Suara.com - Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menyebutkan tuujuh agenda reformasi TNI yang belum dituntaskan Presiden Joko Widodo.
Satu, reformasi sistem peradilan militer, yaitu UU Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer.
Kedua, restrukturisasi Komando Teritorial. Walaupun dwifungsi sudah dihapus, realitanya eksistensi Koter semakin mekar dengan adanya provinsi atau kabupaten baru di Indonesia.
Ketiga, rancangan regulasi dan kebijakan keamanan yang mengancam demokrasi Indonesia. Ada beberapa celah yang membuat TNI bisa hadir dalam ranah sipil.
Keempat, konflik antar anggota TNI-Polri perlu diselesaikan dengan cara memperbaiki kesejahteraan anggota, edukasi, komunikasi, dan evaluasi kritis.
Kelima, tansparansi dan akuntabilitas pengadaan alutsista, karena alutsista yang dibeli terkadang di bawah standar, tidak sesuai yang dibutuhkan, dan diwarnai keterlibatan pihak ketiga. Oleh karena itu pemerintah harus mendorong peran lembaga independen, seperti KPK untuk mengatasi masalah ini.
Enam, kekerasan TNI terhadap masyarakat sipil dan pembela HAM dengan yang cara represif.
Tujuh, peningkatan kesejahteraan prajurit TNI untuk pengadaan alutsista, SDM yang profesional, dan terbatasnya rumah dinas anggota TNI.
Tujuh poin tersebut disampaikan dalam konferensi pers di kantor Imparsial, Rabu (4/10/2017), dengan tema reformasi militer.
Acara ini diikuti oleh Direktur Imparsial Al Araf, Wakil Direktur Ghufron Mabruri, Koordinator Peneliti Imparsial Ardi Manto Adipura, dan Direktur Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat Wahyudi Fajar. (Marcella Oktania)
Tag
Berita Terkait
-
Ahli Psikologi TNI Bongkar Profil 4 Penyiram Air Keras Andrie Yunus: Kemampuan Analisa Rendah
-
Cari Keadilan! Keluarga Korban Kekerasan TNI Serahkan Kesimpulan Gugatan UU Peradilan Militer ke MK
-
Membedah Pola Pikir Anggota BAIS TNI Penyiram Air Keras Andrie Yunus
-
Motif 'Sakit Hati' Gugur di Persidangan! TAUD: Serangan ke Andrie Yunus Itu Operasi, Bukan Dendam
-
Letjen Robi Herbawan Ditunjuk Jadi Kabais TNI
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Sama-sama di KPK, Gus Yaqut Kirim Salam untuk Mensos Gus Ipul Sebelum Kembali ke Rutan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Anggota DPR Minta Hukuman Maksimal untuk Pengasuh Ponpes Pati Tersangka Pencabulan Santriwati
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
Gus Ipul Sambangi KPK, Minta Pengawasan Pengadaan Barang Kemensos agar Bebas Korupsi
-
Kebakaran Rumah di Tanjung Barat, Satu Orang Meninggal Dunia: Diketahui Anggota BPK
-
Ahli: Virus Hanta di Kapal MV Hondius Tidak Berisiko Menjadi Pandemi Baru Seperti Wabah COVID-19
-
Tersangka Kasus Pencabulan di Pati Ditangkap, Menteri PPPA: Tak Bisa Diselesaikan Damai!
-
WHO Tegaskan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Bukan Awal Pandemi Baru
-
Tersangka Pencabulan Santriwati di Ponpes Pati Sempat Kabur, Menteri PPPA Desak Penahanan