cukup sampai sekarang. Mereka pada awalnya menolak apa yang terjadi di daerah Rakhine, tapi sekarang apa yang mereka bilang, ini adalah orang-orang Rohingya yang bakar rumah-rumah mereka sendiri," kata Yosef di kantor Amnesty International Indonesia, Jalan Probolinggo, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (15/9/2017).
Yosef menekankan Amnesty International sudah memiliki bukti yang berada di belakang masalah etnis Rohingya adalah militer Myanmar, selain kelompok kepentingan yang lain.
"Ini sudah jelas dibuktikan, jadi mereka harus memerintahkan kepada militer harus menghentikan kekerasan dengan secepatnya dan memastikan ada bantuan kepada komunitas-komunitas Rohingya yang ada di dalam Rakhine, yang belum bisa keluar," kata Yosef.
Yosef mengatakan kekerasan terhadap etnis Rohingya sudah berlangsung sejak bertahun-tahun yang lalu, tetapi tidak diselesaikan pemerintah Myanmar.
"Di belakang isu ini adalah sistem persekusi dan diskriminasi terhadap Rohingya yang sudah berlangsung bertahun-tahun di sana. Dan kalau sampai isu ini tidak diselesaikan oleh pemerintah Myanmar, isu ini tidak akan berhenti. Karena ada satu rancangan yang jelas untuk mengusir orang-orang Rohingya dari Myanmar," kata Yosef.
Yosef memuji sikap pemerintah Indonesia yang aktif menggalang dukungan internasional untuk menangani persoalan di negara itu.
"Tapi, tidak ada koordinasi antara negara-negara Asean yang lain untuk melakukan mungkin satu pertemuan yang darurat. Itu sebenarnya sangat penting. Dan harus memastikan suara-suara dari pemerintahan Indonesia bisa didengar di Myanmar," katanya.
"Yang terpenting adalah mereka harus menghormati HAM, itu yang paling penting dan pastikan ada bantuan kemanusiaan. Memastikan akses terhadap tim PBB yang bekerja untuk mencari fakta, sampai sekarang belum mendapatkan akses ke Myanmar," Yosef menambahkan.
Tag
Komentar
Berita Terkait
-
Di Balik Jeruji Besi: Nasib Tragis Ratusan Pengungsi Rohingya di Penjara Bangladesh
-
Ini Alasan Warga Aceh Tidak Ingin Menerima Pengungsi Rohingya
-
Puluhan Pengungsi Etnis Rohingya Dipindahkan dari Gedung PMI ke Kantor Bupati Aceh Barat, Mengapa?
-
Masa Depan Pengungsi Rohingya di Tanah Rencong, Sempat Ditolak Dua Kali Warga
-
Asal-usul Pengungsi Rohingya: Alami Persekusi di Myanmar dan Ditolak di Aceh
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 5 Cat Rambut yang Tahan Lama untuk Tutupi Uban, Harga Mulai Rp17 Ribuan
Pilihan
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
Terkini
-
KPK Ungkap Akal Bulus Korupsi Pajak PT Wanatiara Persada, Negara Dibobol Rp59 M
-
5 Fakta OTT Kepala Pajak Jakut: Suap Rp6 Miliar Lenyapkan Pajak Rp59 Miliar
-
Megawati Tiba di Rakernas PDIP, Siapkan Arahan Tertutup Usai Disambut Prananda Prabowo
-
Gus Yaqut Tersangka Skandal Haji, Tambah Daftar Panjang Eks Menteri Jokowi Terjerat Korupsi
-
Konsisten Tolak Pilkada Lewat DPRD, PDIP: Masa Hak Rakyat Bersuara 5 Tahunan Mau Diambil?
-
Pakar Klarifikasi: Bongkar Tiang Monorel Rasuna Said Hanya Rp300 Juta, Bukan Rp100 Miliar
-
Selamat Tinggal Rompi Oranye? KPK Tak Akan Lagi Pamerkan Tersangka Korupsi di Depan Kamera
-
PDIP: Kami Penyeimbang, Bukan Mendua, Terungkap Alasan Ogah Jadi Oposisi Prabowo
-
Subuh Mencekam di Tambora: Api Amuk 15 Bangunan, Kerugian Tembus Rp1,7 Miliar
-
Trump Dikabarkan Kirim Operasi Khusus Militer AS untuk 'Caplok' Greenland