Suara.com - Mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Moeldoko menyesalkan banyaknya kabar hoaks bahwa Patung Pahlawan—atau lebih beken disebut Patung Tani—di Jakarta Pusat merupakan simbol Partai Komunis Indonesia (PKI).
Bahkan, terdapat kelompok tertentu yang berkampanye di media sosial untuk merobohkan patung tersebut. Moeldoko menegaskan, setiap orang tak boleh membelokkan sejarah.
"Jangan ada upaya mengubah sejarah. Patung Tani itu adalah Patung Pahlawan sebenarnya. Jadi jangan dimaknai lain-lain," kata Moeldoko dalam sebuah kuliah umum bertajuk 'Membaca Indonesia; TNI dan Politik Negata' di kantor Para Syndicate, Jalan Wijaya Timur III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (4/10/2017).
Dia menjelaskan, Patung Tani itu merupakan simbol pahlawan perjuangan membebaskan Irian Barat (Papua) dari Belanda pada era Presiden Soekarno.
Maka dari itu, kata dia, masyarakat harus tahu sejarah dan jangan mudah terprovokasi oleh isu-isu yang mengaburkan.
"Jangan lupa sejarah," tegasnya.
Moeldoko menceritakan, dulu saat dirinya menjabat Pangdam Tanjung Pura, juga pernah ada kejadian yang sama.
Ketika itu., ada sekelompok organisasi radikal yang memprovokasi masyarakat untuk merobohkan tugu berupa Patung Naga di Singkawang.
Baca Juga: Nenek Usia 75 Tahun Tewas, Tangan Terikat Mulut Dilakban
Patung itu hendak dirobohkan, karena dianggap sebagai patung berhala dan simbol pemujaan orang kafir. Padahal, tugu tersebut merupakan warisan budaya yang sejak lama terbangun.
"Jadi di sana arsitekturnya China dibangun tugu ular yang terletak di perempatan, lalu ada kelompok tertentu yang ingin menghancurkan patung itu. Ketika itu saya sampaikan tidak boleh, karena Singkawang itu punya spesifikasi bangunan seperti itu jauh sebelum kita lahir. Itu simbol budaya, seni, kenapa diusik," tuturnya.
Karenanya, jenderal purnawirawan bintang empat ini mengatakan, Indonesia adalah bangsa yang ditakdirkan beragam secara keyakinan, agama, suku dan lainnya. Hal itu tidak boleh diubah.
"Semuanya ditakdirkan hidup plural di Indonesia. Plural secara fisik, plural secara keyakinan, tapi tidak boleh plural secara ideologi. Kita telah sepakati hanya ada satu ideologi negara, Pancasila," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
Promo Belanja di Yomart, Ada Diskon Spesial dari BRI
-
Investasi Bertebar Promo Hanya di BRImo
-
5 Trik Pakai Sunscreen Sesuai Arahan Dokter agar Flek Hitam Pudar dan Wajah Glowing
-
5 Zodiak yang Paling Suka Ghosting dan Tiba-Tiba Hilang Tanpa Kabar
-
Di Depan Penyakit, Tak Ada Nasionalisme yang Lebih Penting dari Kesembuhan
-
Eks Ketua Yayasan Sekolah Swasta di Jakarta Selatan Buka Suara Soal Temuan 995 Pucuk Senjata Api
-
Zulhas Goda Kepala BGN Sudaryono: Belum Sebulan Menjabat Sudah Turun Berapa Kilo?
-
Ratusan Dapur MBG Tangerang Belum Layak Sanitasi, BGN Ancam Tutup Permanen
-
Tangis Bayi yang Mendadak Senyap: Tragedi di Kamar Kos Mahasiswi Kedokteran Hewan Surabaya
-
Lelang Batubara Ilegal Hasilkan Rp20,97 Miliar untuk Kas Negara